AAB - Tatanan Rasa dan Semesta

Tatanan Rasa dan Semesta
By: Arif Agus Bege'h


Cinta yang sekadar lahir dari ketidaksengajaan
tidak akan pernah mampu menopang semesta
ia terlalu rapuh jika hanya bersandar pada peluang
tanpa akar yang menghujam tajam ke dalam kesadaran

Semestinya ia menjadi fondasi yang paling tegak
undang-undang pertama yang merawat peradaban manusia
bukan sebatas debar yang singgah lalu raib
melainkan hukum utama yang menjaga keseimbangan hidup

Sebab jauh sebelum langit merumuskan dogma
cintalah yang pertama kali memijak bumi ini
ia diutus sebagai kompas purba yang paling murni
menjadi terang bagi manusia yang baru meraba dunia

Namun seiring waktu kesucian itu perlahan buram
ketika rasa mulai dihunus sebagai senjata
manusia menyalahgunakan cinta demi menaklukkan
menghukum sesamanya atas nama kasih yang telah melenceng

Maka agama pun diturunkan ke dunia sebagai neraca pasti
membawa ketegasan dan deretan pagar pembatas
ia hadir mengemban tugas sebagai dasar hukum
untuk memperbaiki peradaban yang mempermainkan makna cinta

Lalu di antara segala rantai yang mengatur nasib
selemah-lemahnya peradilan tak lain adalah karma
sebuah hukum usang yang bekerja tanpa ruh dan kebijaksanaan
terjadi begitu saja hanya karena kebetulan sebuah keadaan

Pada akhirnya
putaran sebab-akibat tak lebih dari bayangan fana
di atas segala aturan dan pusaran nasib yang kebetulan
cinta yang utuh tetap berdiri teguh di puncak hierarki
bukan sebagai takdir yang kebetulan
melainkan kebenaran yang mutlak


Makassar, 15/12/2013

AAB - Kepingan Nyata

Kepingan Nyata
By: Arif Agus Bege'h


Bisik jiwaku sering kau acuhkan
tiap celah kaujadikan cela
meskipun cinta yang kutawarkan
adalah kebenaran paling nyata

Percayalah sayang
kita harus mencari
kepingan rindu yang sempat layu
meski cinta itu bersembunyi
di hatiku yang kauanggap kelabu


Makassar, 03/011/2013

AAB - Renjana Di Pelupuk Mata


Renjana Di Pelupuk Mata
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit yang senyap
waktu membeku dalam dekap
setiap detik adalah kenangan
hujan abadi di pelupuk mata

Angin berbisik pada dahan yang luruh
membawa pesan yang tak sempat tersampaikan
tentang jejak kaki yang terkikis debu
dan suara-suara yang kini menjadi bisu

Kita adalah dua baris sajak yang tak selesai
tergantung di antara fajar dan senja yang usai
mencoba mengeja arti dari sebuah kehilangan
di tengah keramaian yang terasa sunyi

Biarlah rindu ini tetap tinggal
menjadi prasasti di dinding hati yang kekal
sebab meski raga tak lagi searah
mamamu tetap menjadi doa yang paling indah

Waktu membeku dalam dekap
di bawah langit yang tetap senyap



Makassar,  22/09/2013

Temukan puisi ini di Youtube Judul Renjana Di Pelupuk Mata


AAB - Elegi Sang Pelindung Sunyi



"Cinta yang paling tinggi sering kali menyamar dalam bentuk kerendahan hati. Terkadang, seseorang rela dianggap kalah atau bodoh, hanya agar orang yang dicintainya tidak perlu menanggung beban perasaan yang lebih berat."

Elegi Sang Pelindung Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Telah kukirimkan air mata melalui celah sempit di dadaku
saat hati yang kaku ini hanya mampu mengeja tanda-tanda kesedihan
sementara bahagia telah lebih dulu menjemput perih di palung jiwaku

Lihatlah langit itu, sayang
ia tetap benderang, secerah ketulusan yang kupunya
hanya saja
engkau belum mampu mengusir kabut di jiwamu sendiri
hingga badai keraguan datang silih berganti menghantammu

Akulah lelaki hujan
yang turun untuk mengguyur jiwa yang lelah melewati ujian
akulah air matamu
yang jatuh untuk membasuh derita di atas sisa bahagia
agar engkau paham cara menyambut tragedi cinta dengan tabah
meski di matamu
aku hanyalah lelaki tercela
seorang pecundang yang berdiri di atas apa yang kau sebut kebodohanmu

Mungkin kelak
saat kesadaran itu menyapa
aku tak ingin engkau terjebak dalam penyesalan yang sia-sia.
sebab bunga yang pernah kau tanam akan tetap abadi di sini
di dalam hatiku
ia takkan pernah berubah warna
pun takkan hilang aromanya

Maafkan lelaki pecundang ini
yang dengan egonya
selalu membiarkanmu merasa bodoh karena cinta


Masamba Sul-Sel, 04/08/2013

AAB - Kebenaran Yang Menetap

Kebenaran Yang Menetap
By Arif Agus Bege'h


Andai rindu ini
dan cinta yang tumbuh di dada kita
adalah sebuah kebenaran
maka biarkan ia berdiri sendiri

Tak perlu lagi kita menoleh
atau membuka telinga
pada desah angin yang mampir
membawa keraguan yang tak pasti

Suara-suara itu sering kali datang
berkicau tanpa henti di telinga waktu
mencoba meretakkan dinding rasa
dan mengganggu ketenangan jiwa kita

Namun percayalah, Sayang...
langit di atas kita tak akan runtuh
hanya karena bisikan-bisikan asing
yang lewat sekilas

Sebab hati yang goyah
mudah retak oleh praduga
sebenarnya masih berjalan di pinggiran
dan belum menyentuh inti cinta sejati

Cinta sesungguhnya
memiliki akar yang menghujam dalam
tidak bergetar oleh badai kecil
tidak ciut oleh kicauan tak berarah

Dan ketahuilah dengan pasti
jiwa rapuh dan mudah bimbang itu
bukanlah milikku
bukan pula cerminan dari langkahku

Hatiku adalah rumah yang kau tuju
tempat yang sejak awal mula
telah engkau pilih dengan keyakinan
untuk meletakkan seluruh percayamu

Di sinilah kita berdiri
melampaui riuh yang sia-sia
menjaga kebenaran yang telah teruji
oleh waktu yang terus melaju


Masamba Sul-Sel, 02/07/2013

AAB - Liku Menuju Muara



Liku Menuju Muara
By: Arif Agus Bege'h


Langkahku tak pernah ragu
saat kelokan tajam membentang di depan
karena di ujung sana ada wajahmu yang menanti
menawarkan teduh yang paling dicari

Perjalanan ini terasa begitu singkat
meski jarak kerap bermain dengan sabar
aku melesat secepat kedipan mata
menembus sangsi meruntuhkan segala batas

Sebab senyummu adalah peta utama
yang selalu mengusik malam-malam sepi
menjelma mimpi yang enggan usai
dan rindu yang tak tahu cara untuk reda

Biar hujan membasuh lelah di pundak
atau airmata sesekali jatuh mengeja rindu
semua itu hanya riak kecil yang rapuh
di hadapan tekadku untuk bersamamu

Hingga tiba masanya kelak
dua nama kita akan terpahat abadi
menyatu dalam satu bingkai takdir
menua bersama senyum yang takkan pudar


Masamba Sul-Sel, 30/06/2013

AAB - Cinta Tak Terduga

Cinta Tak Terduga
By: Arif Agus Bege'h


Kau buat harapan mengetuk pintu bisu
terhalang dinding alasan yang kau susun baku
sementara di sini
cemas pelan mengkristal
menanti kepastian yang tak kunjung kekal

Jangan gantung jemari yang mengulur sunyi
ia bukan sekadar singgah membawa janji
ada detak dada yang sengaja disembunyikan
di balik simpati yang kau anggap figuran

Tengoklah kembali sebelum semua terlambat
sebab di balik sabar yang hampir tamat
ada cinta tak terduga tumbuh begitu megah
menolak rebah
meski pelan-pelan patah


Masamba Sul-Sel, 19/06/2013

AAB - Di Balik Seribu Cara


"Jika seribu cara belum mengubah nasib, mungkin saatnya mengubah sudut pandang. Hasil akan selalu mengikuti mereka yang tidak pernah berhenti merawat harapannya."

Di Balik Seribu Cara
By: Arif Agus Bege'h


Pada seribu jalan yang telah kutempuh
aku belajar bahwa penyesalan hanyalah debu
yang hinggap di pundak setelah lelah melangkah

Tak ada yang sia-sia
meski impian belum juga menyapa
di hadapan dua pilihan
iya atau Tidak
aku berdiri dengan kepala tegak
sebab perjalanan ini bukan tentang hasil yang fana
melainkan tentang bagaimana langkah kaki tetap terjaga
meski badai memaksanya beralih arah

Biarkan hujan membasuh letih di ubun-ubun
menghapus sisa ragu yang sempat membeku
dan jika pada akhirnya airmata harus jatuh
biarkan ia menjadi tinta
menuliskan kisah tentang seseorang yang tak pernah berhenti mencoba
seseorang yang tahu cara berdamai dengan takdirnya sendiri

Segalanya baik-baik saja
sebab di antara "iya" dan "tidak"
aku telah menemukan diriku yang sesungguhnya


Masamba Sul-Sel, 12/06/2013