AAB - Tragedi Margono

Tragedi Margono
By: Arif Agus Bege'h


Sawah hijau warisan leluhur mendadak sunyi di fajar buta
pohon-pohon jati pembatas desa berbalut kabut prasangka
jemari legam terbiasa menyemai bulir-bulir harapan
kini dituduh dalang perusak tatanan kemajuan

Hak hidup tergilas aturan sepihak para pemodal
genggaman cangkul di sela jemari gemetar
kini dicap sebagai simbol perlawanan liar
tetes keringat pemakmur tanah sekian generasi
diadili selembar berkas penuh rekayasa keji

Desas-desus busuk merayap masuk ke tiap beranda
gugatan adat diputarbalikkan menjadi tindakan makar
sebuah nama bersih seketika cacat tanpa ruang bicara
terik siang mencekam mengubah ketenangan warga
menjadi tungku bara yang siap melumat paksa hak mereka

Intrik politik menjelma monster besi baja
meruntuhkan impian yang dirawat sekuat tenaga
mereka penikmat ruang ber-AC tak paham kerasnya kerja
begitu mudah menuduh petani sebagai perusak rencana
pagar bambu hancur lebur diterjang keangkuhan penguasa
Brak!

Asap perih menyengat mengungkap wajah-wajah penuh murka
“Seret paksa tua bangka ini! Hancurkan gubuk pembohong ini!”
teriakan keji bergaung membungkam suara kebenaran
“Demi Tuhan, ini tanah pusaka, ini tanah warisan, bukan curian!”
ratapan Margono yang parau
dari celah dinding

Kaum perempuan dan anak-anak menjerit ketakutan
menyaksikan ladang tumpuan hidup digulung mesin-mesin raksasa
debu hitam membubung menyumbat rongga dada
seiring sirnanya rasa iba di hati manusia

Sama sekali tiada kesempatan membela diri
raga tuanya ditarik paksa ke aspal
dihujani pukulan sepatu-sepatu laras yang merasa paling berkuasa
pentungan logam menghantam rusuk ringkihnya tanpa ampun

Darah kental merembes
membasahi tanah kering tak bersalah
mereka bersorak mengatasnamakan kemajuan bangsa
sambil menyiksa rakyat kecil yang didera kebingungan
“Bawa dia! Amankan provokator ini sebelum warga lain terhasut!”
gertak petugas sembari mengunci pergelangan tangannya
ujung laras laras baja menekan tengkuknya ke bumi
memastikan tiada lagi gaung protes berani bangkit

Tubuh lunglai terhempas ke bak kendaraan lalu disekap
petinggi seragam dan cukong tersenyum merayakan kejayaan semu
di sudut ruangan pengap tanpa celah cahaya
Margono mendekap sisa-sisa napasnya kian melemah
tatapannya kosong menembus besi pembatas dengan pasrah
menatap dinding semen yang dingin
mencari setitik ketetapan adil yang sirna di dunia

Ambisi perluasan wilayah kembali menelan korban jelata
menyisakan hamparan ladang gundul tanpa pembela
kini hanya tersisa puing-puing beton
dan isak tangis keluarga kehilangan tulang punggung
di bawah kuasa yang tumpul ke atas tajam ke bawah
riwayat Margono terhapus dalam catatan kelam masa lalu yang keliru


Mamuju Sul-Bar, 21/10/2022

AAB - Tragedi Mukiyah

Tragedi Mukiyah

By: Arif Agus Bege'h



Lantunan zikir tarekat mendadak sunyi di ujung malam

kitab kuning di sudut surau berselimut debu kecurigaan

pengabdian tulus membimbing jemari kecil mengeja Alif-Ba-Ta

kini dituding sebagai racun yang merusak aqidah


Kebenaran dibungkam oleh dogma penguasa mimbar

tasbih yang melingkar di jemari gemetar

kini dianggap mantra pemanggil teluh dan ingkar

kalam baitullah yang mengalir dalam darah

diadili lisan yang penuh amarah


Desas-desus liar merayap dari rumah ke rumah

ajaran batin yang suci diputarbalikkan menjadi aliran  sesat

sebuah nama mulia dikotori heresi tanpa tabayun

malam mencekam mengubah kedamaian kampung

menjadi tungku api yang siap menghanguskan keadilan


Selentingan tetangga menjelma  belati

menusuk punggung keyakinan yang dirawat setengah mati

mereka yang tak paham dalamnya samudra makrifat

dengan mudah menghakimi sesama sebagai ahli maksiat

pintu madrasah hancur didobrak kemarahan yang buta

Dar!


Obor menyala, menerangi wajah-wajah yang kerasukan amarah

“Keluar kau lelaki penyembah setan! Bakar saja surau sesat ini!”

caci maki berhamburan mengalahkan jernihnya suara kebenaran

“Demi Allah, ini jalan makrifat, bukan ajaran sesat!” ratap Mukiyah lirih

dari bilik bambu


Anak-anak mengaji menangis ketakutan

melihat tiang-tiang tempat mereka bersujud mulai dijilat api

asap hitam mengepul menyumbat jalan napas

bersama hilangnya rasa kemanusiaan yang lepas


Tanpa ruang bicara

tubuh ringkih nya diseret paksa

dihujani batu dan pukulan dari tangan-tangan yang merasa paling suci

bambu runcing dan balok kayu menghantam dada yang penuh asma


Darah segar mengalir dari pelipis

menetes di atas tanah yang tak berdosa

mereka berteriak mengagungkan nama Tuhan

sambil menginjak-injak hamba-Nya yang dalam kebingungan

“Angkut dia! Jangan biarkan provokator itu menghasut warga lebih jauh!”

bentak aparat sembari memborgol paksa

sepatu laras panjang ikut menekan tengkuknya ke bumi

memastikan tak ada lagi suara kebenaran yang bersemi


Tubuh lebam terkapar di tanah basah sebelum dilempar kasar ke dalam mobil

seragam hitam dan warga bersorak merayakan kemenangan semu

di dalam bak yang sempit dan pengap

Mukiyah memeluk erat sisa-sisa kesadarannya yang meredup

Mukiyah menatap langit dengan kepasrahan total

menembus jeruji besi yang dingin

mencari keadilan yang tak ia temukan di bumi manusia


Peradilan sesat kembali memakan korban rakyat kecil

meninggalkan surau yang sepi dan keadilan yang mati

kini hanya ada abu sisa pembakaran

dan tangis anak-anak yang kehilangan guru ngaji

di bawah hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah

nama Mukiyah terkubur dalam lembaran hitam sejarah yang salah



Mamuju Sul-Bar, 20/10/2022

Sajak Tahta Di Puncak Sunyi


"Berapa banyak dari kita yang sibuk mengejar puncak, hanya untuk mendapati diri kita kesepian di atas sana? Sebelum ego menghancurkan kita... Inilah sajak Tahta Di Puncak Sunyi...."

Tahta Di Puncak Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Ketika kita memilih kebanggaan
dan menobatkan diri sebagai raja dalam jiwa
sesungguhnya langkah kaki telah melenceng
menuju puncak kesombongan yang dingin

Kita menancapkan mahkota di kening
ditempa dari logam ego yang berkilau palsu
merasa paling tinggi melayang di atas angin
sampai lupa pada tanah tempat kita bermula

Langkah kaki kian pongah mendaki
merayapi lereng pujian yang fana
setiap sapaan dianggap sembah bakti yang mutlak
membuat mata hati buta
tak lagi mampu melihat warna

Di kanan kiri
tebing-tebing curam menganga
tempat kepedulian sengaja kita hempaskan ke jurang
sebab seorang raja tidak boleh terlihat cacat
atau ternoda oleh jelaga ketidaksempurnaan manusiawi

Lalu tibalah kita di puncak tertinggi
merayakan kemenangan dalam kesendirian yang mutlak
tidak ada lagi angin yang membisikkan sanjungan
yang tersisa hanya sunyi menghujam langsung ke nadi

Tahta angkuh yang kita bangun dengan megah
rupanya cuma istana pasir yang rapuh
hanya menanti giliran waktu menyapunya hingga rata
meruntuhkan jiwa yang telanjur mengeras oleh keangkuhan

Di titik tertinggi itu
barulah kita mengerti
tidak ada keagungan dalam kesendirian
kita sama sekali tidak sedang menguasai bumi
melainkan sedang tersesat mendekap kehampaan yang luas


Mamuju Sul-Bar, 10/10/2022