Kita sering mengira, menjadi pencuri berarti mengambil harta. Padahal, pencurian paling merugi adalah ketika kita merampas aib dan fitnah dari punggung orang lain, lalu dengan bangga memikulnya di pundak kita sendiri. Di saat mereka pulang membawa ampunan, kita justru terkapar memeluk beban pinjaman.
Simaklah sebuah sajak... "Kolektor Jelaga."
Kolektor Jelaga
By: Arif Agus Bege'h
Mereka mengetuk langit dengan dahi,
memeras air mata di altar sepi,
memohon noda masa lalu luruh,
menjadi putih, menjadi utuh.
Sementara kita, berdiri di tikungan,
menjadi perampok di tengah jalan.
Bukan emas yang kita sasar dari sesama,
melainkan rongsokan kutuk dan dosa.
Tangan kita lincah memunguti nanah,
merampas aib yang nyaris punah.
Lalu kita tebar di pasar-pasar kata,
seolah itu wewangian kasta.
Kita adalah kolektor jelaga,
menyita arang dari tungku tetangga.
Wajah mereka perlahan dibasuh cahaya,
wajah kita legam tertimbun dusta.
Di cermin waktu yang kian berkarat,
kita bangga memikul sekarung laknat.
Mengira sedang meruntuhkan takhta orang,
padahal menggali kubur sendiri yang gersang.
Waktu yang lebur di balik penanggalan,
hanya menyisakan riuh kesesatan.
Kita bersihkan halaman dengan belati,
sambil menimbun bangkai di dalam hati.
Kelak di perbatasan yang paling sunyi,
saat semua topeng runtuh membumi:
Mereka pulang membawa ampunan,
kita terkapar memeluk beban pinjaman.
Mamuju Sul-Bar, 17/08/2022
