AAB - Nama Lain Obat

Nama Lain Obat
By: Arif Agus B


Setiap teknologi
lahir bersama buku panduan
agar tetap terawat

Manusia pun
tak dibiarkan tanpa petunjuk
Tuhan menurunkan kitab
mengajarkan
cara merawat diri
dan menyembuhkan jiwa

Demam tak selalu membakar tubuh
kadang ia bersemayam di dalam pikiran
menjadi gelisah yang tak kunjung reda

Manusia menciptakan banyak penawar
paracetamol
ibuprofen
aspirin
deksametason
namun setiap obat
sejatinya adalah racun
yang dijinakkan oleh takaran

Salah dosis
salah resep
ia tak lagi jadi sahabat
melainkan musuh yang perlahan merusak tubuh

Begitu pula hidup
segala yang melampaui batas
sering berubah menjadi petaka

Lalu Tuhan
membentangkan alam
dengan akar
batang
ranting
daun
buah
bunga
umbi
rumput
air
udara
dan cahaya
bahkan dari mulut lebah
Tuhan menitipkan madu
penawar setia merawat luka

Di sanalah
tubuh mengeja pulih
hati belajar sabar
tanpa kehilangan harapan

Sebab pada akhirnya
penyembuh bukan sekadar obat
melainkan izin Tuhan
yang bekerja melalui ikhtiar
alam
dan kesabaran


Mamuju Sul-Bar, 25/12/2023

AAB - Manis Yang Terasing

Tulisan ini adalah sisa-sisa dari kejujuran yang sering kali salah dipahami oleh mereka yang hanya melihat permukaan. Di sini, saya tidak menawarkan kesempurnaan, melainkan sebuah rekaman tentang bagaimana tetap berdiri di bawah terik, meminum manisnya perjuangan sendiri, dan belajar berdamai dengan mereka yang pura-pura buta. Selamat menyelami fragmen-fragmen yang mungkin terasa asing, namun sangat nyata bagi jiwa yang pernah terluka.

Manis Yang Terasing
By: Arif Agus Bege'h


Botol berisi peluh
mereka nilai tanpa tahu
padahal di balik teguk
luka menganga membisu

Keluarga palsu berlakon
buta saat aku karam
hanya datang mencari untung
pergi saat aku kelam

Tak butuh pengakuan
biar manis ini milikku
di bawah terik yang kejam
cukup Tuhan dan jiwaku


Mamuju Sul-Bar, 20/12/2023

AAB - Nama Lain Cinta

Nama Lain Cinta
By: Arif Agus B


Setiap benih
tumbuh perlahan
karena bumi
setia memeluknya

Tak ada pohon
berbuah lebat
tanpa lebih dulu
menguatkan akar

Begitu pula cinta
ia tak lahir
dari kata-kata
melainkan perhatian
kepercayaan
kesetiaan
pengorbanan
dan doa yang terus dipelihara

Namun
tak semua yang disebut cinta
mampu menjaga
ada yang memeluk
karena ingin memiliki
ada pula
yang melepaskan
karena ingin
membahagiakan

Begitulah cinta
semakin dewasa
ia semakin sunyi dari tuntutan
dan semakin ramai
oleh ketulusan

Lalu Tuhan
mengajarkan manusia
melalui ibu
ayah
anak
sahabat
pasangan
tetangga
orang asing
bahkan mereka yang pernah melukai
agar manusia belajar
bahwa cinta bukan sekadar
rasa yang datang
melainkan pilihan
untuk tetap berbuat baik

Sebab pada akhirnya
cinta bukan tentang
siapa yang paling dicintai
melainkan siapa yang
paling mendekatkan hati
kepada Tuhan


Mamuju Sul-Bar, 15/12/2023

Badai Di Balik Sapu Jagat

Badai Di Balik Sapu Jagat
By: Arif Agus Bege'h

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Bismillahirrahmanirrahim
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina 'adzabannar.

Dengan nama-Mu aku melangkah,
Sang Pengalir Samudra Kasih, Sang Peneduh Jiwa dalam Dekapan Sayang.

Ya Tuhan Pencipta Semesta
hamparkanlah indahnya sekuntum bahagia di taman dunia kami,
dan binalah mahligai damai abadi di akhirat nanti
jagalah jiwa-jiwa yang rapuh ini
bentengilah kami dari jilatan api neraka yang menyala

Kini hamba mengadu hanya kepada-Mu:
bagaimana di dunia ini aku bisa tenang dengan kebahagiaan ini, ya Allah?
bagaimana?

Seorang hamba datang bersimpuh di hadapan-Mu
hadir sebagai pemandu syariat
pemandu tarikat
pemandu hakikat
dan pemandu makrifat

Sedangkan di luar sana
mereka menantangku dengan syariat
menghujamku dengan tarikat
menyayatku dengan hakikat
bahkan tak ragu mengancam dan berniat membunuhku dengan makrifat
bagaimana aku bisa tenang dengan kebahagiaan ini, ya Tuhanku?
bagaimana?

Lalu kami datang sebagai pemandu huruf dan angka
pemandu kata dan kalimat
pemandu tulis dan baca
menjadi pemandu adalah kebahagiaan yang kuukir dalam mimpi sejak kecil

Tetapi mereka kembali datang
menantangku dengan huruf
menghujamku dengan angka-angka
menyayatku dengan kata-kata
serta tak ragu mengancam dengan kalimat yang mereka tulis dan bacakan
di hadapan para kekasih-Mu
atau mungkin langsung di hadapan-Mu
bagaimana aku bisa bahagia dalam ketenangan ini
ya Tuhanku?
bagaimana?

Kami pun datang
belajar menenangkan diri melalui syiar, syair, puisi, dan sajak
menumpahkan segala resah yang selalu menghalangi bahagia masuk ke kalbu

Tapi mereka justru menganggapku musuh
atau mungkin mereka lupa
aku ini baru hendak belajar menulis
butuh teman seiring jalan bukan lawan yang harus diperangi

Jika setiap langkah yang kuambil selalu berbenturan
lalu bagaimana aku bisa menemukan ketenangan?
bagaimana aku bisa merengkuh kebahagiaan?
atau memang tak pernah ada ketenangan
dan kebahagiaan sejati di dunia ini

Doa sapu jagat kulangitkan
sebagai jalan menuju bahagia
rupanya menyimpan badai
bisa melumat damai jiwa yang lain

Di balik pekatnya noda dan hanyutnya dosa
aku bersimpuh, ya Allah
kuatkan aku ya Rabb
kokohkan tiang ikhlas di palung sukmaku
agar jemariku tak lagi gemetar saat membalik lembar demi lembar
alur naskah agung yang mengalir dalam takdir-Mu

Semoga Rahmat-Nya senantiasa memelukku
meluruhkan riuh di antara buruk dan baik yang kerap beradu
agar hati kembali sunyi
menemukan damai dalam rengkuhan-Nya yang Satu

Aamiin.


Mamuju Sul-Bar, 27/11/2023

AAB - Aku Dan Bayang Kelam

Aku Dan Bayang Kelam
By: Arif Agus Bege'h


​Di depan cermin buram yang retak dan berdebu,
aku berdiri tegak menatap bayanganku
netra ini dipaksa melihat segumpal noda
pada raga yang begitu angkuh berkepala batu
yang hingga detik ini
masih saja gemar berdosa
mengapa hati selalu kalah oleh rayuan semu?

​Lidahku dengan tajam kerap menoreh luka
menyayat hati sesama tanpa rasa iba
tangan ini pun ringan menggenggam yang mungkar
meraba dunia seolah esok takkan tiada
semua hitam itu kini berkumpul dan menjalar
membuat lentera nurani meredup
perlahan sirna

​Lalu bayang kelam berbisik "Dosamu menggunung, kau milikku!"
Aku langsung bersujud menepis bisikannya
"Tidak! Ampunan Tuhan pasti kudapatkan!"
Dar! 

Hssst!
Iblis lenyap mendesis murka kalah oleh nurani yang teguh

​قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
​Qul yā 'ibādiyallażīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunūba jamī'ā, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.

​"Wahai hamba yang terpasung noda, jangan berputus asa dari rahmat Allah yang luas. Sungguh, Dialah Maha Pengampun segala dosa, Zat Maha Pengasih yang memelukmu dengan cinta tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 53)

​Cermin mungkin jujur memperlihatkan retak dan nodamu
tapi taubat yang tulus selalu mampu membasuh jiwa di hadapan Tuhan


Mamuju Sul-Bar, 25/11/2023

AAB - Balon Lampu Menertawakan Kita

Balon Lampu Menertawakan Kita
By: Arif Agus B


Mereka mengadakan rapat besar-besaran
agenda utamanya sederhana
mengusir semua yang berlabel negatif
seolah hidup bisa disterilkan seperti ruang operasi
seolah langit pernah berjanji
hanya akan menurunkan cuaca yang menyenangkan

Aku membawa sebuah balon lampu ke podium
ia tidak pandai berpidato
ia hanya diam sambil menggantung
tetapi diamnya lebih memalukan
daripada ribuan seminar yang menjual kiloan optimisme

Balon lampu itu seperti bertanya
"kalian ingin cahaya?"
"ha ha ha"
"lalu mengapa kalian memecat kutub yang kalian hina?"
"kalian ini aneh bin ajaib"
"kalian punya otak, tapi selalu menindas hatimu sendiri"
balon lampu itu menertawakan kita
ha ha ha

Betapa lucunya manusia
kegagalan disebut aib
air mata dianggap kebocoran karakter
kesalahan diperlakukan seperti sampah
lalu bingung
mengapa jiwanya gelap
meski rumahnya penuh slogan

Paku tidak pernah protes karena dipukul
pisau tidak marah karena terus diasah
benih tidak melaporkan tanah
kepada pengadilan karena dikubur
hanya manusia
berharap panen tanpa musim yang melelahkan
ha ha ha 

Kalian ingin laut tanpa ombak
gunung tanpa tanjakan
kitab tanpa ujian
doa tanpa penantian
lalu menyebut semua itu
sebagai definisi kehidupan yang sehat
ha ha ha

Balon lampu kembali tersenyum tipis
katanya
yang berbahaya bukan kutub negatif
yang berbahaya adalah rangkaian terputus
sebab kesombongan
lebih sering memadamkan cahaya
daripada kesedihan

Mungkin masalahnya
bukan pada hal-hal yang kalian sebut negatif
mungkin yang rusak
adalah cara kalian memberi nama
kalian menyebut proses sebagai hukuman
menyebut teguran sebagai kebencian
menyebut jeda sebagai kegagalan
ha ha ha

Jadi
sebelum sibuk mengusir segala kepahitan
cobalah bertanya kepada balon lampu
ia tidak pernah memilih hanya satu kutub
ia hanya setia menjalankan perannya
mengubah perbedaan menjadi cahaya


Mamuju Sul-Bar, 22/11/2023

AAB - Menjaga Akar Di Tanah Zaman




"Di tengah arus zaman yang menderu, tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan kompas bagi perjalanan kita. Puisi-puisi ini adalah napas yang menjaga agar akar bangsa tidak hanyut ditelan waktu."


Menjaga Akar Di Tanah Zaman
By: Arif Agus Bege'h


Perjalanan panjang telah menempuh usia
menyusuri zaman yang terus berubah rupa
kita tidak menolak laju mesin dan baja
namun bukan berarti melupakan jati diri yang terjaga

Hujan turun membasuh debu-debu modernitas
mengingatkan kita pada tanah yang punya identitas
tradisi adalah tepian agar sungai tak meluap liar
tempat akar berpijak agar jiwa tak pernah gusar

Seringkali airmata jatuh melihat tatanan luntur
tergerus ego yang angkuh dan kemajuan yang tak terukur
namun kita masih di sini menenun benang yang tersisa
menyimpan narasi leluhur di dalam dada yang setia

Perubahan itu niscaya
namun jangan sampai hanyut
jika identitas hilang
kita hanya akan menjadi pengembara kalut
mencari rumah di tengah megahnya beton yang dingin
kehilangan arah meski telah sampai ke puncak ingin

Maka biarlah perjalanan ini menjadi bukti nyata
bahwa inovasi dan warisan bisa berjalan seirama
hujan dan waktu akan menguji seberapa kuat kita bertahan
menjaga api tradisi tetap menyala di tengah kegelisahan

Jangan biarkan airmata penyesalan menjadi penutup kisah
karena membiarkan tradisi musnah adalah kekalahan yang parah
jadilah perisai bagi bangsa yang tetap memegang teguh martabat
agar anak cucu masih mengenali wajah negerinya yang keramat

Kita adalah penjaga yang menolak untuk lupa
menjadikan tradisi sebagai kompas di sepanjang masa


Masamba Sul-Sel, 22/11/2023

AAB - Duri Di Jalan Orang


"Puisi ini adalah pengingat bagi siapa saja yang lupa akan posisinya. Tentang keberanian untuk tahu diri, menjaga batas, dan berhenti menjadi penghalang bagi jalan hidup orang lain. Selamat meresapi."


Duri Di Jalan Orang

By: Arif Agus Bege'h



Keputusan terkunci

pintu telah tertutup rapat

tanpa suara kita

tanpa perlu lagi mufakat

tahu dirilah, saat diri tak lagi dibutuhkan

jangan jadi duri yang sengaja menghambat jalan


Perjalanan punya poros dan tupoksi sendiri

tak perlu menyisip ego merusak alur yang rapi

jika akal masih ada

mestinya kau memahami

bahwa menghalangi orang adalah nista yang hakiki


Langit kelabu

mengundang hujan jatuh ke bumi

menyapu angkuh yang angkuh dan sisa-sisa benci

biarkan mereka melaju tanpa hambatan tanganmu

sebab menjadi manusia adalah tentang tahu malu


Di ujung sesal

akhirnya jatuhlah airmata

tentang etika yang hilang di balik pintu nyata

menyingkirlah dari jalur yang bukan hakmu

sebab duri hanyalah sampah di tengah jalan ilmu


Cukupkan langkah

kembali pada porsi dirimu

biarkan mereka tenang mengejar hari yang baru

karena hidup adalah tentang menjaga tata

bukan berkuasa dengan cara yang hina semata



Masamba Sul-Sel, 13/11/2023

AAB - Tanpa Penundaan

Tanpa Penundaan
By: Arif Agus Bege'h


​Seberapa keras pun napas dihela dalam perjuangan

ketika garis takdir telah menjemput

segala daya manusia akan menjadi sunyi


Tidak ada pintu yang bisa menunda ajal

tidak ada ruang untuk negosiasi dengan waktu


​Di ambang kepasrahan itu

jangan biarkan imanmu retak hanya karena merasa terabaikan


Jangan mencari kesalahan pada mereka yang tidak mengulurkan tangan

sebab pada akhirnya

semua akan kembali sendiri-sendiri

ke hadapan-Nya.



Jakarta, 20/10/2023

AAB - Cermin Di Jalan Setapak



"Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


Cermin Di Jalan Setapak
By: Arif Agus Bege'h


Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
lupa bahwa debu yang kita injak
adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
milik mereka yang lelah sebelum sampai

Sesekali, langkah haruslah terhenti
membaca sunyi pada kaki yang pincang
menjadikan retakan di jalan orang lain
sebagai peta agar kita tak tersesat
sebab kesalahan adalah guru yang bisu
ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
menunggu kita mengulang langkah yang sama
di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

Kerendahan hati adalah cara kita menatap
menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
karena pada akhirnya
kita hanya sedang pulang
belajar dari luka yang telah usai
agar tak perlu kita rengkuh kembali


Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023

Sajak Mantera Jiwa


Mau tahu rahasia sebuah ucapan jadi nyata? Simak sajak ini..!

Mantera Jiwa
By: Arif Agus Bege'h


Ia bukan magis yang lahir dari asap dupa,
bukan pula rahasia yang terkubur di balik rupa.
Sebab getaran tertinggi tidak butuh upacara,
ia hanya butuh sebaris niat yang menyala.

Mantera hanyalah pakaian bagi sebuah rasa,
kalimat yang dipilih untuk mengikat masa.
Ketika bibir mengucap dan hati mengiyakan,
di sanalah hukum sebab-akibat mulai berjalan.

Tak perlu altar megah atau malam yang dikeramatkan,
jika jiwa telah bulat dalam satu ketetapan.
Sebab keajaiban tidak tunduk pada dekorasi,
ia patuh pada ketulusan yang murni di dalam diri.

Bahkan jika ia meluncur dari lisan yang tercela,
atau keluar dari pekatnya mulut sang buaya.
Kebenaran dari sebuah janji takkan pernah luntur,
ia tetap tegak, berjalan tanpa bisa diundur.

Kata-kata adalah kontrak yang tak tertulis,
antara tekad manusia dan takdir yang mengiris.
Sekali komitmen sejati telah dikunci,
seluruh semesta bergerak untuk menepati.

Maka jagalah setiap bahasa yang kau lepaskan,
ia bukan sekadar angin yang lewat di keheningan.
Ada daya yang hidup di balik setiap ketukan,
menjadi nyata lewat apa yang kau sepakati kemudian.

Sebab pada akhirnya, kekuatan itu sangat sederhana:
ia adalah janji setia antara kau dan pencipta rasa.
Tak peduli siapa atau bagaimana ia disuarakan,
jika tekad telah mengunci, wujudnya takkan tertahankan.


Mamuju Sul-Bar, 09/09/2023

AAB - Gema Lidah



"Banyak orang mengira lantang berarti menang. Padahal, sering kali suara yang dilepas tanpa saring, justru menjadi bumerang yang menghujam dada sendiri. Sebelum kita berani bersuara keras di depan semesta, kita harus berani menaklukan ego di dalam jiwa. Inilah sebuah pengingat, tentang perjalanan, tentang hujan, dan airmata yang mendewasakan."

Gema Lidah
By: Arif Agus Bege'h


Kutempa nyali di sepanjang perjalanan yang tak menentu
menjaga api dalam dada agar tak membakar diriku sendiri
sebab kata yang lahir dari amarah
hanyalah pisau bermata dua
yang siap berbalik menghujam jantung saat ia lepas dari mulutnya

Langit meredup
hujan menderas membasuh angkuh yang sisa
membersihkan saringan nurani sebelum suara ini kupancangkan
aku belajar menahan diri bukan karena takut pada dunia
namun karena sadar
memaki semesta hanya akan mengotori muka

Di balik airmata yang pernah jatuh membeku di pipi
aku memungut hikmah
bahwa diam adalah benteng yang suci
setiap kata yang tersaring adalah kehormatan yang kujaga
agar tak ada lagi luka yang harus kubayar dengan nestapa

Suaraku kini lantang mengguncang sunyi dengan ketegasan
bukan untuk memantik api tapi untuk menuntaskan ego diri
biarkan gema ini merambat menjadi saksi atas kemenangan
bahwa menguasai lidah adalah kedaulatan jiwa yang tertinggi

Tak perlu riuh rendah
cukup pesan yang menghujam ke sukma
sebab yang lantang bukan sekadar suara
tapi jejak yang nyata


Mamuju Sul-Bar, 18/08/2023

AAB - Gugatan Ketulusan

Gugatan Ketulusan
By: Arif Agus B


Di kedalaman dada yang paling sunyi
harapan selalu lahir dengan pakaian yang sama
sebuah doa agar kekasih yang datang
membawa sekeping hati yang utuh
tanpa topeng
tanpa syarat yang disembunyikan di balik punggung
Kita semua mengemis pada takdir
meminta cinta yang murni seputih mata air
mengira bahwa ketulusan adalah muara
di mana semua lelah dan luka
bisa dibasuh sampai tuntas
Namun dunia ini berjalan di atas meja hitung
setiap inci rasa ditimbang dengan untung
dan mereka yang datang dengan tangan terbuka
sering kali lupa mengenakan perisai
di dadanya yang telanjang
Lalu di sebuah sudut
malam itu
sebuah suara berdenting seperti pecahan kaca
menyuarakan kebenaran yang getir:
"Semua orang berharap kekasihnya tulus mencintai,
karena hanya orang tulus yang mudah dimanfaatkan."
Kalimat itu menggantung di udara Mamuju,
menampar wajah-wajah yang terlalu polos berharap
sebuah kalimat yang bukan sekadar deretan kata
melainkan monumen dari hati yang pernah patah
akibat memberi terlalu banyak
Lihatlah
bagaimana ketulusan diubah menjadi kelemahan
ketika engkau menyerahkan segalanya tanpa sisa
para pencuri kesempatan akan datang berbondong-bondong
menjadikan kebaikanmu sebagai anak tangga
untuk kepuasan ego mereka sendiri
Mereka yang memanfaatkan
mungkin tertawa hari ini
merasa menang karena berhasil mengecoh ketidakberdayaan
tetapi mereka lupa
orang yang tulus hanya kalah pada ruang
bukan pada hakikat kehidupan yang merawat jiwa
Maka biarkan suara ini meninggi
bukan karena amarah yang merusak diri
melainkan sebuah ketegasan yang baru
bahwa menjadi tulus bukan berarti bersedia menjadi korban
dan batas diri adalah benteng yang harus ditegakkan
Pada akhirnya
catatan ini akan tetap abadi
tersimpan di antara lipatan waktu yang terus melaju
bahwa di atas tanah ini
kita pernah belajar
cinta yang agung adalah yang tahu kapan harus memberi
dan tahu kapan harus berhenti
demi menjaga harga diri


Mamuju Sul-Bar, 18/07/2023

Surat Ar-Rahman ayat 60:

Di baca aebelum titimangsa
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
Teks Latin:
Hal jazaa'ul-ihsaani illal-ihsaan.

“Tanyakan pada semesta yang terbentang: adakah upah bagi sebuah ketulusan, selain pelukan kebaikan yang abadi?”

Terjemahan Asli: "Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."

Sajak Di Balik Topeng Kata

 
Sajak ini saya tulis sebagai pengingat, sekaligus kritik tajam bagi mereka yang gemar menebar kata, namun takut memikul konsekuensinya. Inilah: 'Di Balik Topeng Kata'."


Di Balik Topeng Kata
By: Arif Agus Bege'h


Di balik bayang-bayang kau sembunyikan nama
merangkai diksi indah namun penuh dusta
kau biarkan jemari menari tanpa raga
tak berani menatap terang di depan mata

Apa guna sajak jika tak berani diakui?
hanya kepengecutan yang kau bungkus rapi
menyebar racun pikiran di sunyinya sepi
lalu berlari saat badai kritik menghampiri

Penyair sejati memikul beban di pundaknya
menuliskan kebenaran dengan harga nyawanya
namun kau, hanya pengecut yang haus pujian saja
berlindung di balik nama samaran yang sirna

Tak ada kehormatan bagi kata tanpa pemilik
hanya gema kosong yang membuat dunia tergelitik
kau takut dianggap salah, takut terlihat pelik
padahal karyamu hanyalah omong kosong yang picik

Jika tulisannmu adalah kebenaran yang hakiki
Mengapa perlu takut wajahmu dikenal nanti?
Apakah kau sadar betapa menyesatkan ini?
Membawa pembaca ke jalan yang tak kau yakini

Jadilah manusia yang berani menanggung kata
bukan bayang-bayang yang takut pada cahaya nyata
tampilkan namamu, tunjukkanlah siapa sang pencipta
agar karyamu tak sekadar sampah di tengah semesta

Sajak ini bukan untuk memuji keindahan bahasamu
tapi sebuah cermin bagi nyali yang mati dalam ragu
sebab menulis bukan tentang sekadar memburu waktu
tapi tentang tanggung jawab pada tiap bait yang kau restu


Mamuju Sul-Bar, 07/07/2023

AAB - Menakar Jejak


Menakar Jejak

By: Arif Agus Bege'h



Ada yang merangkak dari palung sepi

menukar malam dengan peluh yang legam

darah dan air mata membasahi jemari

menjadi fondasi yang dipaksa tegak

demi menjemput sebaris harapan


Ada yang memeluk takdir kemudahan,

melangkah di atas karpet bentangan

uluran tangan karib atau warisan masa lalu

menjadi sayap yang menerbangkan langkah

tanpa perih sebutir kerikil


Puncak tak pernah bertanya tentang awal

ia hanya tempat angin menguji ingatan

di titik tertinggi yang dingin itu

segala megah genggaman dunia

meluruh menjadi pertanggungjawaban


Bukan seberapa tinggi tempatmu berdiri

melainkan ke mana arah tangan setelah menggenggam

dunia ruang singgah yang teramat singkat

setiap remah materi yang kau bawa

kelak menagih jawaban di keabadian


Harta yang dipetik dari ranting suci

dirawat syukur yang senantiasa membumi

akan menjelma ketenteraman jiwa

membawa kedamaian yang menembus waktu

hingga ke seberang liang lahat


Mahkota yang kau beli dari cawan dosa

ditebus tangis hak yang kau rampas

lalu telunjukmu pongah menantang langit

menjadi jubah emas untuk merendahkan

mereka yang tertatih di bawah


Kemewahan itu sebatas fatamorgana

perhiasan semu yang menjerat leher

setiap tepuk tangan yang kau telan

berubah menjadi bara pembakar dada

menyeret jiwa ke lembah nista


Kesuksesan sejati bukan penuhnya saku

bukan pula riuh nama yang diagungkan

ia adalah ketundukan sebuah hati

yang tahu cara berbagi tanpa meninggi

menjaga langkah tetap membumi


Di ujung hari yang meredup

mari merakit kembali doa tulus

semoga segumpal daging di dada

dibersihkan dari karat penyakit hati

agar pulang dalam pelukan kedamaian



Mamuju Sul-Bar, 02/07/2023