AAB - Kekasih Bunglon Di Ujung Tasbih

"Manusia bagaikan bunglon yang kerap berubah warna demi menyesuaikan diri dengan gemerlap dan pekatnya dunia. Namun sejauh apa pun kita merayap dalam kelamnya maksiat, hati kecil tidak akan pernah bisa berbohong. Selalu ada titik balik di mana sebuah doa mampu menghentakkan kesadaran, membawa kita pulang ke beningnya mata air pertobatan untuk bersujud di hadapan Sang Kekasih Abadi."

Kekasih Bunglon Di Ujung Tasbih
By: Arif Agus Bege'h


​Selir bertamasya di sebintang malam
melacak jejak tasbih yang bermunajat

​Ada bunglon menyusup ke lubuk hati
merayap di reranting sunyi
di antara redup malam dan cemooh jalang
melingkarkan raga pada kelam maksiat

​Pada rindang pohon di pinggiran kota
ia berpesta dalam remang
sengaja lupa pada hening air yang tenang

​Lalu, selembar doa tiba-tiba menghentak
kelap-kelip lampu luruh dalam kesunyian
sebab sang bunglon telah pulang ke pohon munajat
di sebening mata air yang berdetak

​Gemericik air kini berkidungkan tasbih
di selembar daun sajadah ia bertafakur
menyerahkan diri pada Sang Kekasih
di ujung malam, bibir mesra mengecap hidayah


Masamba Sul-Sel, 09/08/2011

AAB - Sebingkai Hati Pada Jiwamu

"Cinta yang tulus tidak selalu tentang memiliki raga, melainkan tentang bagaimana kita memindahkan seluruh rasa, doa, dan kepedulian kita ke dalam jiwa orang yang kita sayangi. Ketika cinta telah berhijrah dan menetap di hatinya, ego kita runtuh, dan yang tersisa hanyalah keinginan untuk melihatnya bahagia."

Sebingkai Hati Pada Jiwamu
By: Arif Agus Bege'h


​Pada larik-larik rindu di ujung jemari

reranting kata berpagut di dinding hati

bilakah ia ’kan kekal di kalbu

ataukah sekadar kenangan yang lalu?


​Pada jejal kisah di sepenggal raga

ku menemuimu dalam batas jiwa

terperangkap kasih di selayar kata

hingga yang nyata tak lepas dari maya


​Ada sayang menghangat di kalbu

saat hatiku bermukim di bahasamu

ketika malam melampaui cakrawala

jemariku berwirid menyebut namamu

menuju cinta-Nya yang abadi


​Sayang...

kini tak ada lagi cinta di sepanjang hati

pun tak ada kasih yang tersisa di kalbu

sebab semua telah berhijrah ke dalam jiwamu

mengakar indah di dalam rasamu



Masamba Sul-Sel, 09/08/2011

AAB - Hanya Satu Yang Kusayangkan


"Jangan biarkan riuh rendahnya dunia mendikte lirik kehidupanmu. Rawatlah keyakinanmu dengan takzim, meski dalam sunyi yang paling senyap. Sebab, kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa keras kita mampu berteriak menantang badai, melainkan dari seberapa tenang batin kita saat meredam gejolak di dalam diri."

Hanya Satu Yang Kusayangkan
By: Arif Agus Bege’h


Sangat liris ia berbisik
bahkan bayu dan musim tak diizinkan tahu
"Jangan kau gubah balada kolaborasi," pesannya
kurator rasa takkan sudi menaruh iba
Kecuali ia memang bukan pengasuh sastra
melainkan pemburu renjana dari peluh dan air mata

Begitu takzim ia merawat rindu
seolah semesta tak lagi boleh merayu, pun dirayu
Maka redamlah tangismu atas nama cinta
ia telah lekang
menguap tanpa welas asih
Kecuali jika kasihmu bukanlah cinta biasa
melainkan penghujan yang lahir dari telaga lara

Sangat bersahaja ia mengurai rasa
hingga sembilu tak lagi sanggup mengoyak batin
dan badai hasrat tak lagi berdeburan riuh
Namun mengapa
kau masih saja meminang gencatan?
Bila kelak waktu kembali mengetuk rindu
saat musim semi mulai melantunkan simfoni
dan kau masih saja limbung mencari arah
maka hanya ada satu hal yang paling kusayangkan
kau belum juga menemukan hulu dan jalur airmu

Sebab di sini
aku masih menanti bidadari turun
untuk bertamasya dan membasuh diri di mata airku
Namun, jika engkau yang melangkah datang
aku takkan lagi menunggu siapa-siapa


Rawamangun Luwu Utara, 09/08/2011

AAB - Pohon Kerinduan

Pohon Kerinduan
Oleh: Arif Agus Bege'h


Dalam bening malam,
detak detik beradu dengan gemericik air,
mengheningkan rembulan separuh di ujung langit.
Sejagad malam bersimponi,
melantunkan kidung-kidung doa.

Terpekur mataku memandangmu,
bersejagad di bawah naungan pohon-pohon rindang;
serupa bunglon yang kehilangan tempat bermunajat.

Adakah kerinduan dalam bening hatimu,
untuk menemuiku dalam alunan doa?
Sekadar ingin bersua di akhir malam,
bertegur sapa pada Sang Kekasih.

Tak ada lagi bunglon
di antara redup-redup malam.
Hanya ada tafakkur, menyeru kepada Rabb-Nya,
menemukan munajat pada Sang Terkasih.


Rawamangun, Luwu Utara, 09/08/2011