Hadirkan Hujan
Oleh: Arif Agus Bege'h
Akankah aku menetap di ruang hatimu?
Di sana, rindu menggantung di antara hujan dan air mata,
terpintal dalam bantal dan lipatan kelambu.
Aku mendengar bisikan-bisikan getir,
tempat air mata dan jiwaku bersimpuh
di atas hamparan duka yang luas.
Namun, aku masih punya sisa asa,
meniti cinta, mendayung hingga ke muara kuasa-Nya.
Aku mengecap nikmat di antara fana dan sementara,
menemukan bahagia saat sunyi datang menyapa.
Di atas sajadah yang tak henti basah,
air mata meluruhkan warna-warni kaligrafiku,
meresap halus, menyapa jiwa yang dahaga di tengah banjir air mata.
Adakah salah jika mantramu tak kunjung memenuhi ruang?
Syairku lahir dari hati yang pernah mati—
mati karena cinta yang bersemayam di nisan yang belum bertuan.
Oh, Hujan...
Turunlah pada setiap jiwa dan raga yang berkeluh kesah,
basuhlah duka saat waktu tak lagi memihak.
Tarailu, Sulawesi Barat, 09/05/2010