AAB - Cermin Di Jalan Setapak



"Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


Cermin Di Jalan Setapak
By: Arif Agus Bege'h


Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
lupa bahwa debu yang kita injak
adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
milik mereka yang lelah sebelum sampai

Sesekali, langkah haruslah terhenti
membaca sunyi pada kaki yang pincang
menjadikan retakan di jalan orang lain
sebagai peta agar kita tak tersesat
sebab kesalahan adalah guru yang bisu
ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
menunggu kita mengulang langkah yang sama
di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

Kerendahan hati adalah cara kita menatap
menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
karena pada akhirnya
kita hanya sedang pulang
belajar dari luka yang telah usai
agar tak perlu kita rengkuh kembali


Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar