Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

AAB - Bait-bait Perlawanan


Kenyataan hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di balik sunyinya malam, sebuah gerakan nyata terus mengancam masa depan generasi kita tanpa kenal lelah.

Malam ini, bukan sekadar kata yang bersuara. Ini adalah sikap, keresahan mendalam, dan pengaduan langsung kepada Sang Pencipta.
Inilah... bait-bait perlawanan."

AAB - Puisi Itu Tidak Mahal

 


Ketika kata-kata bisa diracik instan oleh mesin dan dihargai murah oleh pasar, di mana letak harga diri sebuah rasa? Inilah sebuah gugatan realitas: 'Puisi Itu Tidak Mahal'

AAB - Dialog Di Batas Angka Dan Huruf

 

Dunia sibuk menghitung jumlah dan mengurutkan aturan, hingga kita lupa bahwa kebenaran sejati tidak terletak pada apa yang dipaksakan oleh dunia, melainkan pada apa yang didekap oleh jiwa.

Mantera Sembongkem


Mantera Sembongkem
By: Arif Agus B


Gerhana tipis menyapu ufuk yang memerah
tanah mengeras di bawah jejak kaki yang diam
aku berdiri tegak membawa segenggam mantra bumi

Sembongkem, si bongkem
kupanggil hening dari sudut paling sepi
lipatlah lidah yang bersiap melepas fitnah
redamlah bara amarah yang bergolak di dada lawan

Eeem...meng-emeng...
dunia mendadak sunyi
kehilangan seluruh gaungnya
menyisakan desau angin yang tak bertepi

Kunci Allah, gembok Allah
pintu-pintu ucapan kini telah terpasang pasak besi
tak akan mampu bergetar walau digertak badai
tak akan pecah menjadi kalimat yang mengancam

Tup tutup batur perem musuh
matamu mendadak kosong dan gamang
kata-katamu luruh
menjelma debu sebelum terucap
lumpuh segala niat buruk di hadapan wibawaku

Ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kunci lidahmu yang tajam
kancing rapat pertemuan ini
hingga tak ada lagi celah untuk berdusta

Kene ajian sembongkem bunge
Maka tunduklah segala yang liar di bawah langit
redahlah sengketa lama yang membakar hati
biarkan jagat raya menjadi saksi bisunya kata

Udara membeku di antara kita
suara-suara bising meleleh menjadi hening
kau terpaku tanpa daya
menyerah pada kekuatan sakral yang merayap

Bismillahirrohmanirrohim...
sembongkem, si bongkem
eeem...meng-emeng...
kunci Allah, gembok Allah
tup tutup batur perem musuh
ndek buek muni, ndek buek ngeraos
kene ajian sembongkem bunge
ndenaara’ ku kuasani
kuasani Alah
em... (Roma/Ani) puah
ante teperiri, ante tepiara
mbe-mbe muter
mbe-mbe meco
keme’ te balit
keme’ te slametang
Berkat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah


Masamba Sul-Sel, 02/07/2026

AAB - Menunda Muara

 

Menunda Muara
By: Arif Agus B


Jangan biarkan rindu itu tuntas sekarang
biarkan ia mengendap
menjadi rahasia yang paling gigih
di dalam dada kita masing-masing

Kau mengambil jalan ke utara
aku melangkah menuju selatan
kita adalah sepasang pengembara
pada dua setapak yang sengaja berjauhan

Tak perlu terburu-buru melipat jarak
waktu tahu cara merawat jeda
menghitung detak demi detak
sebelum ingatan benar-benar menjadi usang

Lalu, di sebuah tikungan yang tak terduga
tepat di penghujung hari yang lelah
langkah kita akan mendadak berhenti
menemukan ujung dari labirin yang sama

Di sanalah kisah kita akan diringkas
ketika langit mendadak luruh
menyatukan seluruh sisa tunggu
menjadi satu dengan hujan dan airmata


Masamba Sul-Sel, 01/07/2026

AAB - Yang Lupa Kusiapkan

Yang Lupa Kusiapkan
(Sebuah Nasehat Diri)
By: Arif Agus B


Pagi kugadaikan
siang kulipat
malam kujual
demi angka-angka
yang terus kuanggap belum cukup
lalu aku berkata
"Akan kupastikan mereka tidak kekurangan"

Aku sibuk bertanya
nanti anakku akan jadi apa?
jadi orang lurus
atau pengikut jalan bengkok
jadi pengajar
atau pemburu tipu daya
jadi penyejuk
atau penyebab orang lain menangis
pertanyaanku sangat panjang
tapi doaku kadang pendek

Lemari penuh
rekening bertambah
tetapi saat kotak sedekah lewat
dua ribu rupiah mendadak terasa lebih berat
daripada sajadah di pundakku
"Besok sajalah"
kalimat itu lebih sering hidup daripada sedekahku

Aku menghafal biaya sekolah
harga tanah
nilai emas
peluang usaha
dan grafik keuntungan
hingga nilai seporsi MBG pun tak luput
tetapi lupa menghafal berapa dosa yang belum sempat ku istigfarkan
aneh sekali

Kataku, "Yang penting masa depan anak"
betul, betul, betul
lalu siapa yang sedang menyiapkan masa depanku sendiri?
terlalu sibuk membangun rumah
hingga lupa alamat rumah terakhirku

Tak ada orang yang bisa menawar
tanggal rambut memutih
tak ada yang mampu menggeser
jadwal kulit menjadi keriput
otot yang ku banggakan
pelan-pelan menyerah
langkah yang dulu gagah
akhirnya belajar gemetar

Ada pintu yang pasti terbuka
bukan pintu kantor
bukan pintu rumah
pintu yang membuat gelar
jabatan
rekening
dan tepuk tangan berhenti bekerja
di sana
tak ada warisan yang bisa menggantikan amalku.

"Kita masih punya waktu kok"
siapa yang berkata begitu?
jam tidak pernah membuat janji
kematian tidak pernah mengirim surat pemberitahuan
sedang aku terus menyusun rencana A
rencana B
rencana C
padahal Tuhan telah memiliki satu rencana yang tak pernah gagal datang

Maka sebelum sibuk menentukan siapa anakmu kelak
bertanyalah lebih dulu
siapa dirimu ketika berdiri sendirian di hadapan Tuhan
jangan sampai anak-anakmu menikmati hasil jerih payahmu
sementara engkau menyesali masa depanmu sendiri yang terlambat dipersiapkan


Masamba Sul-Sel, 22/06/2026

(QS. Al-Hasyr [59]: 18)
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wal-tanzur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh. Innallāha khobīrum bimā ta'malūn.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Sajak Panggung Sandiwara Para Pengganti



"Sebuah catatan yang memotret realitas di sekitar kita, tentang manusia yang kerap kali silau dengan jubah kesucian, hingga lupa pada esensi kemanusiaan itu sendiri. Dari lembaran gelisah tahun 2009 - 2026, mari kita renungkan bersama: Panggung Sandiwara Para Pengganti."

Panggung Sandiwara Para Pengganti
By: Arif Agus B


Di sana
di atas altar yang bising
berhala-berhala baru lahir dari jemari runcing
mereka berebut menghakimi hamba yang kebingungan
yang kehilangan arah di jalan-jalan asing

Di sini
di atas tanah penuh kepura-puraan
kita sibuk memesan jubah kesucian
merebut otoritas langit tanpa beban
seolah takhta tuhan bisa disewa mingguan

Malaikat memilih cuti panjang
menepi dari bumi yang gemar pamer
ritual megah dibangun dari modal utang
demi perayaan yang dipaksakan meriah

Lalu skenario suci itu retak seketika
di tangan pemabuk yang dituding durhaka
di meja judi yang dikutuk sebagai neraka
mereka justru mengeja arti kesetiaan yang nyata

Mereka bertaruh
bukan lagi tentang angka atau dadu
melainkan memeluk nurani yang cedera
menjadi penjaga di balik malam yang pekat
meski stempel pendosa telanjur melekat di jidat

Beduk bertalu
azan jumat membelah udara
namun langkah mereka tertahan di luar gerbang
bukan karena membangkang perintah Sang Pencipta
mereka hanya tahu diri
tubuh penuh lumur dan noda

Panggung ini runtuh di ujung kepasrahan
saat mereka yang merasa suci sibuk memburu pengakuan
dan jiwa yang tersesat justru menemukan pulang
di balik sujud sunyi tanpa sorak-sorai perayaan


Masamba Sul-Sel, 18/06/2026

Di Balik Pundak Yang Teguh



"Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah, karya Penyair Aspulut: 'Di Balik Pundak yang Teguh'."

Di Balik Pundak yang Teguh

By: Arif Agus Bege'h



Kau berdiri seperti karang di tengah deburan

menahan badai

menelan riak-riak kesakitan

matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat

tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat


Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu

seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu

namun dengarlah

wahai jiwa yang sering terengah

langit pun butuh awan untuk membagi beban resah


Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi

ada gravitasi yang saling memeluk

menjaga harmon


Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri

sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi

kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan

bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan


Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada

berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda

padahal di dalam

retakan mulai merayap pelan

meminta ruang

meminta sedikit saja perhatian


Belajarlah meminta bantuan

sebab di sana bukan letak kehancuran

mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah

tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah


Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah

sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah

meminta bantuan bukan tanda kelemahan

melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan


Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam

bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam

kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang

terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang


Lepaskan sedikit tali yang mencekik napas mu itu

bicaralah pada angin

atau pada sahabat yang menunggu

dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat

sebab yang paling mencintaimu

ingin melihatmu selamat


Berhentilah memikul segalanya sendirian

sebab di sela-sela kebersamaan

ada damai yang Tuhan titipkan



Masamba Sul-Sel, 11/06/2026

AAB - Bara Sesat di Meja Doa

Bara Sesat di Meja Doa
By: Arif Agus B


Di antara khusyuk yang mengadu pada Ilahi
mengalir doa-doa wangi
menenun harap pada sepetak permadani
di tengah perjalanan jiwa
mencari jati diri
tiba-tiba
ada sesat yang menyusup pergi

Dari jemari yang gemetar karena candu
ada bara yang egois merayu
satu hembusan
sekadar rehat yang semu
tapi ribuan nafas tersengal pilu
laksana hujan abu yang menyesakkan rindu

Itu bukan sekadar kepul keabuan
itu adalah pedang yang kau hunus pelan
tanpa sadar
kau sedang menyerang ketenangan
menitipkan airmata
tersembunyi pada setiap isapan
menusuk dada mereka yang tulus dalam kebersamaan

Hormatilah udara yang mereka hirup
di tempat di mana harapan seharusnya tumbuh
jangan biarkan asap keangkuhanmu
menjadi duri di kelembutan ukhuwahmu


Masamba Sul-Sel, 01/05/2026 

Sajak Topeng-Topeng Kertas


"Sajak ini adalah cerminan dari kemuakan terhadap kepalsuan. Sebuah kritik bagi mereka yang menjadikan empati sebagai komoditas, namun mematikan nurani di balik topeng kepedulian. Dengarkanlah ini sebagai suara kejujuran yang menolak untuk dibungkam."

Sajak Topeng-Topeng Kertas

By: Arif Agus Bege'h



Di depan cermin, kau poles wajahmu dengan kepalsuan

Mengucap kata manis, namun menyimpan racun di balik senyuman

Jika tanganmu tak mampu memberi setetes solusi bagi luka

Lebih baik kau bungkam mulutmu, biarkan bisu menjadi sisa!


Jangan kau bicara tentang nurani, jika hatimu telah mati

Karena bagiku, lebih baik bibir itu dilem rapat hingga terkunci

Daripada dijahit, nanti mengalir darah yang tak lagi suci

Sebab bagimu, penderitaan rakyat hanyalah panggung sandiwara hari ini!


Kau datang dengan muka iba, berlagak memikul beban dunia

Namun matamu jelalatan, menghitung untung di atas air mata

Kau sebut dirimu saudara? Jangan buat aku tertawa

Saudara tidak membiarkan kerabatnya tersungkur menahan kecewa!


Sok peduli pada negara, sok peduli pada tanah kelahiran

Padahal langkahmu hanyalah derap kaki menuju kehancuran

Kau injak harga diri, kau jual janji di pasar-pasar kebencian

Sementara rakyatmu kau biarkan kering di tengah musim kemarau pengabdian!


Lihatlah lingkunganmu yang kini porak-poranda karena ambisi

Kau hancurkan ketulusan dengan topeng yang kau pakai sendiri

Peduli bagimu hanyalah komoditas yang kau dagangkan sesuka hati

Lalu di manakah letak kemanusiaan yang kau agung-agungkan tadi?


Berhentilah bermain peran, wahai aktor di atas panggung lara

Sebab setiap kata yang kau ucapkan adalah dusta yang menyiksa

Kami bukan penonton yang bisa kau suapi dengan tipu daya

Kami adalah saksi bisu dari setiap kebusukan yang kau bawa!


Cukup! Simpan saja segala perhatianmu yang penuh noda

Sebab di mataku, kau hanyalah sampah dalam balutan kemeja

Jika tak bisa membantu, jadilah bisu selamanya

Karena kepedulianmu adalah racun yang membunuh kejujuran kita!



Masamba Sul-Sel, 01/01/2026


AAB - Setelah Satu Halaman

Setelah Satu Halaman
By: Arif Agus B


Setiap pagi
gedung itu membuka pintunya
lebih awal daripada matahari
rak-raknya penuh
bukunya bertambah dan
halamannya menua dengan anggun

Tetapi ada sesuatu yang diam-diam menghilang
bukan buku
bukan pula coretan tinta
melainkan manusia yang bersedia datang
membaca dirinya sendiri

Aneh
semakin banyak kepala dipenuhi kutipan
semakin sedikit hati yang mampu mendengarkan
lidah berlomba menjadi pengeras suara
sedangkan telinga memilih pensiun sebelum waktunya

Mereka hafal nama-nama besar
fasih mengulang teori
mereka pandai mengutip
segala macam kebijaksanaan
namun ketika kehidupan mengajukan satu pertanyaan
mereka justru sibuk mencari catatan kaki

Barangkali pengetahuan
telah berubah menjadi lemari pajangan
disusun rapi
dibersihkan
dikagumi setiap hari
namun sayang
ia tak pernah benar-benar dipakai
menghadapi derasnya hujan

Ada orang yang mampu
menjelaskan arti kejujuran
secara mendalam dalam seratus halaman
namun gagal mengucapkan satu kalimat jujur
kepada dirinya sendiri

Ada pula yang lantang
mengajar tentang ketenangan
suaranya tenang
bahasanya tenang
wajahnya tenang
tetapi di dalam dada
suasananya jauh lebih gaduh
daripada pasar menjelang petang

Ilmu bukan mahkota
atau hiasan dinding untuk dipamerkan
ia seharusnya menjadi jendela yang lapang
semakin dibuka
semakin banyak cahaya masuk
bukan malah meninggikan tembok penghalang

Sebab kebesaran sejati
lahir dari kerendahan hati
di hadapan hal-hal yang belum kita pahami
pada akhirnya
buku tidak pernah merasa pintar
hanya manusia
merasa mengerti seluruh kehidupan
setelah satu halaman


Masamba Sul-Sel, 15/12/2025

AAB - Kebenaran Tidak Dijual Sepotong

Kebenaran Tidak Dijual Sepotong
By: Arif Agus B


Sebuah kota
gemar mencetak stempel
mejanya tak pernah lengang
setiap hari
lahir cap baru
untuk dahi manusia

Seseorang terlambat sekali
malas
seorang lain terlalu banyak diam
sombong
yang berjalan sendiri
aneh
yang sering tersenyum
berpura-pura

Begitulah
sebuah kehidupan disusutkan
hingga muat di sepotong cap
seukuran ibu jari
padahal musim tak pernah selesai
dalam satu sore

Lalu mengapa nasib seseorang
disimpulkan dari satu peristiwa?
pohon tua menyimpan lebih banyak cincin
daripada yang tampak di permukaan kulitnya

Demikian pula manusia
setiap tatapan membawa malam
setiap tawa
pernah melewati lorong yang sepi
setiap ketegaran
diam-diam mewarisi retakan

Namun dunia terlalu tergesa
kesabaran dikalahkan oleh kesimpulan
rasa ingin tahu
digantikan oleh prasangka

Barangkali itulah sebabnya
banyak persahabatan mati
sebelum sempat
mengenal nama kecil
satu sama lain.

Betapa murah
sebuah penilaian
cukup satu kabar
satu potongan cerita
satu sudut pandang
selebihnya imajinasi
menyelesaikan penghakiman
padahal kebenaran
tidak pernah lahir dari potongan

Ia memerlukan kesediaan
menempuh seluruh perjalanan
mungkin yang paling sulit
bukan memahami orang lain
melainkan menunda keinginan 
menjadi hakim atas kisah yang bahkan
belum selesai ditulis


Masamba Sul-Sel, 11/10/2025

Sajak Keberuntungan



Sering kali, dunia hanya melihat hasil akhir dan menyebutnya sebagai sebuah kebetulan atau keberuntungan semata. Namun malam ini, kita ingin menengok lebih dalam. Bahwa di balik setiap takdir baik yang berkilau, selalu ada kekuatan rahasia yang menempa—sebuah kesiapan yang dirawat dalam sunyi, dan ketangguhan yang menolak untuk menyerah.
Menyambut momentum dan langkah perjuangan kita, inilah: Sajak Keberuntungan.

Keberuntungan
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit yang kerap merahasiakan tanda,
kita berjalan di atas garis yang fana.
Orang-orang melihat sebuah akhir yang gemilang,
lalu menyebutnya kebetulan yang datang bertandang.

Mereka tak melihat jejak kaki yang berdarah,
menolak takluk pada kata menyerah.
Sebab tuah tak pernah datang pada hati yang mati,
ia hanya singgah pada jiwa yang teguh menanti.

Bukan sekadar lemparan dadu di atas meja,
keberuntungan adalah buah dari kerja rahasia.
Ia adalah anak panah yang telah lama diraut,
menunggu busur ditarik tanpa ada rasa takut.

Ada ketajaman mata untuk membaca arah angin,
di antara pekat malam dan dingin yang menggigit batin.
Sebab peluang sering kali datang dengan menyamar,
menjadi rintangan yang membuat nyali bergetar.

Hanya mereka yang memiliki kekuatan bertahan,
yang mampu mengubah badai menjadi kawan.
Mengumpulkan sisa pecah batu di jalanan,
menjadikannya fondasi bagi sebuah bangunan.

Saat pintu gaib kesempatan terbuka sekejap,
ia yang bersiap tak lagi butuh meraba dalam gelap.
Tangan yang terampil langsung mendekap momentum,
mengubah sunyi menjadi bunga yang ranum.

Maka kilau nasib baik ini bukanlah sihir,
bukan pula hadiah cuma-cuma yang mengalir.
Ia adalah jabat tangan antara waktu dan kesiapan,
puncak tertinggi dari sebuah kekuatan yang disembunyikan.


Bahodopi Sul-Teng, 17/09/2025

AAB - Penyair Di Kolong Jembatan

Penyair Di Kolong Jembatan
By: Arif Agus Bege'h


Di sudut kedai yang riuh oleh mesin dan gawai
seorang lelaki menatap kalimat di kertas buram
dunia bergerak cepat memuja angka dan hitungan
mengejar segala yang lekas mendatangkan uang
ia tahu kata-katanya tak lagi punya harga

Dulu
sajak adalah api barisan perlawanan
peluru tak kasat mata di tengah ketidakadilan
kini, bait-bait itu menjelma pajangan bisu
dilewati orang yang bergegas mengejar setoran
"Woy, apa gunanya puisi jika tak mampu membeli beras, ha ha ha penyair goblog?"
begitulah anggapan mereka

Penyair kini terpojok di sudut zaman
diadili keadaan yang menuntut hasil nyata
mereka ditagih pertanggungjawaban yang jelas
berapa harga satu diksi untuk sesuap nasi?
pertanyaan itu menyumbat tenggorokan yang lapar

Jalanan tak butuh kertas berisi duka jelata
sebab kaum miskin sibuk mencari rupiah
buruh pabrik pulang dengan pundak yang remuk
tak ada waktu membaca kalimat
tentang nasib yang salah
sajak-sajak itu mengambang tanpa guna

Di ruang rapat
orang berdebat arti keindahan
di luar
penggusuran berjalan tanpa kasihan
puisi tak mampu menahan besi buldozer
pun tak bisa memberi makan kami di kolong jembatan
tinta mengalir kalah oleh kenyataan pahit

Mereka dituduh pemalas yang memelihara mimpi
hidup dalam kesedihan tanpa menghasilkan apapun
sumbangan mereka dinilai nol dalam hitungan uang
di mana setiap tenaga harus menjadi keuntungan
penyair itu asing di tanah kata-katanya sendiri

Namun di kolong jembatan yang kumuh dan pengap
penyair itu tetap menulis tanpa mengharap upah
ia bukan lagi pemimpin yang membawa perubahan
melainkan orang yang mencatat luka agar tak kehilangan jiwa
salah satu cara terbaik menjaga hati tetap hidup


Masamba Sul-Sel, 07/06/2025

Sajak Istigfar Kadaluarsa

 

"Kita adalah seniman ulung yang pandai bersandiwara. Mulut sibuk mengetuk pintu ampunan, sementara hati diam-diam sedang merancang jadwal dosa untuk esok hari. Sebuah tamparan untuk diri saya sendiri... Istigfar Kedaluwarsa."

Istigfar Kedaluwarsa
By: Arif Agus Bege'h


Mulutku begitu fasih mengucap istigfar
setelah noda hitam selesai kurajut dalam gelap
air mata buatan menetes di atas sajadah
berpura-pura menyesali khilaf yang telanjur nikmat

Namun di sudut hati yang paling sunyi
sebuah bisikan iblis justru sedang menari
ia membatin dengan sangat riang:
"Besok sore, seru juga kalau diulangi lagi."

Sungguh komedi iman yang tak tahu malu
meminta ampunan hanya untuk mengosongkan ruang
agar dosa berikutnya punya tempat yang lapang
untuk kembali ditimbun tanpa rasa ngeri

Aku menjadikan taubat sebagai masa jeda
bukan akhir dari sebuah perjalanan sesat
meremehkan murka Sang Maha Mengetahui
seolah neraka hanyalah cerita fiksi penakut

Tuhan
runtuhkan keangkuhan tobat yang palsu ini
sebelum ajal datang memutus kontrak maksiat
ganti debar haram di dada ini
menjadi ketakutan yang jujur pada siksa-Mu


Masamba Sul-Sel, 24/04/2025

AAB - Ketakutan Yang Berpakaian Rapi

Ketakutan Yang Berpakaian Rapi
By: Arif Agus B


Di sebuah kota
ada pintu yang usianya lebih tua
daripada para penghuni rumah

Anehnya
engsel masih tetap mengilap
tak ada goresan
tak ada debu
atau bekas telapak tangan
tak ada bunyi yang menandakan
ia pernah dibuka

Semua orang memujinya
"Indahnya"
"Kokohnya"
"Sempurna"
mereka berfoto di depannya
mereka menulis kekaguman
pada dinding-dinding percakapan
namun tak seorang pun berani
memutar gagangnya

Mereka takut
ada ruangan yang tak sesuai
dengan bayangan
takut langkah pertama lebih kecil
daripada harapan
takut gagal
padahal tak ada pintu
yang diciptakan
untuk dipandang selamanya

Ada yang menghabiskan
bertahun-tahun memoles rencana
mengukur kemungkinan
merapikan impian
hingga akhirnya
umur lebih dulu menutup jendela
sementara pintu tetap berdiri
sebagai benda yang tak pernah menjalankan takdirnya

Kesempurnaan
barangkali adalah ruang tunggu
yang paling ramai
di sana
banyak cita-cita duduk berjajar
nomornya tak pernah dipanggil

Mereka berkata
"Nanti,
kalau sudah siap ya ustads!"
padahal kesiapan
sering lahir setelah kaki berani melangkah
bukan sebelumnya

Lihatlah benih
ia tidak menunggu menjadi pohon
baru bersedia menembus tanah

Lihatlah sungai
ia tidak meminta peta sebelum mengalir

Hanya manusia
yang kerap ingin mengetahui
seluruh akhir cerita
sebelum bersedia membuka
halaman pertama
lalu waktu
diam-diam mengemasi musim

Kesempatan
berjalan keluar
tanpa menutup pintu
dan orang-orang itu masih berdiri
mengagumi kesempurnaan
yang ternyata
hanyalah nama lain dari
ketakutan yang berpakaian rapi


Masamba Sul-Sel, 15/03/2025