"Manusia bagaikan bunglon yang kerap berubah warna demi menyesuaikan diri dengan gemerlap dan pekatnya dunia. Namun sejauh apa pun kita merayap dalam kelamnya maksiat, hati kecil tidak akan pernah bisa berbohong. Selalu ada titik balik di mana sebuah doa mampu menghentakkan kesadaran, membawa kita pulang ke beningnya mata air pertobatan untuk bersujud di hadapan Sang Kekasih Abadi."
Kekasih Bunglon Di Ujung Tasbih
By: Arif Agus Bege'h
Selir bertamasya di sebintang malam
melacak jejak tasbih yang bermunajat
Ada bunglon menyusup ke lubuk hati
merayap di reranting sunyi
di antara redup malam dan cemooh jalang
melingkarkan raga pada kelam maksiat
Pada rindang pohon di pinggiran kota
ia berpesta dalam remang
sengaja lupa pada hening air yang tenang
Lalu, selembar doa tiba-tiba menghentak
kelap-kelip lampu luruh dalam kesunyian
sebab sang bunglon telah pulang ke pohon munajat
di sebening mata air yang berdetak
Gemericik air kini berkidungkan tasbih
di selembar daun sajadah ia bertafakur
menyerahkan diri pada Sang Kekasih
di ujung malam, bibir mesra mengecap hidayah
Masamba Sul-Sel, 09/08/2011
