Archive for 2010

  • "Ketika langkah kaki mulai kehilangan arah, carilah isyarat itu. Karena di mana pun kau melangkah, rindu akan selalu menemukan jalannya untuk pulang—meski harus lewat airmata."

    Isyarat Rindu
    Karya: Arif Agus Bege'h

    Isyarat rinduku padamu
    berkedip mengedip rasa di hati
    mengecup bibir yang kian mati
    terasalah ruh mengelayap
    menuju sebuah titik rintih
    saat semilir angin menyiasati sunyi
    di kala pejam matamu beralih

    Haruskah aku bertanya?
    dan mampukah kau menjawabnya?
    ketika titik rindu kini menutup mata kakimu yang lelah
    ke arah mana pun kelak kau melangkah
    di sanalah kepingan wajahku
    rindu yang kau cari tanpa jengah

    Mungkin esok kau menemukanku tanpa cinta
    maka isyaratkan padaku tentang sisa kenangan kita
    sebab kenangan itulah yang mengisyaratkan rinduku padamu;
    rindu yang bernyanyi sunyi
    tentang hujan yang membasahi kotamu

    Inikah isyarat rindu itu?
    menggelayut mengitari hati
    berkejaran bersama asa
    menempuh waktu yang panjang
    menuju belantara tragedi airmata
    sanggupkah kau menyapa kelak tanpa nestapa?
    saat aku berdoa dengan hantaran sabda
    yang siap menerpa semesta

    Dan kau pun akhirnya menangis
    dalam pasrah isyarat rinduku


    Sampodo Palopo Sul-Sel, 13/05/2010

    AAB - Isyarat Rindu

    0


  • "Meniti titik kehidupan sering kali memaksa kita berjalan di atas duri dan jeruji kegelisahan. Namun, ketika rindu dan tekad telah menjelma menjadi nyali, langkah yang tertatih pun akan tetap sampai pada tujuan. Jangan hiraukan pandangan mereka yang iri, sebab mereka hanya melihat hasil akhir tanpa pernah tahu seberapa berdarah-darah kita teruji."

    Meniti Titik
    By: Arif Agus Bege'h


    Satu jiwa merambahku dengan jalang
    suara rindu mendenting
    merayu insting
    kaukah yang bersiul bijak tanpa harap?
    atau akulah yang tergoda nasihat kalbu?
    atau mungkin gelisah yang basah

    Oh, rinduku...
    Segala sisi berjeruji dan berduri
    akan kulalui walau hati menari sebelum mati
    karena getaran itu telah menjelma nyali
    bernyanyilah
    menarilah
    membawa sekuntum sepi
    kulafal huruf merangkai kalimat sakti:
    Kau dan aku kini sembunyi

    Perlahan kaki melangkah
    tertatih namun pasti
    meniti malam hingga dini
    gumam tak lagi memaki
    sunyi mencambuk bagai cemeti

    Andai saja hatimu peduli
    tentu saja aku takkan menari sepi
    tapi kini aku berlari
    mencari
    menelusuri
    menjelajahi
    lalu meniti cinta yang siap mati

    Jika tak teruji
    kalian tak perlu iri


    Tarailu Sul-Bar,05/05/2010


    AAB - Meniti Titik

    0
  • Hujan Air Mata
    By: Arif Agus Bege'h


    Menghitung waktu dengan jari manis
    hingga membaca pun tanpa makna
    tak menulis karna berharap
    kini dirimu telah usai dipelukan sang raja
    permaisuri pun menertawakanku
    para mentri berpestapora
    dan panglima mehunus pedangnya

    seakan terbangun dalam mimpi buruk
    namun nyata menyelimuti kesedihan,
    tentukan nasib atau menanti kajabaiban,
    salahkan hujan yang menanam benih,
    benih air dan mata

    siapakah yang bisa membuangmu
    siapa pula yang mampu memisahkanmu dari tragedi atau hujan
    apakah tragedi hanyalah kenangan
    atau sejarah dalam ketulusan cinta
    dan aku takkan dapat menggores namamu
    di setiap sajak sajak yang tak bermakna di mata mereka
    karena kau telah diberi nama fitra

    air
    beranjaklah menggapai tangga keempat hingga lima nan pasti
    dalam hitungan makna yang akan kau tempuh
    hilangkan benci pada jiwa sang raja
    raja yang kalah oleh permaisurinya
    sungguh dirimu memanggil adik pada mata
    dan kau pun kuberi nama Nur Arifah Saputri

    mata
    kau hanyalah tragedi kebahagiaan
    meski air menghalangi pandangan mata
    namun kalian adalah buah dan jantung hati
    tak terpisah oleh apapun meski bentunturan atau tiga ketukan
    bahkan pemilik istana sekalipun
    dan kaupun kuberi nama Nur Jumanah Dwiputri

    sungguh bercahaya dalam makna dan nyata
    meski gelap pada hujan, atau berkilau pada mata
    namun gemerlap pada mata, hingga teriakannya tak pernah menggelegar
    tak sanggupmu menerobos hujan meski asa selalu
    namun tragedi takluk di pangkuanmu
    semoga mereka bercermin padamu
    sebagai makna cahaya terdahulu

    sampai kapan cahaya tak sampai pada ujung harapan
    hingga saat air dan mata mencari hujan
    tragedi berakir dalam kehausan makna sejati
    cinta memberi pilihan
    cinta memberi pertanyaan
    jawabanmu pada hujan
    hujan air mata


    Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009

    AAB - Puisi Hujan Air Mata

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -