Hujan Air Mata
By: Arif Agus Bege'h
Menghitung waktu dengan jari manis
hingga membaca pun tanpa makna
tak menulis karna berharap
kini dirimu telah usai dipelukan sang raja
permaisuri pun menertawakanku
para mentri berpestapora
dan panglima mehunus pedangnya
seakan terbangun dalam mimpi buruk
namun nyata menyelimuti kesedihan,
tentukan nasib atau menanti kajabaiban,
salahkan hujan yang menanam benih,
benih air dan mata
siapakah yang bisa membuangmu
siapa pula yang mampu memisahkanmu dari tragedi atau hujan
apakah tragedi hanyalah kenangan
atau sejarah dalam ketulusan cinta
dan aku takkan dapat menggores namamu
di setiap sajak sajak yang tak bermakna di mata mereka
karena kau telah diberi nama fitra
air
beranjaklah menggapai tangga keempat hingga lima nan pasti
dalam hitungan makna yang akan kau tempuh
hilangkan benci pada jiwa sang raja
raja yang kalah oleh permaisurinya
sungguh dirimu memanggil adik pada mata
dan kau pun kuberi nama Nur Arifah Saputri
mata
kau hanyalah tragedi kebahagiaan
meski air menghalangi pandangan mata
namun kalian adalah buah dan jantung hati
tak terpisah oleh apapun meski bentunturan atau tiga ketukan
bahkan pemilik istana sekalipun
dan kaupun kuberi nama Nur Jumanah Dwiputri
sungguh bercahaya dalam makna dan nyata
meski gelap pada hujan, atau berkilau pada mata
namun gemerlap pada mata, hingga teriakannya tak pernah menggelegar
tak sanggupmu menerobos hujan meski asa selalu
namun tragedi takluk di pangkuanmu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai makna cahaya terdahulu
sampai kapan cahaya tak sampai pada ujung harapan
hingga saat air dan mata mencari hujan
tragedi berakir dalam kehausan makna sejati
cinta memberi pilihan
cinta memberi pertanyaan
jawabanmu pada hujan
hujan air mata
Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009
AAB - Puisi Hujan Air Mata
0Puisi Kesedihan Palsu adalah puisi perdana dan pertama kali saya bacakan di acara perpisan SMA Negeri Pangale, selepas membacakan puisi tersebut foto barengpun dilakukan karena mereka tidak sempat mengambil gambar saat saya membacakan puisi tersebut. Satu dari empat personil Lagu Senja Di Jembatan Tarailu tidak ikut karena jadi korban pengambilan gambar, tapi penyanyinya tu yang di sampingku, cantikkan..he he he..ke TKP saja deh...
By : Arif Agus Bege'h
esok
berjuta manusia menangis, meratap
dengan datangnya hari yg penuh bahagia (Idhul Adha)
entah apa yang mereka tangisi
bingung aku jadinya
kutak lagi brsedih
sebab mereka telah memberikan lautan air mata
meneggelamkan ketulusan
keikhlasan
kesucian
ahh
paling hanya esok saja mereka menangis
tangisanmu menodai lautan kesedihan
air mata kepura-puraan
kebohongan
kemunafikan
uuuaakkk
muak aku jadinya
tak ingin seperti mereka
menangis di balik tirai bersulam emas
bermahkota mutiara
airmataku saat ini kering tak dapat menetes
tapi jantungku
hatiku
jiwaku
ragaku
arwahku
menjerit bagaikan petir yang tak dapat menurunkan hujan di malam dan siang hari
mengapa kau menangis
cuiih....
tak sudi kuminum airmata buaya
meskipun kau bersedih dan menangis aku tetap di sini
dan dunia akan baik-baik saja
kutelah memaafkanmu sebelum kalian meminta maaf
sebab aku adalah angin aku adalah air
disini kalian tak berbekas
Tarailu Sul-Bar, 26/11/2009
kutelah memaafkanmu sebelum kalian meminta maaf
sebab aku adalah angin aku adalah air
disini kalian tak berbekas
Tarailu Sul-Bar, 26/11/2009