• Tuhan memberi sabar tanpa batas, lalu mengapa kita sibuk membuat batasan? Tundukkan egomu, bersiaplah menghadapi... Inilah Sajak Dialektika Tanpa Tepi.

    Dialektika Tanpa Tepi
    By: Arif Agus Bege'h


    Manusia adalah bait-bait yang ditulis dalam keterbatasan
    daging yang menua, usia yang berkejaran dengan nisan,
    kita dipatok oleh ruang, disekat oleh waktu yang ringkih.
    Namun di balik dada yang sempit ini,
    Tuhan menyisipkan sebuah semesta yang tak punya dinding
    ruang maha luas bernama Iman dan Takwa.

    Lihatlah ke dalam jiwamu yang paling sunyi,
    Tuhan menurunkan sabar bukan sebagai cangkir yang mudah penuh,
    melainkan samudera raya yang tak memiliki garis pantai.
    Ia dilepaskan bebas, tanpa pasak, tanpa pembatas,
    sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman kuasamu,
    menjadi otoritas mutlak bagi caramu mengeja dunia.

    Namun ego seringkali bertingkah seperti dinding penjara.
    Kita yang jemawa, dengan angkuh menggaris batas,
    berkata pada diri sendiri: "Cukup, sabarku sudah habis."
    Lalu kita menyalakan api dari sumbu yang pendek,
    membiarkan ruang lapang itu menyempit seketika,
    dan menggantinya dengan ruang pamer kesombongan.

    Maka jangan pernah kau tudingkan jemari ke langit,
    jangan pernah kau salahkan ketetapan Tuhan yang Maha Adil,
    jika batasan-batasan yang kau ciptakan sendiri itu
    kelak menjelma menjadi badai ancaman di hari depan,
    menjadi bencana senyap yang meruntuhkan rumah kedamaian
    yang telah kau bangun dengan susah payah.

    Kehidupan ini, pada hakikatnya, hanyalah sebuah
    perjalanan, hujan, dan airmata yang saling bertukar rupa.
    Perjalanan adalah bentangan waktu yang menagih ketabahan,
    hujan adalah berkah yang seringkali menyamar sebagai kelam,
    dan airmata adalah bahasa paling jujur dari jiwa
    saat ia mulai letih memikul beban keduniawian.

    Jika dadamu mulai sesak oleh gemuruh ketakutan,
    jika jiwamu gemetar menatap bayang-bayang ujian,
    atau ketika musibah datang tanpa mengetuk pintu rumahmu,
    hanya ada satu jalan untuk tetap tegak berdiri:
    tundukkan egomu serendah-rendahnya,
    runtuhkan menara keangkuhanmu hingga menyentuh debu.

    Menunduk bukan berarti kau kalah oleh keadaan,
    melainkan cara terbaik untuk meloloskan diri dari hantaman badai.
    Sebab di titik paling rendah, saat kesombongan telah sirna,
    kesabaran itu akan bertransformasi menjadi sayap yang lebar.
    Ia membebaskanmu dari kungkungan rasa sakit,
    membuatmu terbang di atas masalah yang mendera.

    Sabar yang bebas adalah sabar yang tidak lagi menghitung luka.
    Ia adalah aksi paling berani di tengah kepasrahan,
    sebuah kebebasan sejati di mana kau memilih untuk tetap memeluk damai
    ketika dunia memberikanmu seribu alasan untuk mengamuk.
    Ia tidak berkurang karena dicaci,
    ia tidak habis karena dikhianati.

    Ketahuilah, wahai pengembara yang melangkah di bumi yang fana,
    di ujung jalan yang basah oleh sisa badai ini,
    sabar adalah ketukan yang paling didengar di langit.
    Ia adalah satu kunci utama yang membebaskan,
    yang akan membuka satu demi sekian banyak pintu Syurga,
    tempat di mana segala batas dan airmata dilebur menjadi kebahagiaan yang abadi.


    Mamuju Sul-Bar, 10/08/2022

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -