New Post!

  •  

    "Kemegahan sebuah kota tidak diukur dari tingginya gedung-gedung pencakar langit atau gemerlap lampunya, melainkan dari bagaimana kota itu memperlakukan jiwa-jiwa yang paling rapuh di sudut-sudutnya."

    Elegi Bocah di Jantung Kota

    By: Arif Agus Bege'h



    Rintihan anak yang terbuang di alon-alon kota

    Ia menjerit

    seakan hidup tak lagi bermakna

    malam dingin menghujam sekujur tubuh yang dipaksa renta

    dalam renungan ia berbisik:

    sengsara hanyalah baka, membawa luka


    Lampu-lampu kota berpijar begitu megah

    namun tak satu pun sinarnya mampu

    menyeka air mata yang tumpah

    Ia meringkuk di antara tumpukan sepi dan bising jalanan

    menatap dunia yang berlari

    meninggalkan dirinya dalam lupakan


    Di bawah langit malam yang tak lagi punya rasa iba

    tangan kecilnya gemetar

    meraba dada yang sarat kecewa

    besok pagi kota ini akan kembali

    terjaga dan tertawa tanpa pernah peduli

    pada jiwa yang perlahan mati di sudutnya



    Masamba Sul-Sel,  23/05/2026


    AAB - Elegi Bocah di Jantung Kota

    0


  • BIODATA PENULIS

    Data Pribadi
    ​Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
    ​Nama Pena: Arif Agus Bege'h
    ​Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
    ​Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni

    ​Profil Singkat
    ​Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.

    ​Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.

    ​Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.

    BIODATA PENULIS

    0
  •  

    "Pahlawan bukanlah mereka yang paling berani, melainkan mereka yang paling ikhlas berjuang untuk tanah airnya. Jadilah pahlawan bagi dirimu sendiri dan bangsamu."

    Gita Palagan Sejati
    By: Arif Agus Bege'h


    Bukan pada gemuruh genderang perang
    atau hujaman pedang yang menyentak
    Kebenaran tertulis di bilah-bilah nurani
    di palung hati yang senyap tak berriak

    Keberanian semu
    laksana fatamorgana
    menguap sirna diterpa badai prahara
    hanyalah jasad kaku
    mati dalam kehampaan
    tiada makna
    tiada warisan bagi raga

    Setiap langkah adalah perjalanan sunyi
    menembus kelam
    memeluk dinginnya malam
    meski langit menjatuhkan hujan badai yang tak kunjung usai
    dan airmata tumpah membasahi bumi yang terhantam

    Pahlawan
    oh pahlawan sejati
    tumbuh subur di tanah yang subur
    bukan dari darah yang tertumpah
    tapi dari cinta yang tulus
    yang ikhlas
    yang tak kenal pamrih

    Mari, kawan
    mari kita bangkit
    bukan dengan bedil dan mesiu
    tapi dengan tekad yang baja dengan semangat yang membara
    untuk membangun negeri untuk meraih mimpi

    Jadilah pahlawan, oh kawan
    nagi dirimu sendiri
    bagi bangsamu
    di setiap hembusan napas
    di setiap denyut nadi
    niarkan cinta tanah air
    abadi di hati


    Masamba Sul-Sel, 11/05/2026

    AAB - Gita Palagan Sejati

    0
  •  

    "Seringkali kita terjebak dalam keinginan untuk memamerkan proses, menjelaskan lelah, dan menuntut pengakuan dari orang lain. Namun, ingatlah bahwa ketulusan tidak pernah butuh panggung.

    Perjuangan terbaik adalah perjuangan yang dilakukan dalam sunyi. Ketika fokusmu adalah memberi yang terbaik untuk orang yang kamu sayangi atau demi impian yang suci, kamu tidak akan lagi peduli pada validasi dunia. Biarlah lelahmu menjadi rahasiamu dengan semesta, dan biarlah hasil serta kebahagiaan mereka yang kamu perjuangkan menjadi jawaban paling lantang atas semua air mata yang pernah jatuh.

    Teruslah melangkah, bukan untuk dilihat dunia, tapi agar kamu bisa melihat dunia dengan lebih lapang."

    Pembuktian Sunyi
    By: Arif Agus Bege'h


    Apakah aku perlu menunjukkan kepadamu baris-baris halaman yang kubaca

    untuk membuktikan bahwa aku pernah dan masih terus belajar?

    Menghafal teori

    meraba ketidaktahuan

    dan meluaskan sudut pandang

    demi menyamakan langkah dengan duniaku yang terus berputar


    Apakah aku perlu memamerkan peluh

    dan memar di badanku

    menelanjangi setiap lelah yang kupeluk sendiri di sepertiga malam

    hanya untuk membuktikan bahwa aku pernah dan masih terus berjuang?

    Membanting tulang

    memeras pikiran

    menolak menyerah pada keadaan yang seringkali mencekik leher


    Apakah aku harus menunjuk dengan jari gemetar ke ufuk timur

    menjabarkan peta

    dan menunjukkan arah kepadamu

    hanya untuk membuktikan bahwa tujuanku adalah cahaya?

    Sebuah titik terang di mana kita tidak lagi tersesat dalam gulita keraguan.


    Dan...

    apakah aku perlu menggelar semua hasil yang kuraih hari ini

    pencapaian

    materi

    atau validasi dunia

    hanya untuk membuktikan bahwa bagiku

    kau begitu berharga?


    Sebab kenyatannya

    seluruh bising pembuktian itu tidak ada apa-apanya

    dibanding apa yang terjadi di dalam dada

    Semua proses ini berjalan dalam sunyi yang gigih

    aku bergerak bukan untuk tepuk tangan

    melainkan untuk sebuah masa depan yang kita tuju bersama


    Aku terlalu fokus menatap ke depan

    terlalu gigih menggenggam harapan

    hingga aku lupa pada rasa luka yang pernah singgah

    Aku lupa pada asinnya air mata yang pernah membasahi pipi


    Sebab bagiku

    lelah dan luka hanyalah harga murah yang dengan sukarela kubayar

    asal pada akhirnya

    kau menemukan tempat terbaik untuk bersandar

    Aku tidak butuh panggung pembuktian di matamu

    karena semesta dan waktu tahu persis

    untuk siapa seluruh hidup ini kupertaruhkan


    Masamba,   08/05/2026

    AAB - Pembuktian Sunyi

    0
  •  

    "Kesetiaan sejati tidak diuji saat segalanya mudah, melainkan saat kita mampu memilih untuk tetap ada, bahkan ketika dunia memberi seribu alasan untuk pergi. Itulah bentuk tertinggi dari ketulusan: luas seperti langit, diam namun tak tergoyahkan."


    Sabda Langit
    By: Arif Agus Bege'h



    Kesetiaan adalah sabar tingkat langit
    luas menampung badai
    diam memeluk retak bumi

    Ia tak meminta balasan
    pada musim yang silih berganti
    hanya betah
    di keabadian yang tak pernah beranjak
    meski sunyi kian mencekik
    meski jarak kian menepi

    Karena setia bukanlah tentang memilih bertahan
    tetapi tentang meniadakan alasan untuk berpaling


    Masamba Sul-Sel,  09/05/2026


    AAB - Sabda Langit

    0


  • Hujan Di Perjalanan
    By: AAB


    Langkah kaki di jalan basah
    membawa hati yang patah
    hujan turun tanpa bicara
    seperti aku kehilangan arah


    Di perjalanan ini
    air mata menemani
    hujan jatuh di wajahku
    menyembunyikan rinduku
    kau pergi tinggalkan luka
    aku pulang bawa duka
    dan di setiap deras hujan
    namamu jadi tujuan

    jalan panjang masih ada
    meski hati penuh luka
    biar hujan hapus jejakmu
    air mata mengantar restuku

    Lirik Lagu - Hujan Di Perjalanan

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -