AAB - Cermin Di Jalan Setapak



"Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


Cermin Di Jalan Setapak
By: Arif Agus Bege'h


Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
lupa bahwa debu yang kita injak
adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
milik mereka yang lelah sebelum sampai

Sesekali, langkah haruslah terhenti
membaca sunyi pada kaki yang pincang
menjadikan retakan di jalan orang lain
sebagai peta agar kita tak tersesat
sebab kesalahan adalah guru yang bisu
ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
menunggu kita mengulang langkah yang sama
di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

Kerendahan hati adalah cara kita menatap
menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
karena pada akhirnya
kita hanya sedang pulang
belajar dari luka yang telah usai
agar tak perlu kita rengkuh kembali


Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023

Sajak Mantera Jiwa


Mau tahu rahasia sebuah ucapan jadi nyata? Simak sajak ini..!

Mantera Jiwa
By: Arif Agus Bege'h


Ia bukan magis yang lahir dari asap dupa,
bukan pula rahasia yang terkubur di balik rupa.
Sebab getaran tertinggi tidak butuh upacara,
ia hanya butuh sebaris niat yang menyala.

Mantera hanyalah pakaian bagi sebuah rasa,
kalimat yang dipilih untuk mengikat masa.
Ketika bibir mengucap dan hati mengiyakan,
di sanalah hukum sebab-akibat mulai berjalan.

Tak perlu altar megah atau malam yang dikeramatkan,
jika jiwa telah bulat dalam satu ketetapan.
Sebab keajaiban tidak tunduk pada dekorasi,
ia patuh pada ketulusan yang murni di dalam diri.

Bahkan jika ia meluncur dari lisan yang tercela,
atau keluar dari pekatnya mulut sang buaya.
Kebenaran dari sebuah janji takkan pernah luntur,
ia tetap tegak, berjalan tanpa bisa diundur.

Kata-kata adalah kontrak yang tak tertulis,
antara tekad manusia dan takdir yang mengiris.
Sekali komitmen sejati telah dikunci,
seluruh semesta bergerak untuk menepati.

Maka jagalah setiap bahasa yang kau lepaskan,
ia bukan sekadar angin yang lewat di keheningan.
Ada daya yang hidup di balik setiap ketukan,
menjadi nyata lewat apa yang kau sepakati kemudian.

Sebab pada akhirnya, kekuatan itu sangat sederhana:
ia adalah janji setia antara kau dan pencipta rasa.
Tak peduli siapa atau bagaimana ia disuarakan,
jika tekad telah mengunci, wujudnya takkan tertahankan.


Mamuju Sul-Bar, 09/09/2023