Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

AAB - Dialog Di Batas Angka Dan Huruf

 

Dunia sibuk menghitung jumlah dan mengurutkan aturan, hingga kita lupa bahwa kebenaran sejati tidak terletak pada apa yang dipaksakan oleh dunia, melainkan pada apa yang didekap oleh jiwa.

AAB - Aku Dan Bayang Kelam

Aku Dan Bayang Kelam
By: Arif Agus Bege'h


​Di depan cermin buram yang retak dan berdebu,
aku berdiri tegak menatap bayanganku
netra ini dipaksa melihat segumpal noda
pada raga yang begitu angkuh berkepala batu
yang hingga detik ini
masih saja gemar berdosa
mengapa hati selalu kalah oleh rayuan semu?

​Lidahku dengan tajam kerap menoreh luka
menyayat hati sesama tanpa rasa iba
tangan ini pun ringan menggenggam yang mungkar
meraba dunia seolah esok takkan tiada
semua hitam itu kini berkumpul dan menjalar
membuat lentera nurani meredup
perlahan sirna

​Lalu bayang kelam berbisik "Dosamu menggunung, kau milikku!"
Aku langsung bersujud menepis bisikannya
"Tidak! Ampunan Tuhan pasti kudapatkan!"
Dar! 

Hssst!
Iblis lenyap mendesis murka kalah oleh nurani yang teguh

​قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
​Qul yā 'ibādiyallażīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunūba jamī'ā, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.

​"Wahai hamba yang terpasung noda, jangan berputus asa dari rahmat Allah yang luas. Sungguh, Dialah Maha Pengampun segala dosa, Zat Maha Pengasih yang memelukmu dengan cinta tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 53)

​Cermin mungkin jujur memperlihatkan retak dan nodamu
tapi taubat yang tulus selalu mampu membasuh jiwa di hadapan Tuhan


Mamuju Sul-Bar, 25/11/2023

Rumah Tuhan Digembok

 

Rumah Tuhan Digembok
By: Arif Agus Bege'h


Pengurus yayasan tersenyum menatap angka di papan pengumuman
Sisa saldo infak jutaan rupiah, tersimpan aman di rekening simpanan
Kubahnya berlapis emas, menaranya menjulang menembus awan
Lantai marmernya berkilau, hasil sumbangan para dermawan

Mereka merawat bangunan dengan aturan yang sangat ketat
Mereka menjaga aset suci agar tak disentuh tangan-tangan jahat

Lalu, seorang musafir yang berjalan jauh menembus malam yang dingin
Pakaiannya berdebu, dompetnya kosong, dan perutnya melilit perih
Melangkah gontai dengan harapan menemukan secuil keteduhan
Di teras rumah yang katanya menjadi perlindungan bagi setiap jiwa yang letih

Dia datang mengetuk pintu kayu jati yang berukir indah
Berharap bisa merebahkan punggung yang pegal, atau sekadar meneguk air wudu yang jernih
Namun yang ia temukan adalah rantai besi dan gembok besar yang dingin membisu
"Maaf gaes, demi keamanan, Masjid ditutup setelah jemaah bubar," tertanda Marbot.

Dia memeras sisa tenaga, duduk bersila di atas pelataran semen yang keras
Menatap ke dalam kaca bening, melihat karpet tebal yang empuk dan kipas yang mati
Sementara di dalam sana, kotak amal besi berdiri kokoh dengan uang berlipat-lipat
Namun tak ada satu sen pun yang bisa menjelma menjadi sebungkus nasi bagi yang sekarat

Kalian mengunci rumah ini atas nama ketertiban dan rasa takut kehilangan
Kalian bangga pada kemegahan fisik, namun amnesia pada fungsi sosial kemanusiaan
Kalian biarkan hamba-Nya telantar di luar, kedinginan berantalkan sandal tua
Sementara khotbah tentang kedermawanan dan kepedulian masih terngiang di telinga

Esok subuhnya, saat pintu pagar besi dibuka kembali dengan jerit yang nyaring
Seorang pengurus dengan baju takwa yang wangi melihatnya masih duduk lemas di pojokan
Sambil membawa sapu dia berkata, "Ayo mas, bangun, sebentar lagi jemaah datang, jangan tidur di sini, merusak pemandangan saja mas..mas.!"

Musafir itu bangkit dengan lutut yang gemetar, menatap kubah megah yang mulai diterpa fajar, lalu berteriak di dalam hati:
"Jika rumah tempat memuji Yang Maha Pengasih digembok rapat bagi yang lapar,
lalu musafir yang kehabisan bekal harus mengemis belas kasihan di jalan yang mana?"


Sulawesi Barat, 15/09/2022

AAB - Parasit Dibalik Sepi



Parasit Dibalik Sepi
By: Arif Agus Bege'h


Sahabat hidup saling menjaga dan berkorban
musuh hidup berhadapan di medan pertempuran
kekasih hidup merawat kesetiaan dalam pelukan
orang asing hidup tanpa saling mengusik kedamaian

Mereka memiliki hukum yang adil dalam hubungan
jelas mana batas kawan
jelas mana garis pertahanan

Lalu, makhluk yang datang mengendap-endap di kala sepi
yang mengaku paling paham saat seluruh dunia menjauhi
membisikkan kata manis seolah dialah pelipur hati
dia bernama setan
selalu berpura-pura peduli

Dia sebenarnya hidup dari mana?
dia memakan bagian jiwaku yang mana?

Kita sering kali begitu lengah
menerima uluran tangannya saat iman sedang goyah
kita mengira dia kawan setia yang membasuh air mata
padahal dia sedang menuntun kita menuju tebing nestapa

Setelah hasutannya kita dengarkan
dan kita terbahak-bahak menikmati dosa
kita jadi lupa
demi sebuah kesenangan fana yang dia tawarkan
kita sedang menelantarkan diri
dalam kemiskinan jiwa yang mengerikan
setan setan pun berpura-pura lupa
setelah madu kesesatan itu habis kita telan
dia pergi meninggalkan kita
berjalan kaki di atas puing-puing penyesalan

Dia sungguh tahu
setiap bisikannya mempercepat kematian nurani manusia
lalu, bertahun-tahun setelah kita hancur
terpuruk dalam kehampaan
masih dengan wajah ramah yang sama
si penipu ulung itu datang kembali
mengetuk pintu hati yang retak
tersenyum simpul dan berkata:
"Aku datang lagi gaes!"

Manusia yang telah sadar menatapnya dengan murka dan luka:
"Pergilah, kau adalah musuh yang nyata!"

Ha ha ha
Namun setan tertawa parau
menunjuk sisa-sisa iman yang hampir habis
lalu berkata:
"Jika jiwamu tidak kuhancurkan sampai tandas,
setan hidup memakan apa?"


Majene Sul-Bar, 15/01/2022

AAB - Akhir Dari Sebuah Hitungan Rasa

Jadikanlah kekurangan pasanganmu sebagai cermin untuk mengenali gelap dan terang. Sebab, dengan saling memaafkan noda di dunia, kita sebenarnya sedang berjalan bersama menuju cinta yang murni kepada Sang Pemilik Cinta.

Akhir Dari Sebuah Hitungan Rasa
By: Arif Agus Bege'h

Jangan pernah anggap aku memandangmu bidadari atau suci tanpa noda dan dosa aku pun tak ingin kau mencintaiku hanya karena belum kau temukan cela dalam ragaku Aku mencintaimu justru karena engkau muara noda ruang yang menuntun kita mengenali gelap terang hingga kita sampai pada kesadaran akan Pemilik Cinta yang sebenarnya Mencintaimu adalah memeluk rasa di tengah sedih merindukanmu adalah merangkul sepi dalam air mata mendambakanmu bagai mengejar bahagia di sela derita dan menginginkanmu adalah merayakan penantian Maka maafkan jika aku sempat terus merindu hari ini, kuakhiri segala penandaan ini menghentikan rindu bising menyudahi cinta yang pedih dan menutup buku kesedihan yang tak usai Sebab segala yang berbilang pasti menemukan ujung segala yang dihitung pasti menemui batasnya dan hitungan rasa ini harus lekas berhenti pada angka yang telah kita tentukan bersama


Masamba Sul-Sel, 18/03/2015


AAB - Meja Kayu Dan Gelas Dingin

Cinta sejati bukanlah tentang dua orang yang saling memiliki, melainkan tentang runtuhnya ego masing-masing, agar ruang di antara mereka hanya dipenuhi oleh ketulusan yang tak berjarak.

Sebuah puisi tentang penghancuran ego

Meja Kayu Dan Gelas Dingin
By: Arif Agus Bege'h


Kita berhadapan
sibuk membela diri
"Aku benar" katamu "Aku terluka" sahutku
di antara kopi yang hampir dingin
dua kepala batu menolak mengalah

Hening mengambil alih
kuturunkan nada bicara
kau melepas kepalan tangan
kita berhenti saling menuduh
menanggalkan gengsi yang melelahkan

Di lantai kedai
kata-kata tajam melunak jadi maaf
kesombongan runtuh perlahan
tanpa teriakan
hanya ada air mata

Tiada lagi menang atau kalah
meja terasa lapang tanpa drama dan pembelaan
justru dalam ruang hampa ini
kita akhirnya saling mendengarkan

Tersisa dua orang lelah berpura-pura kuat
bukan penguasa
bukan tawanan
hanya ada aku
kamu
dan kejujuran yang telanjang


Masamba Sul-Sel, 25/12/2014