AAB - Ruang Dengar Dipaku

Ruang Dengar Dipaku
By: Arif Agus B

Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan

ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi

yang satu dipuji karena jabatan

yang lain dicurigai karena bertanya


Mengapa pertanyaan lebih ditakuti

daripada kesalahan yang terus diwariskan

mengapa telinga kekuasaan

lebih akrab dengan pujian

daripada kenyataan


Rakyat mengenal harga beras

buruh mengenal harga tenaga

petani mengenal harga panen

mengapa hanya suara manusia

tak pernah memiliki nilai

di meja keputusan


Gedung-gedung semakin tinggi

laporan-laporan semakin rapi

tetapi keluhan tetap berjalan kaki

di trotoar yang sama setiap hari


Di lorong gedung

seorang warga berkata

Aku datang membawa pertanyaan."

pejabat tersenyum tipis menjawab,

"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"


Warga menatapnya tanpa ragu,

"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,

jika suara kami hanya menjadi tamu.

Angka boleh tampak baik-baik saja,

tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."


Lorong kembali sunyi

yang tertinggal bukan jawaban

melainkan gema pertanyaan

yang tak pernah diizinkan masuk


Barangkali negeri ini

tidak sedang kekurangan pidato

tidak sedang kekurangan janji

melainkan kekurangan telinga

yang benar-benar mau mendengar


Negara tidak runtuh karena rakyat

terlalu banyak bertanya

melainkan karena penguasa

terlalu sedikit mendengar



Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022

AAB - Cukuplah Engkau Penolongku

Cukuplah Engkau Penolongku
By: Arif Agus B


Aku mencari kabar baik
di layar yang tak pernah lelah menyala
lalu kusadari
langit tak pernah memakai notifikasi
untuk menyampaikan kasih-Nya

Hujan tidak meminta tepuk tangan
ia jatuh basahi bumi
lalu pergi tanpa menagih pujian

Aku berkali-kali menyalahkan waktu
karena doa terasa jauh
padahal yang berlari
bukan jawaban-Mu
melainkan kesabaranku

Ada pintu yang tetap tertutup
aku mengira itu penolakan
ternyata Engkau sedang menyuruhku
melepaskan kesombongan
yang kubawa sebagai bekal

Manusia sibuk menghitung harta
langit sibuk menghitung amal
aku terlambat mengerti
yang berat di bumi
belum tentu bernilai di hadapan-Mu

Saat malam terasa paling sunyi
aku belajar satu hal
gelap bukan musuh cahaya
melainkan ruang
agar harapan terlihat lebih terang

Aku tak lagi meminta
jalan yang selalu mudah
aku hanya memohon
hati yang tetap teguh
saat langkah mulai goyah

Hari demi hari
mengajariku satu kalimat sederhana
percaya kepada-Mu
lebih menenangkan
daripada mengendalikan segalanya

Bila seluruh jalan tampak buntu
aku masih mengenal satu arah
menengadah...
lalu bersujud
di situlah harapan selalu lahir kembali


Mamuju Sul-Bar, 26/11/2022

"Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya?"
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Alaisa-llāhu bikāfin 'abdahū

"Bukankah Allah sudah cukup sebagai Penolong bagi hamba-Nya?"
(QS. Az-Zumar: 36)

AAB - Tragedi Margono

Tragedi Margono
By: Arif Agus Bege'h


Sawah hijau warisan leluhur mendadak sunyi di fajar buta
pohon-pohon jati pembatas desa berbalut kabut prasangka
jemari legam terbiasa menyemai bulir-bulir harapan
kini dituduh dalang perusak tatanan kemajuan

Hak hidup tergilas aturan sepihak para pemodal
genggaman cangkul di sela jemari gemetar
kini dicap sebagai simbol perlawanan liar
tetes keringat pemakmur tanah sekian generasi
diadili selembar berkas penuh rekayasa keji

Desas-desus busuk merayap masuk ke tiap beranda
gugatan adat diputarbalikkan menjadi tindakan makar
sebuah nama bersih seketika cacat tanpa ruang bicara
terik siang mencekam mengubah ketenangan warga
menjadi tungku bara yang siap melumat paksa hak mereka

Intrik politik menjelma monster besi baja
meruntuhkan impian yang dirawat sekuat tenaga
mereka penikmat ruang ber-AC tak paham kerasnya kerja
begitu mudah menuduh petani sebagai perusak rencana
pagar bambu hancur lebur diterjang keangkuhan penguasa
Brak!

Asap perih menyengat mengungkap wajah-wajah penuh murka
“Seret paksa tua bangka ini! Hancurkan gubuk pembohong ini!”
teriakan keji bergaung membungkam suara kebenaran
“Demi Tuhan, ini tanah pusaka, ini tanah warisan, bukan curian!”
ratapan Margono yang parau
dari celah dinding

Kaum perempuan dan anak-anak menjerit ketakutan
menyaksikan ladang tumpuan hidup digulung mesin-mesin raksasa
debu hitam membubung menyumbat rongga dada
seiring sirnanya rasa iba di hati manusia

Sama sekali tiada kesempatan membela diri
raga tuanya ditarik paksa ke aspal
dihujani pukulan sepatu-sepatu laras yang merasa paling berkuasa
pentungan logam menghantam rusuk ringkihnya tanpa ampun

Darah kental merembes
membasahi tanah kering tak bersalah
mereka bersorak mengatasnamakan kemajuan bangsa
sambil menyiksa rakyat kecil yang didera kebingungan
“Bawa dia! Amankan provokator ini sebelum warga lain terhasut!”
gertak petugas sembari mengunci pergelangan tangannya
ujung laras laras baja menekan tengkuknya ke bumi
memastikan tiada lagi gaung protes berani bangkit

Tubuh lunglai terhempas ke bak kendaraan lalu disekap
petinggi seragam dan cukong tersenyum merayakan kejayaan semu
di sudut ruangan pengap tanpa celah cahaya
Margono mendekap sisa-sisa napasnya kian melemah
tatapannya kosong menembus besi pembatas dengan pasrah
menatap dinding semen yang dingin
mencari setitik ketetapan adil yang sirna di dunia

Ambisi perluasan wilayah kembali menelan korban jelata
menyisakan hamparan ladang gundul tanpa pembela
kini hanya tersisa puing-puing beton
dan isak tangis keluarga kehilangan tulang punggung
di bawah kuasa yang tumpul ke atas tajam ke bawah
riwayat Margono terhapus dalam catatan kelam masa lalu yang keliru


Mamuju Sul-Bar, 21/10/2022

AAB - Tragedi Mukiyah

Tragedi Mukiyah

By: Arif Agus Bege'h



Lantunan zikir tarekat mendadak sunyi di ujung malam

kitab kuning di sudut surau berselimut debu kecurigaan

pengabdian tulus membimbing jemari kecil mengeja Alif-Ba-Ta

kini dituding sebagai racun yang merusak aqidah


Kebenaran dibungkam oleh dogma penguasa mimbar

tasbih yang melingkar di jemari gemetar

kini dianggap mantra pemanggil teluh dan ingkar

kalam baitullah yang mengalir dalam darah

diadili lisan yang penuh amarah


Desas-desus liar merayap dari rumah ke rumah

ajaran batin yang suci diputarbalikkan menjadi aliran  sesat

sebuah nama mulia dikotori heresi tanpa tabayun

malam mencekam mengubah kedamaian kampung

menjadi tungku api yang siap menghanguskan keadilan


Selentingan tetangga menjelma  belati

menusuk punggung keyakinan yang dirawat setengah mati

mereka yang tak paham dalamnya samudra makrifat

dengan mudah menghakimi sesama sebagai ahli maksiat

pintu madrasah hancur didobrak kemarahan yang buta

Dar!


Obor menyala, menerangi wajah-wajah yang kerasukan amarah

“Keluar kau lelaki penyembah setan! Bakar saja surau sesat ini!”

caci maki berhamburan mengalahkan jernihnya suara kebenaran

“Demi Allah, ini jalan makrifat, bukan ajaran sesat!” ratap Mukiyah lirih

dari bilik bambu


Anak-anak mengaji menangis ketakutan

melihat tiang-tiang tempat mereka bersujud mulai dijilat api

asap hitam mengepul menyumbat jalan napas

bersama hilangnya rasa kemanusiaan yang lepas


Tanpa ruang bicara

tubuh ringkih nya diseret paksa

dihujani batu dan pukulan dari tangan-tangan yang merasa paling suci

bambu runcing dan balok kayu menghantam dada yang penuh asma


Darah segar mengalir dari pelipis

menetes di atas tanah yang tak berdosa

mereka berteriak mengagungkan nama Tuhan

sambil menginjak-injak hamba-Nya yang dalam kebingungan

“Angkut dia! Jangan biarkan provokator itu menghasut warga lebih jauh!”

bentak aparat sembari memborgol paksa

sepatu laras panjang ikut menekan tengkuknya ke bumi

memastikan tak ada lagi suara kebenaran yang bersemi


Tubuh lebam terkapar di tanah basah sebelum dilempar kasar ke dalam mobil

seragam hitam dan warga bersorak merayakan kemenangan semu

di dalam bak yang sempit dan pengap

Mukiyah memeluk erat sisa-sisa kesadarannya yang meredup

Mukiyah menatap langit dengan kepasrahan total

menembus jeruji besi yang dingin

mencari keadilan yang tak ia temukan di bumi manusia


Peradilan sesat kembali memakan korban rakyat kecil

meninggalkan surau yang sepi dan keadilan yang mati

kini hanya ada abu sisa pembakaran

dan tangis anak-anak yang kehilangan guru ngaji

di bawah hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah

nama Mukiyah terkubur dalam lembaran hitam sejarah yang salah



Mamuju Sul-Bar, 20/10/2022

Sajak Tahta Di Puncak Sunyi


"Berapa banyak dari kita yang sibuk mengejar puncak, hanya untuk mendapati diri kita kesepian di atas sana? Sebelum ego menghancurkan kita... Inilah sajak Tahta Di Puncak Sunyi...."

Tahta Di Puncak Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Ketika kita memilih kebanggaan
dan menobatkan diri sebagai raja dalam jiwa
sesungguhnya langkah kaki telah melenceng
menuju puncak kesombongan yang dingin

Kita menancapkan mahkota di kening
ditempa dari logam ego yang berkilau palsu
merasa paling tinggi melayang di atas angin
sampai lupa pada tanah tempat kita bermula

Langkah kaki kian pongah mendaki
merayapi lereng pujian yang fana
setiap sapaan dianggap sembah bakti yang mutlak
membuat mata hati buta
tak lagi mampu melihat warna

Di kanan kiri
tebing-tebing curam menganga
tempat kepedulian sengaja kita hempaskan ke jurang
sebab seorang raja tidak boleh terlihat cacat
atau ternoda oleh jelaga ketidaksempurnaan manusiawi

Lalu tibalah kita di puncak tertinggi
merayakan kemenangan dalam kesendirian yang mutlak
tidak ada lagi angin yang membisikkan sanjungan
yang tersisa hanya sunyi menghujam langsung ke nadi

Tahta angkuh yang kita bangun dengan megah
rupanya cuma istana pasir yang rapuh
hanya menanti giliran waktu menyapunya hingga rata
meruntuhkan jiwa yang telanjur mengeras oleh keangkuhan

Di titik tertinggi itu
barulah kita mengerti
tidak ada keagungan dalam kesendirian
kita sama sekali tidak sedang menguasai bumi
melainkan sedang tersesat mendekap kehampaan yang luas


Mamuju Sul-Bar, 10/10/2022

 

AAB - Jangan Minta Aku Diam

Jangan Minta Aku Diam
By: Arif Agus B


Jangan sibuk mengangkat telunjuk!
lihat dahulu telapakmu
barangkali noda yang kau kutuk
sedang menetap di sana

Aku tidak takut dibenci
yang kutakuti hanyalah
ketika kebohongan disambut berdiri
sementara kejujuran dipersilakan keluar lewat pintu belakang

Betapa mudah mulut berteriak
seolah suara paling keras
selalu menjadi pemilik kebenaran
padahal gema tidak pernah melahirkan cahaya

Jangan minta aku diam!
diam yang memelihara kepalsuan
adalah pengkhianatan
yang memakai wajah kesopanan

Lihatlah!
ada yang menjahit jubah kebajikan
lalu menyembunyikan keserakahan
di balik lipatan kainnya

Hari ini harga diri dilelang
bukan karena lapar
melainkan karena tepuk tangan
terdengar lebih manis daripada hati yang bersih

Kalian boleh menutup jalan
kalian boleh memadamkan lampu
namun tak ada tangan
yang sanggup memenjarakan fajar

Aku tidak sedang mencari pengikut
aku hanya menolak ikut berbaris
di belakang kebohongan
yang dipoles menjadi kebiasaan

Ketika waktu memanggil semua nama
bukan untuk menghitung seberapa keras suara kita
melainkan seberapa tegak kita berdiri
ketika kebenaran berjalan sendirian


Mamuju Sul-Bar, 28/09/2022

Rumah Tuhan Digembok

 

Rumah Tuhan Digembok
By: Arif Agus Bege'h


Pengurus yayasan tersenyum menatap angka di papan pengumuman
Sisa saldo infak jutaan rupiah, tersimpan aman di rekening simpanan
Kubahnya berlapis emas, menaranya menjulang menembus awan
Lantai marmernya berkilau, hasil sumbangan para dermawan

Mereka merawat bangunan dengan aturan yang sangat ketat
Mereka menjaga aset suci agar tak disentuh tangan-tangan jahat

Lalu, seorang musafir yang berjalan jauh menembus malam yang dingin
Pakaiannya berdebu, dompetnya kosong, dan perutnya melilit perih
Melangkah gontai dengan harapan menemukan secuil keteduhan
Di teras rumah yang katanya menjadi perlindungan bagi setiap jiwa yang letih

Dia datang mengetuk pintu kayu jati yang berukir indah
Berharap bisa merebahkan punggung yang pegal, atau sekadar meneguk air wudu yang jernih
Namun yang ia temukan adalah rantai besi dan gembok besar yang dingin membisu
"Maaf gaes, demi keamanan, Masjid ditutup setelah jemaah bubar," tertanda Marbot.

Dia memeras sisa tenaga, duduk bersila di atas pelataran semen yang keras
Menatap ke dalam kaca bening, melihat karpet tebal yang empuk dan kipas yang mati
Sementara di dalam sana, kotak amal besi berdiri kokoh dengan uang berlipat-lipat
Namun tak ada satu sen pun yang bisa menjelma menjadi sebungkus nasi bagi yang sekarat

Kalian mengunci rumah ini atas nama ketertiban dan rasa takut kehilangan
Kalian bangga pada kemegahan fisik, namun amnesia pada fungsi sosial kemanusiaan
Kalian biarkan hamba-Nya telantar di luar, kedinginan berantalkan sandal tua
Sementara khotbah tentang kedermawanan dan kepedulian masih terngiang di telinga

Esok subuhnya, saat pintu pagar besi dibuka kembali dengan jerit yang nyaring
Seorang pengurus dengan baju takwa yang wangi melihatnya masih duduk lemas di pojokan
Sambil membawa sapu dia berkata, "Ayo mas, bangun, sebentar lagi jemaah datang, jangan tidur di sini, merusak pemandangan saja mas..mas.!"

Musafir itu bangkit dengan lutut yang gemetar, menatap kubah megah yang mulai diterpa fajar, lalu berteriak di dalam hati:
"Jika rumah tempat memuji Yang Maha Pengasih digembok rapat bagi yang lapar,
lalu musafir yang kehabisan bekal harus mengemis belas kasihan di jalan yang mana?"


Sulawesi Barat, 15/09/2022

Matinya Sang Penjaga

"Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."

Matinya Sang Penjaga
By: Arif Agus Bege'h


Ia memoles kata
namun jiwanya beku
hanya menjual sanjungan di atas debu
tak ada bedah makna
tak ada api yang menyala
sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya

Mata tertutup pada luka dan duka
pena tumpul
digerogoti kepentingan celaka
ia pengkhianat yang memilih bungkam
membiarkan karya berharga mati terendam

Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
menjadikan sastra sekadar komoditas belaka

Tak ada kritik
hanya gema yang basi
kehilangan nurani
tenggelam dalam distorsi
martabatnya gugur di meja yang sunyi
membunuh ruh kata dengan nalar yang mati

Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
sejarah mencatat khianatmu dengan abu
saat kau abaikan esensi dan kedalaman
sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan


Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022

AAB - Bidadari Hatiku



Bidadari Hatiku
(Untuk Istriku Nurhasanah)
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit Pantai Manakarra
kita merajut kisah
melangkah bersama
dalam perjalanan panjang yang tak selalu mudah
engkau tetap tegar
meski badai mencoba menggoyah

