AAB - Belati Di Tanganmu

Belati Di Tanganmu
By: Arif Agus Bege'h


Belati sudah di tanganmu
dadaku telah terbuka
jarak kita setipis embun

​Hujamkan saja jika mau
tanpa ragu
tanpa jeda
aku takkan mundur

​Semua pelindung telah kubuang
kulit dan daging ini milikmu
silakan pilih caranya


Tarailu Sul-Bar, 10/12/2009

AAB - Pion

Pion
By: Arif Agus Bege'h 

Langkah kecil di garis depan
menatap badai tanpa perisai
tak ada jalan untuk pulang
sebab mundur adalah tabu

Rela tergerus di hening laga
membuka ruang bagi yang besar
menjadi benteng yang tak kasatmata
demi tegaknya sebuah martabat

Namun di ujung garis berdebu
setelah karamnya ribuan ragu
ia yang setia pada komitmen
lahir kembali memegang mahkota.

Tarailu Sul-Bar, 05/12/2009

AAB - Sisa Rindu Semalam

Sisa Rindu Semalam
By: Arif Agus Bege'h


Hangat kopi pagi ini
penawar rindu semalam suntuk
kuseduh doa penuh harap
menjaga api tetap menyala

Di mana engkau bersembunyi?
hadir bersama cahaya surya
terangi setiap langkah kakiku
hingga senja menjemput tenang

Rindu ini masih dingin
perlu dekap hangat nyata
biarlah waktu pun saksi
betapa dalam rasa tertanam

Jangan biarkan aku sendiri
menunggu kabar di ambang
jadilah terang di jalan
menuntun arah menuju pulang

Setiap helai napas ini
adalah sapa untuk dirimu
datanglah saat matahari naik
menyempurnakan hari yang sepi


Tarailu Sul-Bar, 01/12/2009 

AAB - Metafisika Pulang

Metafisika Pulang

By: Arif Agus Bege’h

 

Kita adalah peziarah di dalam waktu

meminjam sekejap napas dari semesta yang kelu

berdiri di atas tanah yang terus menua dan runtuh

membawa raga yang perlahan luruh

 

Waktu adalah arsitek yang sunyi membangun

batas di setiap jengkal ilusi

ketika suara membeku dan ego mencair

kita tersadar, fana adalah muara akhir

 

Sesak ini bukanlah sebuah ketakutan

melainkan benturan kesadaran dan keterbatasan

bahwa setiap entitas yang meruang dalam temu

pasti melebur kembali pada ketunggalan yang rindu

 

Materi akan kembali menjadi debu kosmis

air mata menguap dari sejarah yang tragis

namun substansi jiwa tak pernah benar-benar

mati ia bersemayam dalam doa, melampaui dimensi hari

 

Maka eksistensi ini adalah ruang pengisian

bukan tentang durasi, tapi tentang esensi kebaikan

sebab sebelum takdir menutup pintu tanpa mengetuk 

pastikan jejakmu telah bermakna bagi semesta yang merunduk

 

 

Tarailu Sul-Bar, 29/11/2009

Puisi AAB : Kesedihan Palsu

Puisi Kesedihan Palsu adalah puisi perdana dan pertama kali saya bacakan di acara perpisan SMA Negeri Pangale, selepas membacakan puisi tersebut foto barengpun dilakukan karena mereka tidak sempat mengambil gambar saat saya membacakan puisi tersebut. Satu dari empat personil Lagu Senja Di Jembatan Tarailu tidak ikut karena jadi korban pengambilan gambar, tapi penyanyinya tu yang di sampingku, cantikkan..he he he..ke TKP saja deh...

Kesedihan Palsu

By : Arif Agus Bege'h


esok
berjuta manusia menangis, meratap
dengan datangnya hari yg penuh bahagia (Idhul Adha)
entah apa yang mereka tangisi
bingung aku jadinya

kutak lagi brsedih
sebab mereka telah memberikan lautan air mata
meneggelamkan ketulusan
keikhlasan
kesucian

ahh
paling hanya esok saja mereka menangis
tangisanmu menodai lautan kesedihan
air mata kepura-puraan
kebohongan
kemunafikan

uuuaakkk
muak aku jadinya
tak ingin seperti mereka
menangis di balik tirai bersulam emas
bermahkota mutiara

airmataku saat ini kering tak dapat menetes
tapi jantungku
hatiku
jiwaku
ragaku
arwahku
menjerit bagaikan petir yang tak dapat menurunkan hujan di malam dan siang hari
mengapa kau menangis

cuiih....
tak sudi kuminum airmata buaya
meskipun kau bersedih dan menangis aku tetap di sini
dan dunia akan baik-baik saja

kutelah memaafkanmu sebelum kalian meminta maaf
sebab aku adalah angin aku adalah air
disini kalian tak berbekas


Tarailu Sul-Bar, 26/11/2009

AAB - Berpulang

Berpulang
By: Arif Agus Bege'h


Napas adalah pinjaman
di tanah yang tak kekal
Jejak kita lekas tertinggal
menuju akhir yang final

Suara kini membeku
terkunci dalam sunyi abadi
raga kembali ke asal
menjemput rumah sejati

Sesak adalah sadar
akan batas yang tak terbantah
bahwa temu pasti berujung
pada takdir yang tak bisa dicegah

Air mata akan surut
doa menjadi pelita waktu
menjaga api kenangan
bagi jiwa yang telah berlalu

Hiduplah penuh makna
sebab ajal tanpa permisi
biarkan kebaikan menetap
saat raga selesai mengisi


Tarailu Sul-Bar, 22/11/2009

BIODATA PENULIS



BIODATA PENULIS

Data Pribadi
​Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
​Nama Pena: Arif Agus Bege'h
​Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
​Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni

​Profil Singkat
​Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.

​Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.

​Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.