AAB - Yang Lupa Kusiapkan

Yang Lupa Kusiapkan
(Sebuah Nasehat Diri)
By: Arif Agus B


Pagi kugadaikan
siang kulipat
malam kujual
demi angka-angka
yang terus kuanggap belum cukup
lalu aku berkata
"Akan kupastikan mereka tidak kekurangan"

Aku sibuk bertanya
nanti anakku akan jadi apa?
jadi orang lurus
atau pengikut jalan bengkok
jadi pengajar
atau pemburu tipu daya
jadi penyejuk
atau penyebab orang lain menangis
pertanyaanku sangat panjang
tapi doaku kadang pendek

Lemari penuh
rekening bertambah
tetapi saat kotak sedekah lewat
dua ribu rupiah mendadak terasa lebih berat
daripada sajadah di pundakku
"Besok sajalah"
kalimat itu lebih sering hidup daripada sedekahku

Aku menghafal biaya sekolah
harga tanah
nilai emas
peluang usaha
dan grafik keuntungan
hingga nilai seporsi MBG pun tak luput
tetapi lupa menghafal berapa dosa yang belum sempat ku istigfarkan
aneh sekali

Kataku, "Yang penting masa depan anak"
betul, betul, betul
lalu siapa yang sedang menyiapkan masa depanku sendiri?
terlalu sibuk membangun rumah
hingga lupa alamat rumah terakhirku

Tak ada orang yang bisa menawar
tanggal rambut memutih
tak ada yang mampu menggeser
jadwal kulit menjadi keriput
otot yang ku banggakan
pelan-pelan menyerah
langkah yang dulu gagah
akhirnya belajar gemetar

Ada pintu yang pasti terbuka
bukan pintu kantor
bukan pintu rumah
pintu yang membuat gelar
jabatan
rekening
dan tepuk tangan berhenti bekerja
di sana
tak ada warisan yang bisa menggantikan amalku.

"Kita masih punya waktu kok"
siapa yang berkata begitu?
jam tidak pernah membuat janji
kematian tidak pernah mengirim surat pemberitahuan
sedang aku terus menyusun rencana A
rencana B
rencana C
padahal Tuhan telah memiliki satu rencana yang tak pernah gagal datang

Maka sebelum sibuk menentukan siapa anakmu kelak
bertanyalah lebih dulu
siapa dirimu ketika berdiri sendirian di hadapan Tuhan
jangan sampai anak-anakmu menikmati hasil jerih payahmu
sementara engkau menyesali masa depanmu sendiri yang terlambat dipersiapkan


Masamba Sul-Sel, 22/06/2026

(QS. Al-Hasyr [59]: 18)
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wal-tanzur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh. Innallāha khobīrum bimā ta'malūn.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Sajak Panggung Sandiwara Para Pengganti



"Sebuah catatan yang memotret realitas di sekitar kita, tentang manusia yang kerap kali silau dengan jubah kesucian, hingga lupa pada esensi kemanusiaan itu sendiri. Dari lembaran gelisah tahun 2009 - 2026, mari kita renungkan bersama: Panggung Sandiwara Para Pengganti."

Panggung Sandiwara Para Pengganti
By: Arif Agus B


Di sana
di atas altar yang bising
berhala-berhala baru lahir dari jemari runcing
mereka berebut menghakimi hamba yang kebingungan
yang kehilangan arah di jalan-jalan asing

Di sini
di atas tanah penuh kepura-puraan
kita sibuk memesan jubah kesucian
merebut otoritas langit tanpa beban
seolah takhta tuhan bisa disewa mingguan

Malaikat memilih cuti panjang
menepi dari bumi yang gemar pamer
ritual megah dibangun dari modal utang
demi perayaan yang dipaksakan meriah

Lalu skenario suci itu retak seketika
di tangan pemabuk yang dituding durhaka
di meja judi yang dikutuk sebagai neraka
mereka justru mengeja arti kesetiaan yang nyata

Mereka bertaruh
bukan lagi tentang angka atau dadu
melainkan memeluk nurani yang cedera
menjadi penjaga di balik malam yang pekat
meski stempel pendosa telanjur melekat di jidat

Beduk bertalu
azan jumat membelah udara
namun langkah mereka tertahan di luar gerbang
bukan karena membangkang perintah Sang Pencipta
mereka hanya tahu diri
tubuh penuh lumur dan noda

Panggung ini runtuh di ujung kepasrahan
saat mereka yang merasa suci sibuk memburu pengakuan
dan jiwa yang tersesat justru menemukan pulang
di balik sujud sunyi tanpa sorak-sorai perayaan


Masamba Sul-Sel, 18/06/2026

AAB - Lembar Baru



"Tahun baru bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan kesempatan untuk membasuh diri dari segala sisa masa lalu. Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita siapkan lembaran yang lebih bersih. Inilah 'Lembar Baru'."

Lembar Baru
By: Arif Agus Bege'h

Muharram menyapa dengan hening yang jujur
membentangkan putih tanpa debu masa lalu
kulepas beban yang membatu
menghapus jejak luka agar langkah tak lagi terpaku

Tahun lalu hanyalah guru yang telah usai bicara
tak perlu kugendong sisa-sisa airmata
kegagalan adalah tinta yang telah mengering
kuhapus bersih
membiarkan jiwa kembali bening

Aku tak meminta jalan hidup yang selalu rata
hanya keteguhan saat badai menyapa
biarlah waktu menjadi saksi niat yang diperbarui
bukan sekadar angka yang hilang ditelan hari

Selamat tinggal diri yang lama dan lelah
hari ini aku lahir dengan niat yang lebih cerah
menuliskan doa di atas lembar yang masih suci
tanpa bayang ragu yang membuatku berhenti

Tuhan
bimbing jemari ini menuliskan kebaikan
agar setiap langkah adalah bentuk penghambaan
tahun ini adalah kesempatan untuk kembali pulang
pada fitrah yang sempat hilang di tengah petang


Masamba Sul-Sel, 16/06/2026 atau 1 Muharram 1448 H

AAB - Di Balik Jeda Hujan



"Kebaikan yang paling murni adalah kebaikan yang tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang berbuat baik."

Di Balik Jeda Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Kebaikan bukan tentang menanam papan nama di dada
ia serupa benih yang jatuh ke tanah tanpa suara
tersembunyi
memeluk bumi
menanti waktu untuk bertumbuh
tumbuh menjadi teduh yang tak pernah meminta balasan angkuh

Kita adalah perjalanan yang seringkali salah arah
terburu-buru menuntut tepuk tangan
atas lelah yang parah
padahal
tangan yang memberi tak perlu mata untuk melihat
cukup hati yang tahu bahwa ia telah menjadi rahmat

Lihatlah hujan yang jatuh tanpa pernah bertanya
siapa yang butuh haus
siapa yang butuh dahaga
ia membasahi hutan dan jalanan dengan takaran yang sama
memberi kehidupan tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk dipuja

Maka jika airmata harus jatuh di sela-sela pengabdian
biarkan ia menjadi saksi atas tulusnya sebuah ketetapan
bukan untuk dikabarkan pada dunia yang sibuk menghakimi
tapi untuk membasuh ego yang kadung berkarat di dalam diri

Biarlah tangan kiri tak perlu tahu apa yang diberikan tangan kanan
sebab kemuliaan sejati selalu bersembunyi dalam diam
tak perlu riuh
tak perlu pamrih
tak perlu pengakuan
sebab kebaikan yang tulus biarkan Tuhan saja yang menyimpan dalam ingatan


Masamba Sul-Sel, 13/06/2026

AAB - Belantara Retak

 



"Jangan pernah malu dengan retakan pada jiwamu; retakan itulah yang membuat cahaya akhirnya bisa memantul keluar untuk dilihat dunia."

Belantara Retak
By: Arif Agus Bege'h


Suasana telah menjadi hitam
berjalanlah melalui lorong belakang
dan jiwa-jiwa tidak akan tahu
apa yang telah kita simpan dalam bimbang

Mereka masih sibuk membicarakan pekat
dan di antara kita telah saling memahami
tak perlu risau oleh waktu yang mencelat
sebab cerita tetap akan sampai meski di dalam sunyi

Namun lihatlah
lampu sorot kini menyala
membongkar habis topeng yang kita bawa
kita bukan lagi pemenang yang bersembunyi dalam ragu
sebab kebenaran adalah gema yang paling lantang
ia tak lagi butuh bayang
ia ingin berdiri telanjang

Lusa dan belasan perjalanan waktu kemudian
yang semula terlihat akhirnya menjadi belantara
tempat di mana setiap cela yang merayap
kini memantul menjadi retakan yang merdeka

Cepat
segera
saatnya
semua akan terbaca dengan sendirinya


Masamba Sul-Sel, 12/06/2026


Di Balik Pundak Yang Teguh



"Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah, karya Penyair Aspulut: 'Di Balik Pundak yang Teguh'."

