AAB - Batas Dari Kelebihan

Batas Dari Kelebihan
By: Arif Agus B


Sekaya apa pun dirimu
jangan biarkan hartamu
menjadi timbangan
untuk menilai harga diri sesama

Setinggi apa pun jabatanmu
jangan gunakan kekuasaanmu
untuk menginjak mereka
yang berada di bawah

Seindah apa pun nasibmu
jangan jadikan keberuntunganmu
alasan untuk mengecilkan perjuangan
yang belum menemukan hasilnya

Sesuci apa pun langkahmu
jangan sibuk mencari noda
pada pakaian orang lain
hanya karena tanganmu tampak bersih

Setenang apa pun jiwamu
jangan remehkan badai
yang sedang diterjang
oleh hati orang lain

Seterang apa pun cahayamu,
jangan sampai sinarmu
menyilaukan mata
yang masih mencari jalan

Semulus apa pun perjalananmu
jangan tertawa di atas jejak kaki
yang masih berdarah
menempuh harapan

Sebijak apa pun ucapanmu
jangan biarkan nasihatmu
membungkam suara hati
yang sedang terluka

Sebaik apa pun niatmu
jangan paksa orang lain
memahami apa yang bahkan
belum sempat mereka pelajari

Sebesar apa pun pengorbananmu
jangan ubah jasamu menjadi rantai
mengikat kebebasan mereka
yang pernah kau tolong

Semurni apa pun cintamu
jangan biarkan kasih berubah
menjadi tuntutan memiliki
atau menguasai

Sedalam apa pun pemahamanmu
jangan jadikan ilmumu
sudut sempit yang memojokkan
mereka yang baru belajar

Setajam apa pun intuisimu
jangan gunakan kepekaanmu
untuk menghakimi rahasia
yang dipilih orang lain untuk disimpan

Sebebas apa pun langkahmu
jangan langkahi batas
yang menjaga ketenangan
dan martabat sesama

Sebanyak apa pun pengalamanmu,
jangan padamkan semangat
mereka yang baru menyalakan
langkah pertamanya

Ketahuilah
batas dari setiap kelebihanmu
agar nikmat tidak berubah menjadi sekat
agar berkah tidak menjelma menjadi jarak

Sebab manusia tidak dimuliakan
oleh apa yang dimilikinya
melainkan
cara ia memperlakukan sesamanya

Maka jadilah jembatan yang menghubungkan
bukan tembok yang memisahkan


Masamba Sul-Sel, 15/02/2025

AAB - Seduh



"Hidup tidak menunggu kita selesai berlari. Ia hanya ada saat kita berhenti sejenak, duduk, dan menyadari keberadaan kita sendiri."

Seduh
By: Arif Agus Bege'h


Kemarin telah terkunci rapat
bersama luka dan sisa hujan yang luruh
hari ini
aku hanya menyeduh waktu
menerima pahit dan harum yang bersetubuh

Perjalanan tak perlu digenggam erat
biarkan retak di jiwa memantul
sebab hidup dalam segala retak dan napasnya
hanya benar-benar ada saat kita menyadarinya


Masamba Sul-Sel, 01/02/2025