Setiap hujan yang jatuh membasahi bumi
seolah menjadi saksi betapa sabarnya hatimu
engkau merangkul segala kurangku dengan ikhlas
menjadi rumah tempatku berpulang saat napas terasa lepas

Dan saat airmata harus jatuh membasuh pipi
engkau tetap berdiri menyungging senyum yang berarti

Terima kasih, Nurhasanah belahan jiwa yang sejati
karena bersamamu
segala luka mampu kuobati

Dari suamimu yang selalu mencintaimu


Mamuju Sul-Bar, 31/08/2022

Sajak Kolektor Jelaga



Kita sering mengira, menjadi pencuri berarti mengambil harta. Padahal, pencurian paling merugi adalah ketika kita merampas aib dan fitnah dari punggung orang lain, lalu dengan bangga memikulnya di pundak kita sendiri. Di saat mereka pulang membawa ampunan, kita justru terkapar memeluk beban pinjaman.
Simaklah sebuah sajak... "Kolektor Jelaga."

Kolektor Jelaga
By: Arif Agus Bege'h


Mereka mengetuk langit dengan dahi,
memeras air mata di altar sepi,
memohon noda masa lalu luruh,
menjadi putih, menjadi utuh.

Sementara kita, berdiri di tikungan,
menjadi perampok di tengah jalan.
Bukan emas yang kita sasar dari sesama,
melainkan rongsokan kutuk dan dosa.

Tangan kita lincah memunguti nanah,
merampas aib yang nyaris punah.
Lalu kita tebar di pasar-pasar kata,
seolah itu wewangian kasta.

Kita adalah kolektor jelaga,
menyita arang dari tungku tetangga.
Wajah mereka perlahan dibasuh cahaya,
wajah kita legam tertimbun dusta.

Di cermin waktu yang kian berkarat,
kita bangga memikul sekarung laknat.
Mengira sedang meruntuhkan takhta orang,
padahal menggali kubur sendiri yang gersang.

Waktu yang lebur di balik penanggalan,
hanya menyisakan riuh kesesatan.
Kita bersihkan halaman dengan belati,
sambil menimbun bangkai di dalam hati.

Kelak di perbatasan yang paling sunyi,
saat semua topeng runtuh membumi:
Mereka pulang membawa ampunan,
kita terkapar memeluk beban pinjaman.


Mamuju Sul-Bar, 17/08/2022

Sajak Dialektika Tanpa Tepi


Tuhan memberi sabar tanpa batas, lalu mengapa kita sibuk membuat batasan? Tundukkan egomu, bersiaplah menghadapi... Inilah Sajak Dialektika Tanpa Tepi.

Dialektika Tanpa Tepi
By: Arif Agus Bege'h


Manusia adalah bait-bait yang ditulis dalam keterbatasan
daging yang menua
usia yang berkejaran dengan nisan
kita dipatok oleh ruang
disekat oleh waktu yang ringkih

Namun di balik dada yang sempit
Tuhan menyisipkan sebuah semesta tak berdinding
ruang maha luas bernama Iman dan Takwa

Lihatlah ke dalam jiwa sunyimu
Tuhan menurunkan sabar
bukan sebagai cangkir yang mudah penuh
melainkan samudera raya tanpa garis pantai
ia dilepaskan bebas
tanpa pasak
tanpa pembatas
sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman-Mu
menjadi otoritas mutlak dalam mengeja dunia

Ego seringkali bertingkah seperti dinding penjara
kita yang jemawa
dengan angkuh menggaris batas
berkata pada diri sendiri:
"Cukup, sabarku sudah habis."

Lalu kita menyalakan api
dari sumbu yang pendek
membiarkan ruang lapang menjadi sempit
dan menggantinya dengan ruang pamer kesombongan

Maka jangan pernah tudingkan jemari ke langit
jangan pernah kau salahkan ketetapan Tuhan yang Maha Adil
jika batasan-batasan yang kau ciptakan sendiri itu
kelak menjelma menjadi badai ancaman di hari depan
menjadi bencana senyap
meruntuhkan rumah kedamaian
setelah kau bangun dengan susah payah

Kehidupan ini pada hakikatnya
hanyalah sebuah perjalanan
hujan
dan airmata yang saling bertukar rupa
perjalanan adalah bentangan waktu yang menagih ketabahan
hujan adalah berkah yang seringkali menyamar sebagai kelam
dan airmata adalah bahasa paling jujur dari jiwa
saat ia mulai letih memikul beban keduniawian

Jika dadamu mulai sesak oleh gemuruh ketakutan
jika jiwamu gemetar menatap bayang-bayang ujian
atau ketika musibah datang tanpa mengetuk pintu rumahmu
hanya ada satu jalan untuk tetap tegak berdiri
tundukkan egomu serendah-rendahnya
runtuhkan menara keangkuhanmu
hingga menyentuh debu.

Menunduk bukan berarti kau kalah oleh keadaan
melainkan cara terbaik untuk meloloskan diri dari hantaman badai
sebab di titik paling rendah
saat kesombongan telah sirna
kesabaran itu akan berubah menjadi sayap lebar
ia membebaskanmu dari kungkungan rasa sakit
membuatmu terbang di atas masalah yang mendera

Sabar yang bebas adalah tidak lagi menghitung luka
ia adalah aksi paling berani di tengah kepasrahan
sebuah kebebasan sejati
di mana kau memilih untuk tetap memeluk damai
ketika dunia memberikanmu seribu alasan untuk mengamuk
ia tidak berkurang karena dicaci
ia tidak habis karena dikhianati

Ketahuilah, wahai pengembara di bumi fana
di ujung jalan yang basah oleh sisa badai
sabar adalah ketukan yang paling didengar di langit
ia adalah satu kunci utama yang membebaskan
yang akan membuka satu demi sekian banyak pintu Syurga
tempat di mana segala batas dan airmata
lebur menjadi kebahagiaan abadi


Mamuju Sul-Bar, 10/08/2022

AAB - Penyair Kok Jadi Penggosip

 

Penyair Kok Jadi Penggosip
By: Arif Agus Bege'h


Dulu jemarimu meraba langit
memetik bintang menjadi bait
bicara tentang luka alam dan cinta yang suci
dalam diksi yang membakar nurani

Tapi lihat dirimu hari ini
duduk di kedai kopi hingga larut pagi
bukan lagi mengejar rima atau metafora
tapi sibuk menguliti gosip sana, gosip sini

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
Celaka bagi mereka yang menjadikan lidah sebagai hulu ledak
merobek kehormatan manusia dalam rahasia
langkah mereka goyah tertatih menuju jurang sunyi yang penuh nestapa

Penyair kok beralih jadi penggosip?
gelar mulia kini melorot jatuh tersungkur
saat pena yang harusnya menuntun jalur jujur
malah sibuk mengorek aib yang terkubur

Alih-alih diskusi tholabul 'ilmi
mengejar berkah dan rida Ilahi
kau malah asyik nongkrong di sudut sepi
merangkai kata demi memuaskan dengki

Padahal kau tahu itu menebar fitnah
membuat ukhuwah sesama menjadi pecah
kalimatmu memicu badai kebencian yang bising
membakar kedamaian hingga hangus meruncing

Kalau pun yang kau ucap itu nyata dan fakta
tetap saja ia menjelma Ghibah yang mengerikan
bagaikan memakan bangkai saudara sendiri
menimbun dosa di dalam hati yang mati

Lembar putih yang dulu suci
kini penuh coretan dengki
kau tukar keagungan sebaris puisi
hanya demi riuhnya gunjingan sehari

Mana perbincangan tentang filsafat kehidupan?
mana gugatanmu atas ketidakadilan?
kini suaramu larut dalam remah obrolan
menghakimi hidup orang tanpa ampunan

Kau susun kata demi kata dengan begitu rapi
bukan lagi membangkitkan kesadaran jiwa manusia
melainkan menyisipkan narasi-narasi tersembunyi
hanya agar keburukan saudaramu terpampang nyata

Wahai pujangga
kembalilah ke meja kayumu
biarkan angin malam menjaga rahasia dunia
sebab tugasmu adalah menyembuhkan luka
bukan mengorek borok sesama manusia
sebab kata-katamu kelak akan dihisab
jangan sampai puisimu berbuah azab


Mamuju Sul-Bar, 03/07/2022

Sajak Menggugat Detik Yang Lesu


Menggugat Detik Yang Lesu
By: Arif Agus Bege'h


Umur manusia cuma sejengkal tanah!
kau pikir lima puluh tahun itu benteng yang abadi?
lihatlah ke belakang, kosong!
coba lihat lagi, kosong!
lihat sekali lagi, kosong kan?!
semua lenyap ditelan kepulan debu masa lalu!

Kita terengah-engah di ujung jalan,
mengutuk kaki yang lambat, mengutuk takdir yang melesat,
sementara sisa usia merangkak di depan kita,
meninggalkan tubuh yang payah dan rapuh!

Waktu tak pernah punya belas kasihan!
dia tak butuh rem, tak butuh negosiasi,
merus berputar, menggulung siang, melumat malam,
menyeret kita paksa ke lubang yang sama!

Baru kemarin matahari terbit dengan janji baru,
tahu-tahu kalender merobek dirinya sendiri,
tahun berganti tanpa permisi,
meninggalkan kita yang masih tertegun di sudut sepi!

Ingatkah kau gema takbir
Ramadhan yang lalu?
sujudmu belum kering, air matamu belum pudar,
tapi kini bulan suci itu sudah mengetuk pintu lagi,
menertawakan kelalaian kita yang gemar menunda!

Sekarang, angkat bicaramu! jawab pertanyaanku!
apa yang tersisa di dalam dadamu selain debar ketakutan?
setiap angka yang bertambah di kepalamu,
adalah lonceng kematian yang berdering lebih keras!

Kau bicara tentang pertambahan nilai?
nilai apa?!
harta yang membusuk di gudang?
atau pangkat yang akan terkubur bersama cacing?
jangan membual dengan teori-teori di hadapan maut!

Jika umur bertambah tapi jiwamu makin kerdil,
maka kau tak lebih dari seonggok daging yang berjalan!
dunia ini panggung sandiwara yang usang,
dan kita penonton yang lupa jalan pulang!

Hentikan tangisan tak berguna itu!
genggam sisa nafasmu, jadikan ia api!
sebelum tanah membungkam mulutmu selamanya,
tinggalkan jejak, atau hancur tanpa arti!


Mamuju Sul-Bar, 05/05/2022

Mengalir Tanpa Ikatan

 

Mengalir Tanpa Ikatan

By: Arif Agus Bege'h



Mencintai bukan tentang menyusun pasal-pasal

bukan pula perkara menandatangani lembar demi lembar janji

sebab saat jemari sibuk mengunci kepastian di atas kertas

kita sebenarnya sedang meragukan hati sendiri

membingkai rasa dalam ketakutan akan hari esok


Cinta adalah poros purba yang memutar roda waktu

menjadikan rentang tahun yang panjang terasa sekejap saja

ia adalah energi yang menghidupkan sekaligus merenggut

kekuatan alami yang tak butuh belas kasihan

apalagi sekadar sandiwara iba untuk melegitimasi ikatan


Katakan pada mereka yang mengira janji adalah segalanya

bahwa garis keturunan dan pengulangan generasi

tak pernah menjamin rasa akan menetap di tempat yang sama.

Ikrar sering kali menjelma menjadi berhala baru

pemanis bibir yang rapuh saat badai kehidupan mulai menyapa


Jika hidupmu kau serahkan pada kekakuan sebuah syarat

maka bersiaplah mendapati nurani yang terus menghakimi

waktu akan berjalan lambat dalam lingkaran keluh kesah

melelahkan jiwa tanpa pernah menghasilkan peluh yang berarti

lumpuh ditelan komitmen yang lahir dari keterpaksaan


Maka biarkan langkah ini melaju bebas tanpa jaminan

terus berjuang memelihara rasa tanpa beban ekspektasi

kita tidak perlu mengikat esok dengan sumpah yang berat

sebab esok adalah misteri yang bergerak liar

dan kita hanyalah pengembara yang meniti takdir


Kesepakatan yang sejati antara jiwa dan semesta

hanya terjadi sekali dalam keheningan yang paling sunyi

itu bukan kewenangan jemari kita untuk merumuskannya

bukan pula wilayah kuasa manusia untuk memaksakan kehendak

atas nama kesetiaan yang digelorakan


Sebab ketika cinta kau paksa tunduk dalam sebuah kontrak

saat itu pula ia kehilangan sayapnya untuk terbang

kenikmatan mencintai akan menguap begitu saja

menyisakan sebuah sangkar emas yang megah

namun kehilangan nyanyian burung di dalamnya



Mamuju Sul-Bar, 04/04/2022