AAB - Tragedi Mukiyah

Tragedi Mukiyah

By: Arif Agus Bege'h



Lantunan zikir tarekat mendadak sunyi di ujung malam

kitab kuning di sudut surau berselimut debu kecurigaan

pengabdian tulus membimbing jemari kecil mengeja Alif-Ba-Ta

kini dituding sebagai racun yang merusak aqidah


Kebenaran dibungkam oleh dogma penguasa mimbar

tasbih yang melingkar di jemari gemetar

kini dianggap mantra pemanggil teluh dan ingkar

kalam baitullah yang mengalir dalam darah

diadili lisan yang penuh amarah


Desas-desus liar merayap dari rumah ke rumah

ajaran batin yang suci diputarbalikkan menjadi aliran  sesat

sebuah nama mulia dikotori heresi tanpa tabayun

malam mencekam mengubah kedamaian kampung

menjadi tungku api yang siap menghanguskan keadilan


Selentingan tetangga menjelma  belati

menusuk punggung keyakinan yang dirawat setengah mati

mereka yang tak paham dalamnya samudra makrifat

dengan mudah menghakimi sesama sebagai ahli maksiat

pintu madrasah hancur didobrak kemarahan yang buta

Dar!


Obor menyala, menerangi wajah-wajah yang kerasukan amarah

“Keluar kau lelaki penyembah setan! Bakar saja surau sesat ini!”

caci maki berhamburan mengalahkan jernihnya suara kebenaran

“Demi Allah, ini jalan makrifat, bukan ajaran sesat!” ratap Mukiyah lirih

dari bilik bambu


Anak-anak mengaji menangis ketakutan

melihat tiang-tiang tempat mereka bersujud mulai dijilat api

asap hitam mengepul menyumbat jalan napas

bersama hilangnya rasa kemanusiaan yang lepas


Tanpa ruang bicara

tubuh ringkih nya diseret paksa

dihujani batu dan pukulan dari tangan-tangan yang merasa paling suci

bambu runcing dan balok kayu menghantam dada yang penuh asma


Darah segar mengalir dari pelipis

menetes di atas tanah yang tak berdosa

mereka berteriak mengagungkan nama Tuhan

sambil menginjak-injak hamba-Nya yang dalam kebingungan

“Angkut dia! Jangan biarkan provokator itu menghasut warga lebih jauh!”

bentak aparat sembari memborgol paksa

sepatu laras panjang ikut menekan tengkuknya ke bumi

memastikan tak ada lagi suara kebenaran yang bersemi


Tubuh lebam terkapar di tanah basah sebelum dilempar kasar ke dalam mobil

seragam hitam dan warga bersorak merayakan kemenangan semu

di dalam bak yang sempit dan pengap

Mukiyah memeluk erat sisa-sisa kesadarannya yang meredup

Mukiyah menatap langit dengan kepasrahan total

menembus jeruji besi yang dingin

mencari keadilan yang tak ia temukan di bumi manusia


Peradilan sesat kembali memakan korban rakyat kecil

meninggalkan surau yang sepi dan keadilan yang mati

kini hanya ada abu sisa pembakaran

dan tangis anak-anak yang kehilangan guru ngaji

di bawah hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah

nama Mukiyah terkubur dalam lembaran hitam sejarah yang salah



Mamuju Sul-Bar, 20/10/2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar