AAB - Setelah Satu Halaman

Setelah Satu Halaman
By: Arif Agus B


Setiap pagi
gedung itu membuka pintunya
lebih awal daripada matahari
rak-raknya penuh
bukunya bertambah dan
halamannya menua dengan anggun

Tetapi ada sesuatu yang diam-diam menghilang
bukan buku
bukan pula coretan tinta
melainkan manusia yang bersedia datang
membaca dirinya sendiri

Aneh
semakin banyak kepala dipenuhi kutipan
semakin sedikit hati yang mampu mendengarkan
lidah berlomba menjadi pengeras suara
sedangkan telinga memilih pensiun sebelum waktunya

Mereka hafal nama-nama besar
fasih mengulang teori
mereka pandai mengutip
segala macam kebijaksanaan
namun ketika kehidupan mengajukan satu pertanyaan
mereka justru sibuk mencari catatan kaki

Barangkali pengetahuan
telah berubah menjadi lemari pajangan
disusun rapi
dibersihkan
dikagumi setiap hari
namun sayang
ia tak pernah benar-benar dipakai
menghadapi derasnya hujan

Ada orang yang mampu
menjelaskan arti kejujuran
secara mendalam dalam seratus halaman
namun gagal mengucapkan satu kalimat jujur
kepada dirinya sendiri

Ada pula yang lantang
mengajar tentang ketenangan
suaranya tenang
bahasanya tenang
wajahnya tenang
tetapi di dalam dada
suasananya jauh lebih gaduh
daripada pasar menjelang petang

Ilmu bukan mahkota
atau hiasan dinding untuk dipamerkan
ia seharusnya menjadi jendela yang lapang
semakin dibuka
semakin banyak cahaya masuk
bukan malah meninggikan tembok penghalang

Sebab kebesaran sejati
lahir dari kerendahan hati
di hadapan hal-hal yang belum kita pahami
pada akhirnya
buku tidak pernah merasa pintar
hanya manusia
merasa mengerti seluruh kehidupan
setelah satu halaman


Masamba Sul-Sel, 15/12/2025

AAB - Topeng Yang Rapuh



"Jangan menyesal jika kejujuranmu melukai mereka; sebab terkadang, kebenaran adalah satu-satunya obat yang mampu menyadarkan jiwa dari candu kebohongan yang mematikan."

Topeng Yang Rapuh
By: Arif Agus Bege'h


Kejujuran adalah pedang bermata dua
ia memangkas duri di jalan yang benar
namun seringkali melukai mereka yang terbiasa
mencari kenyamanan di balik topeng yang samar

Bagi mereka
kebenaran adalah badai yang mengusik
menghancurkan istana pasir yang dibangun dari dusta
mereka memilih menelan madu yang beracun
daripada mencicipi pahitnya kenyataan yang menjaga jiwa

Engkau memberinya cermin yang jernih
namun ia lebih suka bayangan yang menipu
dunia yang kau tawarkan terasa terlalu perih
karena meruntuhkan segala khayal yang semu

Mereka membutuhkan dusta sebagai penopang
agar hari-harinya tetap terasa hangat di dada
sebab saat kejujuran datang menerjang
runtuhlah semua kenyamanan yang mereka jaga

Karena pada akhirnya,
Ada hati yang enggan melihat dunia apa adanya;
Mereka hanya ingin dunia yang membenarkan,
Segala keinginan yang mereka sembunyikan.


Masamba Sul-Sel, 11/11/2025 

AAB - Kebenaran Tidak Dijual Sepotong

Kebenaran Tidak Dijual Sepotong
By: Arif Agus B


Sebuah kota
gemar mencetak stempel
mejanya tak pernah lengang
setiap hari
lahir cap baru
untuk dahi manusia

Seseorang terlambat sekali
malas
seorang lain terlalu banyak diam
sombong
yang berjalan sendiri
aneh
yang sering tersenyum
berpura-pura

Begitulah
sebuah kehidupan disusutkan
hingga muat di sepotong cap
seukuran ibu jari
padahal musim tak pernah selesai
dalam satu sore

Lalu mengapa nasib seseorang
disimpulkan dari satu peristiwa?
pohon tua menyimpan lebih banyak cincin
daripada yang tampak di permukaan kulitnya

Demikian pula manusia
setiap tatapan membawa malam
setiap tawa
pernah melewati lorong yang sepi
setiap ketegaran
diam-diam mewarisi retakan

Namun dunia terlalu tergesa
kesabaran dikalahkan oleh kesimpulan
rasa ingin tahu
digantikan oleh prasangka

Barangkali itulah sebabnya
banyak persahabatan mati
sebelum sempat
mengenal nama kecil
satu sama lain.

Betapa murah
sebuah penilaian
cukup satu kabar
satu potongan cerita
satu sudut pandang
selebihnya imajinasi
menyelesaikan penghakiman
padahal kebenaran
tidak pernah lahir dari potongan

Ia memerlukan kesediaan
menempuh seluruh perjalanan
mungkin yang paling sulit
bukan memahami orang lain
melainkan menunda keinginan 
menjadi hakim atas kisah yang bahkan
belum selesai ditulis


Masamba Sul-Sel, 11/10/2025

Sajak Keberuntungan



Sering kali, dunia hanya melihat hasil akhir dan menyebutnya sebagai sebuah kebetulan atau keberuntungan semata. Namun malam ini, kita ingin menengok lebih dalam. Bahwa di balik setiap takdir baik yang berkilau, selalu ada kekuatan rahasia yang menempa—sebuah kesiapan yang dirawat dalam sunyi, dan ketangguhan yang menolak untuk menyerah.
Menyambut momentum dan langkah perjuangan kita, inilah: Sajak Keberuntungan.

Keberuntungan
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit yang kerap merahasiakan tanda,
kita berjalan di atas garis yang fana.
Orang-orang melihat sebuah akhir yang gemilang,
lalu menyebutnya kebetulan yang datang bertandang.

Mereka tak melihat jejak kaki yang berdarah,
menolak takluk pada kata menyerah.
Sebab tuah tak pernah datang pada hati yang mati,
ia hanya singgah pada jiwa yang teguh menanti.

Bukan sekadar lemparan dadu di atas meja,
keberuntungan adalah buah dari kerja rahasia.
Ia adalah anak panah yang telah lama diraut,
menunggu busur ditarik tanpa ada rasa takut.

Ada ketajaman mata untuk membaca arah angin,
di antara pekat malam dan dingin yang menggigit batin.
Sebab peluang sering kali datang dengan menyamar,
menjadi rintangan yang membuat nyali bergetar.

Hanya mereka yang memiliki kekuatan bertahan,
yang mampu mengubah badai menjadi kawan.
Mengumpulkan sisa pecah batu di jalanan,
menjadikannya fondasi bagi sebuah bangunan.

Saat pintu gaib kesempatan terbuka sekejap,
ia yang bersiap tak lagi butuh meraba dalam gelap.
Tangan yang terampil langsung mendekap momentum,
mengubah sunyi menjadi bunga yang ranum.

Maka kilau nasib baik ini bukanlah sihir,
bukan pula hadiah cuma-cuma yang mengalir.
Ia adalah jabat tangan antara waktu dan kesiapan,
puncak tertinggi dari sebuah kekuatan yang disembunyikan.


Bahodopi Sul-Teng, 17/09/2025

AAB - Untuk Sang Putri Hujan

 


"Meski raga seseorang yang kita cintai telah tiada dan terpisahkan oleh dimensi yang berbeda (fana dan baka), rasa cinta dan kenangan yang ditinggalkan tidak akan pernah terkikis oleh waktu."

Untuk Sang Putri Hujan
By: Arif Agus Bege'h



Kelabu langit meluruhkan gerimis
membasahi tanah, menyalakan rindu
pada sebuah nama yang tak pernah kikis
menggema sunyi di ruang kalbu

Wahai Sang Putri Hujan...
kepergianmu meninggalkan senyap memanjang
di atas pusara basah air mata
jemari bertaut, doa-doa melangit lantang

Nisan beku ini saksi batin yang lara
bahwa rindu tak tersekat fana dan baka
kau adalah rintik penyejuk jiwa
meski raga kini gaib dari netra

Damailah engkau dalam keabadian
di dekap tenang tempat senyuman
biar untaian doa menjadi jembatan
penyimpul rindu yang takkan terputuskan


Morowali Sul-Teng, 12/09/2025

AAB - Alasan Bertahan


Di balik setiap lelah dan ketidakpastian yang kita hadapi dalam hidup, selalu ada alasan kuat yang membuat kita menolak untuk menyerah. Alasan itu sering kali mewujud pada senyuman orang-orang tercinta yang kita perjuangkan. Ketika arah dan masa depan tampak kabur seperti teka-teki, dan langkah kaki harus menembus derasnya hujan air mata, ingatlah bahwa ketulusan seorang pejuang tidak diukur dari seberapa mulus jalannya, melainkan dari keteguhan hatinya untuk terus melangkah demi mereka yang menjadi denyut nadinya.

Alasan Bertahan
(Putra Putriku)
By: Arif Agus Bege'h


Dua pasang mata menjadi jangkar
saat badai membuat arahku bertukar
mereka adalah denyut di dalam dada
alasan mutlak aku harus tetap ada

Cinta kini menjelma teka-teki
tak kupahami ke mana membawa kaki
arah dan tujuannya kabur di dalam kabut
namun genggaman ini tak akan luput

Meski hujan air mata menderas di langkahku,
membasahi jalanan yang penuh ragu
aku akan terus berjalan menembus sunyi
menepati sejuta harapan yang telah berjanji

Tak akan aku berhenti atau berbalik arah
meski letih merayap membujuk pasrah
sebab melangkah demi mereka adalah takdir
sebuah poros lurus yang tak akan berakhir

Hingga suatu saat di ujung masa nanti
ketika wujud cinta tak lagi kukenali
jejak hari-hariku akan menjadi saksi
mereka telah kuperjuangkan sepenuh hati


Bahodopi Sul-Teng, 09/09/2025

AAB - Runtuhnya Tirani


"Jangan pernah berharap pada perubahan jika kita masih memelihara pelaku yang sama. Sebab untuk membangun keadilan yang sejati, kita harus berani meruntuhkan tirani hingga ke akar-akarnya.

Runtuhnya Tirani
By: Arif Agus Bege'h


Sejarah tak pernah ditulis tenang
ia basah oleh peluh dan darah
sistem yang kokoh membatu
menjadi tirani yang menindas waktu

Wajah-wajah itu masih sama
menjaga takhta dalam sandiwara
mereka karang
kita arusnya
harus runtuh sampai ke akarnya

Tak ada guna menambal bejana
jika retak sudah di jiwa
perlawanan bukan lagi pilihan
melainkan jalan menuju pembebasan

Tuntas adalah harga mati
agar fajar tak lagi tersembunyi
runtuhkan yang lama dan busuk
bangun keadilan
meski harus menusuk.


Morowali Sul-Teng, 30/08/2025

AAB - Sang Pengemudi Waktu



"Jangan menyesali rute yang salah, karena setiap tikungan adalah guru bagi sang pengemudi. Kedewasaan bukanlah tentang ke mana kendaraan itu melaju, melainkan tentang seberapa tenang hati kita saat memegang kendali di tengah badai."

Sang Pengemudi Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Tubuh ini hanyalah raga yang diam
namun kepribadian adalah ruh yang bergerak
ia sang pengemudi yang menempuh jalan
melewati terjalnya usia dan curamnya pengalaman

Kita tak pernah benar-benar sampai
karena setiap kilometer mengubah cara pandang
pengemudi hari ini bukan lagi diri yang dulu
ia telah ditempa oleh badai dan teduhnya senja

Tak perlu mencari kemiripan di jalanan
sebab setiap jiwa memiliki peta yang unik
biarkan dirimu melaju dengan caramu sendiri
karena keindahan perjalanan terletak pada kendali yang berani


Morowali Sul-Teng, 17/08/2025 

AAB - Fatamorgana Sebuah Batas

 


"Saat kita berkata 'kesabaran ada batasnya', sebenarnya kita sedang menutup pintu-pintu rezeki. Sebab rezeki mencari jiwa yang sanggup meluaskan cakrawala hati."

Fatamorgana Sebuah Batas
By: Arif Agus Bege'h


Sabar bukan bejana terbatas
bukan pula titik yang lekas tumpah
batas itu hanyalah fatamorgana
garis ego yang kita lukis sendiri

Saat kau sebut sabar berbatas
kau sedang mengunci pintu rezeki
sebab berkah enggan memeluk jiwa
yang berhenti di tepian lelah

Rezeki mencari hati yang luas
menunggu sabar yang tak bertepi
bukan untuk mereka yang menyerah
saat ujian datang menyapa diri

Kesabaran adalah perjalanan panjang
bukan pemberhentian yang semu
meluaslah melampaui logika sempit
agar semesta memberi jalan pulang

Jangan batasi sabarmu hari ini
karena setiap inci yang kau luaskan
adalah pintu berkah yang terbuka
membuka jalan bagi rezeki tak terduga


Batas Sulsel - Sulteng, 11/07/2025

AAB - Penyair Di Kolong Jembatan

Penyair Di Kolong Jembatan
By: Arif Agus Bege'h


Di sudut kedai yang riuh oleh mesin dan gawai
seorang lelaki menatap kalimat di kertas buram
dunia bergerak cepat memuja angka dan hitungan
mengejar segala yang lekas mendatangkan uang
ia tahu kata-katanya tak lagi punya harga

Dulu
sajak adalah api barisan perlawanan
peluru tak kasat mata di tengah ketidakadilan
kini, bait-bait itu menjelma pajangan bisu
dilewati orang yang bergegas mengejar setoran
"Woy, apa gunanya puisi jika tak mampu membeli beras, ha ha ha penyair goblog?"
begitulah anggapan mereka

Penyair kini terpojok di sudut zaman
diadili keadaan yang menuntut hasil nyata
mereka ditagih pertanggungjawaban yang jelas
berapa harga satu diksi untuk sesuap nasi?
pertanyaan itu menyumbat tenggorokan yang lapar

Jalanan tak butuh kertas berisi duka jelata
sebab kaum miskin sibuk mencari rupiah
buruh pabrik pulang dengan pundak yang remuk
tak ada waktu membaca kalimat
tentang nasib yang salah
sajak-sajak itu mengambang tanpa guna

Di ruang rapat
orang berdebat arti keindahan
di luar
penggusuran berjalan tanpa kasihan
puisi tak mampu menahan besi buldozer
pun tak bisa memberi makan kami di kolong jembatan
tinta mengalir kalah oleh kenyataan pahit

Mereka dituduh pemalas yang memelihara mimpi
hidup dalam kesedihan tanpa menghasilkan apapun
sumbangan mereka dinilai nol dalam hitungan uang
di mana setiap tenaga harus menjadi keuntungan
penyair itu asing di tanah kata-katanya sendiri

Namun di kolong jembatan yang kumuh dan pengap
penyair itu tetap menulis tanpa mengharap upah
ia bukan lagi pemimpin yang membawa perubahan
melainkan orang yang mencatat luka agar tak kehilangan jiwa
salah satu cara terbaik menjaga hati tetap hidup


Masamba Sul-Sel, 07/06/2025

AAB - Benteng Berdaulat


Benteng Berdaulat

By: Arif Agus Bege'h



Aku mempertebal dinding ego ini
bukan untuk menantang badai atau melukai
melainkan mendirikan benteng sunyi,
tempat prinsip berdiri tegak menghalau tirani
Di bawah sana
kelicikan dunia menganga
merayap dengan cakar-cakar tipu daya
namun takkan menyentuh mahkota jiwa
selama pondasi nilai diri masih terjaga
Benteng ini tidak mengurung langkahku
ia hanya menyaring siapa yang berhak bertamu,
menjaga hal-hal berharga di dalam dadaku
agar tidak dijarah oleh bisingnya waktu



Masamba Sul-Sel, 22/05/2025

Sajak Istigfar Kadaluarsa

 

"Kita adalah seniman ulung yang pandai bersandiwara. Mulut sibuk mengetuk pintu ampunan, sementara hati diam-diam sedang merancang jadwal dosa untuk esok hari. Sebuah tamparan untuk diri saya sendiri... Istigfar Kedaluwarsa."

Istigfar Kedaluwarsa
By: Arif Agus Bege'h


Mulutku begitu fasih mengucap istigfar
setelah noda hitam selesai kurajut dalam gelap
air mata buatan menetes di atas sajadah
berpura-pura menyesali khilaf yang telanjur nikmat

Namun di sudut hati yang paling sunyi
sebuah bisikan iblis justru sedang menari
ia membatin dengan sangat riang:
"Besok sore, seru juga kalau diulangi lagi."

Sungguh komedi iman yang tak tahu malu
meminta ampunan hanya untuk mengosongkan ruang
agar dosa berikutnya punya tempat yang lapang
untuk kembali ditimbun tanpa rasa ngeri

Aku menjadikan taubat sebagai masa jeda
bukan akhir dari sebuah perjalanan sesat
meremehkan murka Sang Maha Mengetahui
seolah neraka hanyalah cerita fiksi penakut

Tuhan
runtuhkan keangkuhan tobat yang palsu ini
sebelum ajal datang memutus kontrak maksiat
ganti debar haram di dada ini
menjadi ketakutan yang jujur pada siksa-Mu


Masamba Sul-Sel, 24/04/2025

AAB - Bukan Sekedar Berani


"Janganlah menilai seseorang hanya dari seberapa besar keberaniannya dalam mengambil risiko. Nilailah ia dari seberapa besar keberaniannya untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan saat pilihannya tidak berjalan sesuai rencana. Keberanian yang sejati tidak lari saat ia salah; ia berdiri, menerima, dan belajar."

Bukan Sekadar Berani
By: Arif Agus Bege'h


Di rimba nasib yang liar dan buta
keberanian hanyalah gerak naluri
melompat tanpa tanya menerjang tanpa jeda
seperti binatang yang tak kenal hari nanti
hanya lapar dan ingin yang membakar diri

Namun menjadi manusia adalah soal lain
tentang berdiri tegak saat badai menghantam
bukan sekadar berani memecah batin
tapi berani memeluk luka yang terpendam
dan menanggung beban di tengah malam yang kelam

Sebab keberanian tanpa pikul tanggung jawab
hanyalah debu yang diterbangkan angin sesaat
tampak gagah di permukaan namun kosong di jawab
menyisakan puing penyesalan yang terpahat
pada jejak kaki yang hilang sebelum sempat melihat

Kita adalah pengemudi atas pilihan sendiri
keberanian hanyalah akselerasi di atas aspal
tapi tanggung jawablah yang menjaga kemudi
agar tak karam di jurang yang paling dangkal
saat ego berteriak
namun nurani harus menangkal

Maka jika kau tanya apa itu sejati berani
ia bukan tentang siapa yang paling cepat melaju
tapi siapa yang tersisa berdiri di ujung sini
ketika konsekuensi menagih janji yang dulu terpaku
berani berbuat
berani menanggung restu waktu


Palopo Sul-Sel, 07/04/2025

AAB - Ketakutan Yang Berpakaian Rapi

Ketakutan Yang Berpakaian Rapi
By: Arif Agus B


Di sebuah kota
ada pintu yang usianya lebih tua
daripada para penghuni rumah

Anehnya
engsel masih tetap mengilap
tak ada goresan
tak ada debu
atau bekas telapak tangan
tak ada bunyi yang menandakan
ia pernah dibuka

Semua orang memujinya
"Indahnya"
"Kokohnya"
"Sempurna"
mereka berfoto di depannya
mereka menulis kekaguman
pada dinding-dinding percakapan
namun tak seorang pun berani
memutar gagangnya

Mereka takut
ada ruangan yang tak sesuai
dengan bayangan
takut langkah pertama lebih kecil
daripada harapan
takut gagal
padahal tak ada pintu
yang diciptakan
untuk dipandang selamanya

Ada yang menghabiskan
bertahun-tahun memoles rencana
mengukur kemungkinan
merapikan impian
hingga akhirnya
umur lebih dulu menutup jendela
sementara pintu tetap berdiri
sebagai benda yang tak pernah menjalankan takdirnya

Kesempurnaan
barangkali adalah ruang tunggu
yang paling ramai
di sana
banyak cita-cita duduk berjajar
nomornya tak pernah dipanggil

Mereka berkata
"Nanti,
kalau sudah siap ya ustads!"
padahal kesiapan
sering lahir setelah kaki berani melangkah
bukan sebelumnya

Lihatlah benih
ia tidak menunggu menjadi pohon
baru bersedia menembus tanah

Lihatlah sungai
ia tidak meminta peta sebelum mengalir

Hanya manusia
yang kerap ingin mengetahui
seluruh akhir cerita
sebelum bersedia membuka
halaman pertama
lalu waktu
diam-diam mengemasi musim

Kesempatan
berjalan keluar
tanpa menutup pintu
dan orang-orang itu masih berdiri
mengagumi kesempurnaan
yang ternyata
hanyalah nama lain dari
ketakutan yang berpakaian rapi


Masamba Sul-Sel, 15/03/2025

AAB - Batas Dari Kelebihan

Batas Dari Kelebihan
By: Arif Agus B


Sekaya apa pun dirimu
jangan biarkan hartamu
menjadi timbangan
untuk menilai harga diri sesama

Setinggi apa pun jabatanmu
jangan gunakan kekuasaanmu
untuk menginjak mereka
yang berada di bawah

Seindah apa pun nasibmu
jangan jadikan keberuntunganmu
alasan untuk mengecilkan perjuangan
yang belum menemukan hasilnya

Sesuci apa pun langkahmu
jangan sibuk mencari noda
pada pakaian orang lain
hanya karena tanganmu tampak bersih

Setenang apa pun jiwamu
jangan remehkan badai
yang sedang diterjang
oleh hati orang lain

Seterang apa pun cahayamu,
jangan sampai sinarmu
menyilaukan mata
yang masih mencari jalan

Semulus apa pun perjalananmu
jangan tertawa di atas jejak kaki
yang masih berdarah
menempuh harapan

Sebijak apa pun ucapanmu
jangan biarkan nasihatmu
membungkam suara hati
yang sedang terluka

Sebaik apa pun niatmu
jangan paksa orang lain
memahami apa yang bahkan
belum sempat mereka pelajari

Sebesar apa pun pengorbananmu
jangan ubah jasamu menjadi rantai
mengikat kebebasan mereka
yang pernah kau tolong

Semurni apa pun cintamu
jangan biarkan kasih berubah
menjadi tuntutan memiliki
atau menguasai

Sedalam apa pun pemahamanmu
jangan jadikan ilmumu
sudut sempit yang memojokkan
mereka yang baru belajar

Setajam apa pun intuisimu
jangan gunakan kepekaanmu
untuk menghakimi rahasia
yang dipilih orang lain untuk disimpan

Sebebas apa pun langkahmu
jangan langkahi batas
yang menjaga ketenangan
dan martabat sesama

Sebanyak apa pun pengalamanmu,
jangan padamkan semangat
mereka yang baru menyalakan
langkah pertamanya

Ketahuilah
batas dari setiap kelebihanmu
agar nikmat tidak berubah menjadi sekat
agar berkah tidak menjelma menjadi jarak

Sebab manusia tidak dimuliakan
oleh apa yang dimilikinya
melainkan
cara ia memperlakukan sesamanya

Maka jadilah jembatan yang menghubungkan
bukan tembok yang memisahkan


Masamba Sul-Sel, 15/02/2025

AAB - Seduh



"Hidup tidak menunggu kita selesai berlari. Ia hanya ada saat kita berhenti sejenak, duduk, dan menyadari keberadaan kita sendiri."

Seduh
By: Arif Agus Bege'h


Kemarin telah terkunci rapat
bersama luka dan sisa hujan yang luruh
hari ini
aku hanya menyeduh waktu
menerima pahit dan harum yang bersetubuh

Perjalanan tak perlu digenggam erat
biarkan retak di jiwa memantul
sebab hidup dalam segala retak dan napasnya
hanya benar-benar ada saat kita menyadarinya


Masamba Sul-Sel, 01/02/2025 

AAB - Terikat Air Mata

"Jangan takut tersesat di tengah rimba kehidupan. Kadang, justru di tempat yang paling sunyi, kita menemukan diri kita yang sebenarnya."

Terikat Air Mata
By: Arif Agus Bege'h


Laut selalu tahu cara pulang ke pelukan pantai
seperti aku yang terikat pada langkahmu yang usai
sumpah ini karam
tenggelam di balik cakrawala
tak lagi bicara tentang temu yang ada hanya sisa luka

Ombak memecah sunyi menjadi kepingan rindu
menyapu pasir yang kini hanya menyimpan debu
kita adalah sepasang saksi di bibir samudra
yang menolak beranjak meski diterjang dahaga

Airmata tak pernah benar-benar mengering
ia menggenang
menjadi laut yang paling hening
menampung asinnya janji yang dulu kita rangkai
sebelum akhirnya waktu membuat kita terurai

Cintaku adalah jangkar yang patah di kedalaman
abadi, meski tak pernah sampai pada pelabuhan
ia tetap setia dalam dekapan malam yang dingin
seperti doa yang luput dari pendengaran angin

Sebab di sini
di antara pantai dan laut yang pilu
airmata adalah satu-satunya bahasa tentangmu
Ia tidak usai
ia hanya diam dalam keabadian
menjadikan perpisahan sebagai satu-satunya tujuan


Pantai Padapu Sul-Teng, 06/01/2025

AAB - Jejak Yang Menagih



"Keserakahan akan produktivitas adalah bentuk pengabaian terhadap diri sendiri. Menuruti kesenangan tanpa mengenal batas, pada akhirnya akan meminta pertanggungjawaban dari tubuh kita di masa tua."

Jejak yang Menagih
By: Arif Agus Bege'h


Jemari Ibu
saksi rajin yang tak pernah lelah
merajut kasih di atas kain dan mesin tua
Lentik
ayu
tanpa keluh dalam setia

Kini jemariku menagih haknya
Setelah puluhan tahun kupacu dalam ambisi
memasak
menulis
bermain musik tanpa henti

Dokter menyebutnya overused
aku menyebutnya saksi dari keserakahan diri
menyelesaikan banyak hal lupa menabung sunyi

Kini kutahu
hobi memang memanjakan jiwa
namun tubuh juga perlu jeda
agar masa tua tak sekadar sisa
tapi sisa yang berharga


Masamba Sul-Sel, 01/01/02025