Di Balik Pundak yang Teguh

By: Arif Agus Bege'h



Kau berdiri seperti karang di tengah deburan

menahan badai

menelan riak-riak kesakitan

matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat

tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat


Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu

seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu

namun dengarlah

wahai jiwa yang sering terengah

langit pun butuh awan untuk membagi beban resah


Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi

ada gravitasi yang saling memeluk

menjaga harmon


Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri

sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi

kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan

bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan


Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada

berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda

padahal di dalam

retakan mulai merayap pelan

meminta ruang

meminta sedikit saja perhatian


Belajarlah meminta bantuan

sebab di sana bukan letak kehancuran

mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah

tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah


Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah

sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah

meminta bantuan bukan tanda kelemahan

melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan


Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam

bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam

kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang

terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang


Lepaskan sedikit tali yang mencekik napas mu itu

bicaralah pada angin

atau pada sahabat yang menunggu

dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat

sebab yang paling mencintaimu

ingin melihatmu selamat


Berhentilah memikul segalanya sendirian

sebab di sela-sela kebersamaan

ada damai yang Tuhan titipkan



Masamba Sul-Sel, 11/06/2026

AAB - Roda Menolak Diam


"Berhentilah menganggap hidup adalah roda yang berputar dengan sendirinya, sebab nasib bukanlah mekanisme otomatis yang bekerja tanpa bahan bakar. Tuhan telah memberikan mesin berupa akal, tenaga, dan kehendak. Jika roda kehidupanmu tak kunjung berputar, jangan tanyakan mengapa Tuhan tidak adil, tetapi tanyakan seberapa besar daya dan upaya yang telah kau curahkan untuk menggerakkannya."

Roda Menolak Diam
By: Arif Agus Bege'h


Bukan sekadar lingkaran besi yang pasrah pada nasib
bukan pula poros yang menunggu takdir memanggilnya naik ke langit
roda adalah janji
adalah jejak yang mesti dipahat di atas tanah
sebab tanpa daya yang membakar
ia hanyalah rongsokan yang terlelap dalam lelah

Kita sering berbisik pada angin
mengeluh tentang posisi yang di bawah
menuding semesta
menunjuk Tuhan seolah dialah yang membelenggu langkah
padahal, di tanganmu ada api
di kakimu ada otot dan nyali
mengapa kau biarkan roda itu membeku
hanya menjadi saksi mimpi yang mati?

Roda kehidupan tidak berputar oleh waktu yang sekadar berlalu
ia berputar oleh tetes keringat
oleh tekad yang tak kenal buntu
setiap engsel yang berderit adalah suara dari upaya yang kau kerahkan
setiap tanjakan adalah ruang bagi kekuatanmu untuk dibuktikan

Jangan kau gadai kegagalanmu dengan menyalahkan ketetapan-Nya
sebab Tuhan telah memberi mesin berupa akal dan jiwa yang merdeka
jika roda itu terhenti
jangan cari alasan pada langit yang diam
periksalah kembali daya di tanganmu
sebelum kau karam dalam kelam

Jadilah nahkoda bagi poros hidupmu sendiri
tarik napas
gerakkan roda itu
raih tujuan yang menanti
sebab nasib bukanlah surat yang datang dari langit tanpa nama
ia adalah lukisan yang kau coretkan dengan daya upaya dan doa yang terjaga


Masamba Sul-Sel, 08/06/2026

AAB - Isyarat Di Balik Hujan



"Terkadang, langkah terbaik bukanlah berlari mengejar keinginan, melainkan berhenti sejenak untuk membiarkan keikhlasan menjemput impian yang tak pernah kita sangka."

Isyarat Di Balik Hujan
By: Arif Agus Bege'h


Bukan perintang
hujan pagi ini turun menyapa
membasuh debu pundak mendinginkan lelah jiwa di Masamba

Di meja ini
"Takaran Sabar" menjadi saksi
bahwa menepi sejenak bukanlah akhir dari ambisi

Di balik kabut dingin yang menyapa
harapan yang lembut datang menjemput sapa

Tak perlu lagi mengejar dengan paksa
cukup ikhlas
hingga ia pulang ke sukma


Masamba Sul-Sel, 05/06/2026

AAB - Salah Menilai Langit



Salah Menilai Langit
By: Arif Agus Bege'h


Salah dalam menilai makna langit
kau kira ia hanyalah bentangan biru yang manja
tempat sunyi bersembunyi di balik megahnya
tempat pasrah bagi jiwa-jiwa yang menyerah
tidak, kau keliru, kau sama sekali buta

Langit adalah altar paling jujur
ia tak pernah tunduk pada takdir yang memudar
jika mendung datang
ia tak sudi mundur
jika amarah memuncak
ia runtuhkan petir mendampar
ia tidak meminta izin pada bumi untuk bergemuruh
ia tidak mengemis pada waktu untuk meruntuhkan angkuh

Lihatlah ke atas
ia tak pernah menahan jatuhnya hujan
ia tak pernah menyembunyikan badai di balik awan
sebab langit tahu kapan harus menggelegar
dan merobek kesunyian yang berpura-pura sabar

Di sana, di balik jubah hitam mega-mega
ada perang yang berkecamuk tanpa suara
ada tangis yang menjelma menjadi air mata badai
dan luka yang dipaksa sembuh sebelum tercerai
maka jangan kau dikte cakrawala dengan kelemahanmu
jangan kau ukur luasnya dengan ketakutanmu

Sebab pada akhirnya...
langit akan tetap berdiri
kokoh dan menyala
merajut mendung
memeluk petir
membasuh lara

Dan kita hanyalah debu...
yang terkesiap melihatnya berkuasa


Masamba Sul-Sel, 04/06/2026


AAB - Takkan Pernah Pulang



Takkan Pernah Pulang
By: Arif Agus Bege'h


Keyakinan adalah pasak bumi,
menancap kokoh di kedalaman hati.
Tak goyah dihantam badai,
tak runtuh digoda ragu yang mengintai.

Tujuan di depan adalah kepastian,
bukan sekadar mimpi yang melayang.

Satu langkah, satu keyakinan,
perjuangan ini takkan pernah pulang.


Masamba Sul-Sel, 04/06/2026

AAB - Pelita Di Tengah Belantara



Pelita Di Tengah Belantara
By: Arif Agus Bege'h


Di rimba ilmu yang tak bertepi
langkah terhenti
tersesat sepi
akal mengembara mencari jawab
namun buntu menemui gelap

Mursyid datang membawa pelita
menuntun jiwa yang hampir buta
mengurai kusut
menepis ragu
membimbing pulang ke jalan yang tuju


Masamba Sul-Sel, 03/06/2026

AAB - Sejuk Di Antara Gersang

 


Sejuk Di Antara Gersang
By: Arif Agus Bege'h


Di batas langit yang berarak kelabu
Ia turun tanpa sepatah ragu
tak ada protes pada putaran waktu
saat takdir membawa rintik menyentuh debu

Ia hadir di kala bumi tak menduga
menghapus duka
membasuh lara yang lama
sebuah berkah yang mengalir bersahaja
menjadi saksi tentang arti sebuah setia

O... Hujan di bulan Juni yang sunyi
mengajarkan tabah dalam sepi yang mulia
membawa sejuk di antara gersang dunia
meski hadirmu tak pernah diduga

Dalam sunyi yang mulia
hujan pun mereda


Masamba Sul-Sel, 02/06/2026

AAB - Mata Angin Persatuan

 


Mata Angin Persatuan
By: Arif Agus Bege'h


PANCASILA ADALAH CERMIN EGO YANG MELUNAK!
Sebuah ruang tempat kepala-kepala batu menunduk takzim
tempat amarah dan keserakahan diredam oleh rasa yang rukun
Ia mengingatkan kita bahwa di Indonesia
'AKU' baru akan bermakna jika ia meluhur menjadi 'KITA'!

Sebab apalah arti sebatang lidi tanpa ikatan?
apalah arti sekerat batu tanpa fondasi bangunan?
di tanah ini
kemegahan diri adalah kesia-siaan
jika saudaramu masih merangkak dalam ketertinggalan

PANCASILA ADALAH KOMPAS!
Penunjuk arah ketika peta dunia mulai buram dan bias
pemberi sauh ketika ombak modernitas menghantam cadas
agar bangsa ini TIDAK kehilangan arah di tengah badai zaman!
menolak karam
menolak tunduk pada perpecahan

Mari rapatkan barisan luruskan pandangan
memastikan kita TETAP BERJALAN BERIRINGAN
bukan sebagai asing yang saling mengancam
melainkan dengan hati yang damai
dan harmoni yang TERJAGA!


Masamba Sul-Sel, 01/06/2026