Kebenaran Tidak Dijual Sepotong
By: Arif Agus B
Sebuah kota
gemar mencetak stempel
mejanya tak pernah lengang
setiap hari
lahir cap baru
untuk dahi manusia
Seseorang terlambat sekali
malas
seorang lain terlalu banyak diam
sombong
yang berjalan sendiri
aneh
yang sering tersenyum
berpura-pura
Begitulah
sebuah kehidupan disusutkan
hingga muat di sepotong cap
seukuran ibu jari
padahal musim tak pernah selesai
dalam satu sore
Lalu mengapa nasib seseorang
disimpulkan dari satu peristiwa?
pohon tua menyimpan lebih banyak cincin
daripada yang tampak di permukaan kulitnya
Demikian pula manusia
setiap tatapan membawa malam
setiap tawa
pernah melewati lorong yang sepi
setiap ketegaran
diam-diam mewarisi retakan
Namun dunia terlalu tergesa
kesabaran dikalahkan oleh kesimpulan
rasa ingin tahu
digantikan oleh prasangka
Barangkali itulah sebabnya
banyak persahabatan mati
sebelum sempat
mengenal nama kecil
satu sama lain.
Betapa murah
sebuah penilaian
cukup satu kabar
satu potongan cerita
satu sudut pandang
selebihnya imajinasi
menyelesaikan penghakiman
padahal kebenaran
tidak pernah lahir dari potongan
Ia memerlukan kesediaan
menempuh seluruh perjalanan
mungkin yang paling sulit
bukan memahami orang lain
melainkan menunda keinginan
menjadi hakim atas kisah yang bahkan
belum selesai ditulis
Masamba Sul-Sel, 11/10/2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar