AAB - Setelah Satu Halaman

Setelah Satu Halaman
By: Arif Agus B


Setiap pagi
gedung itu membuka pintunya
lebih awal daripada matahari
rak-raknya penuh
bukunya bertambah dan
halamannya menua dengan anggun

Tetapi ada sesuatu yang diam-diam menghilang
bukan buku
bukan pula coretan tinta
melainkan manusia yang bersedia datang
membaca dirinya sendiri

Aneh
semakin banyak kepala dipenuhi kutipan
semakin sedikit hati yang mampu mendengarkan
lidah berlomba menjadi pengeras suara
sedangkan telinga memilih pensiun sebelum waktunya

Mereka hafal nama-nama besar
fasih mengulang teori
mereka pandai mengutip
segala macam kebijaksanaan
namun ketika kehidupan mengajukan satu pertanyaan
mereka justru sibuk mencari catatan kaki

Barangkali pengetahuan
telah berubah menjadi lemari pajangan
disusun rapi
dibersihkan
dikagumi setiap hari
namun sayang
ia tak pernah benar-benar dipakai
menghadapi derasnya hujan

Ada orang yang mampu
menjelaskan arti kejujuran
secara mendalam dalam seratus halaman
namun gagal mengucapkan satu kalimat jujur
kepada dirinya sendiri

Ada pula yang lantang
mengajar tentang ketenangan
suaranya tenang
bahasanya tenang
wajahnya tenang
tetapi di dalam dada
suasananya jauh lebih gaduh
daripada pasar menjelang petang

Ilmu bukan mahkota
atau hiasan dinding untuk dipamerkan
ia seharusnya menjadi jendela yang lapang
semakin dibuka
semakin banyak cahaya masuk
bukan malah meninggikan tembok penghalang

Sebab kebesaran sejati
lahir dari kerendahan hati
di hadapan hal-hal yang belum kita pahami
pada akhirnya
buku tidak pernah merasa pintar
hanya manusia
merasa mengerti seluruh kehidupan
setelah satu halaman


Masamba Sul-Sel, 15/12/2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar