By: Arif Agus B
Ada suara yang selalu disambut tepuk tangan
ada pula suara yang bahkan tak diberi kursi
yang satu dipuji karena jabatan
yang lain dicurigai karena bertanya
Mengapa pertanyaan lebih ditakuti
daripada kesalahan yang terus diwariskan
mengapa telinga kekuasaan
lebih akrab dengan pujian
daripada kenyataan
Rakyat mengenal harga beras
buruh mengenal harga tenaga
petani mengenal harga panen
mengapa hanya suara manusia
tak pernah memiliki nilai
di meja keputusan
Gedung-gedung semakin tinggi
laporan-laporan semakin rapi
tetapi keluhan tetap berjalan kaki
di trotoar yang sama setiap hari
Di lorong gedung
seorang warga berkata
Aku datang membawa pertanyaan."
pejabat tersenyum tipis menjawab,
"Kami lebih membutuhkan dukungan daripada pertanyaan"
Warga menatapnya tanpa ragu,
"Kalau begitu, jangan sebut kami pemilik negeri,
jika suara kami hanya menjadi tamu.
Angka boleh tampak baik-baik saja,
tetapi kenyataan tak pernah pandai berbohong."
Lorong kembali sunyi
yang tertinggal bukan jawaban
melainkan gema pertanyaan
yang tak pernah diizinkan masuk
Barangkali negeri ini
tidak sedang kekurangan pidato
tidak sedang kekurangan janji
melainkan kekurangan telinga
yang benar-benar mau mendengar
Negara tidak runtuh karena rakyat
terlalu banyak bertanya
melainkan karena penguasa
terlalu sedikit mendengar
Mamuju Sul-Bar, 05/12/2022