Tampilkan postingan dengan label CATATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN. Tampilkan semua postingan

AAB - Tsunami Sunyi



Jangan pernah melarang airmata seorang anak yang merindu, karena duka yang dipendam adalah badai yang siap meruntuhkan batin. Inilah sebuah pengingat tentang cara merayakan rindu melalui luka yang paling jujur.

Tsunami Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Jangan bendung airmata anak yang merindukan ibunya
duka yang dipasung adalah badai yang mengerami dada
siap menjelma tsunami meruntuhkan seluruh tenang

Biarkan ia luruh menjadi sungai yang paling jujur
sebab tangis adalah bahasa purba seorang anak
cara sunyi melipat jarak menuju pelukan yang tiada

Menangislah
biarkan ia jadi hujan di tanah perjalanan
mendinginkan bara rindu sebelum membakar habis sabar
membasuh luka hingga jinak menjadi keikhlasan


Mamuju Sul-Bar, 09/03/2023

BIODATA PENULIS



BIODATA PENULIS

Data Pribadi
​Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
​Nama Pena: Arif Agus Bege'h
​Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
​Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni

​Profil Singkat
​Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.

​Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.

​Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.