AAB - Nama Lain Obat
AAB - Manis Yang Terasing
AAB - Nama Lain Cinta
Badai Di Balik Sapu Jagat
AAB - Aku Dan Bayang Kelam
AAB - Balon Lampu Menertawakan Kita
AAB - Menjaga Akar Di Tanah Zaman
AAB - Duri Di Jalan Orang
Duri Di Jalan Orang
By: Arif Agus Bege'h
Keputusan terkunci
pintu telah tertutup rapat
tanpa suara kita
tanpa perlu lagi mufakat
tahu dirilah, saat diri tak lagi dibutuhkan
jangan jadi duri yang sengaja menghambat jalan
Perjalanan punya poros dan tupoksi sendiri
tak perlu menyisip ego merusak alur yang rapi
jika akal masih ada
mestinya kau memahami
bahwa menghalangi orang adalah nista yang hakiki
Langit kelabu
mengundang hujan jatuh ke bumi
menyapu angkuh yang angkuh dan sisa-sisa benci
biarkan mereka melaju tanpa hambatan tanganmu
sebab menjadi manusia adalah tentang tahu malu
Di ujung sesal
akhirnya jatuhlah airmata
tentang etika yang hilang di balik pintu nyata
menyingkirlah dari jalur yang bukan hakmu
sebab duri hanyalah sampah di tengah jalan ilmu
Cukupkan langkah
kembali pada porsi dirimu
biarkan mereka tenang mengejar hari yang baru
karena hidup adalah tentang menjaga tata
bukan berkuasa dengan cara yang hina semata
Masamba Sul-Sel, 13/11/2023
AAB - Tanpa Penundaan
By: Arif Agus Bege'h
Seberapa keras pun napas dihela dalam perjuangan
ketika garis takdir telah menjemput
segala daya manusia akan menjadi sunyi
Tidak ada pintu yang bisa menunda ajal
tidak ada ruang untuk negosiasi dengan waktu
Di ambang kepasrahan itu
jangan biarkan imanmu retak hanya karena merasa terabaikan
Jangan mencari kesalahan pada mereka yang tidak mengulurkan tangan
sebab pada akhirnya
semua akan kembali sendiri-sendiri
ke hadapan-Nya.
Jakarta, 20/10/2023
AAB - Cermin Di Jalan Setapak
Sajak Mantera Jiwa
AAB - Gema Lidah
AAB - Gugatan Ketulusan
Sajak Di Balik Topeng Kata
AAB - Menakar Jejak
By: Arif Agus Bege'h
Ada yang merangkak dari palung sepi
menukar malam dengan peluh yang legam
darah dan air mata membasahi jemari
menjadi fondasi yang dipaksa tegak
demi menjemput sebaris harapan
Ada yang memeluk takdir kemudahan,
melangkah di atas karpet bentangan
uluran tangan karib atau warisan masa lalu
menjadi sayap yang menerbangkan langkah
tanpa perih sebutir kerikil
Puncak tak pernah bertanya tentang awal
ia hanya tempat angin menguji ingatan
di titik tertinggi yang dingin itu
segala megah genggaman dunia
meluruh menjadi pertanggungjawaban
Bukan seberapa tinggi tempatmu berdiri
melainkan ke mana arah tangan setelah menggenggam
dunia ruang singgah yang teramat singkat
setiap remah materi yang kau bawa
kelak menagih jawaban di keabadian
Harta yang dipetik dari ranting suci
dirawat syukur yang senantiasa membumi
akan menjelma ketenteraman jiwa
membawa kedamaian yang menembus waktu
hingga ke seberang liang lahat
Mahkota yang kau beli dari cawan dosa
ditebus tangis hak yang kau rampas
lalu telunjukmu pongah menantang langit
menjadi jubah emas untuk merendahkan
mereka yang tertatih di bawah
Kemewahan itu sebatas fatamorgana
perhiasan semu yang menjerat leher
setiap tepuk tangan yang kau telan
berubah menjadi bara pembakar dada
menyeret jiwa ke lembah nista
Kesuksesan sejati bukan penuhnya saku
bukan pula riuh nama yang diagungkan
ia adalah ketundukan sebuah hati
yang tahu cara berbagi tanpa meninggi
menjaga langkah tetap membumi
Di ujung hari yang meredup
mari merakit kembali doa tulus
semoga segumpal daging di dada
dibersihkan dari karat penyakit hati
agar pulang dalam pelukan kedamaian
Mamuju Sul-Bar, 02/07/2023






