AAB - Dialog Di Batas Angka Dan Huruf

 

Dunia sibuk menghitung jumlah dan mengurutkan aturan, hingga kita lupa bahwa kebenaran sejati tidak terletak pada apa yang dipaksakan oleh dunia, melainkan pada apa yang didekap oleh jiwa.

Dialog di Batas Angka dan Huruf
By: Arif Agus B


Di atas meja yang berdebu
aku menyusun angka satu, dua, dan tiga
lalu menjajarkan huruf a, b, dan c
Tiba-tiba sepasang mata merah menyala di sudut kamar
ia terkekeh, menyemburkan aroma belerang yang pekat
"Untuk apa kau sekat-sekat isi kepalamu dengan kotak-kotak itu?" tanyanya

Menatapnya tanpa rasa takut
hanya ada lelah yang menumpuk
"Aku sedang mencari perbedaan yang nyata,
agar aku tahu di mana kebenaran harus diletakkan,
apakah pada jumlah yang dihitung manusia,
atau pada urutan yang dipaksakan oleh dunia"

Syetan itu melangkah mendekat
bayangnya menutup dinding
Kebenaran?
ha ha ha
ia tertawa hingga langit-langit bergetar
"Nenek moyangmu mati demi dongeng yang mereka karang sendiri.
Lalu manusia hari ini tunduk pada kebiasaan yang mereka sebut hukum.
Semua itu palsu, wahai anak cucu Adam, semuanya hanyalah anggapan! ha ha ha" 

Aku terdiam
meraba goresan angka 1 di atas meja
"Jika semua jawaban tidak memiliki nilai kebenaran yang mutlak,
lalu mengapa kau begitu bernafsu menghancurkannya?
Bukankah godaanmu juga butuh kepastian untuk menjatuhkanku?
Kau butuh aku percaya pada satu arah, agar kau bisa menyesatkanku ke arah lain" tanyaku dengan lirih.

Ia berhenti tertawa, wajahnya menyusut menjadi sunyi yang dingin.
"Aku hanya cermin dari keraguanmu," bisiknya hampir tak terdengar.
Lalu ia lenyap, meninggalkan aku sendirian bersama huruf dan angka,
yang kini tidak lagi tampak sebagai batas atau hitungan,
melainkan bentangan sunyi yang bebas aku maknai sendiri.


Masamba Sul-Sel, 11/07/2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar