Sajak Menggugat Detik Yang Lesu


Menggugat Detik Yang Lesu
By: Arif Agus Bege'h


Umur manusia cuma sejengkal tanah!
kau pikir lima puluh tahun itu benteng yang abadi?
lihatlah ke belakang, kosong!
coba lihat lagi, kosong!
lihat sekali lagi, kosong kan?!
semua lenyap ditelan kepulan debu masa lalu!

Kita terengah-engah di ujung jalan,
mengutuk kaki yang lambat, mengutuk takdir yang melesat,
sementara sisa usia merangkak di depan kita,
meninggalkan tubuh yang payah dan rapuh!

Waktu tak pernah punya belas kasihan!
dia tak butuh rem, tak butuh negosiasi,
merus berputar, menggulung siang, melumat malam,
menyeret kita paksa ke lubang yang sama!

Baru kemarin matahari terbit dengan janji baru,
tahu-tahu kalender merobek dirinya sendiri,
tahun berganti tanpa permisi,
meninggalkan kita yang masih tertegun di sudut sepi!

Ingatkah kau gema takbir
Ramadhan yang lalu?
sujudmu belum kering, air matamu belum pudar,
tapi kini bulan suci itu sudah mengetuk pintu lagi,
menertawakan kelalaian kita yang gemar menunda!

Sekarang, angkat bicaramu! jawab pertanyaanku!
apa yang tersisa di dalam dadamu selain debar ketakutan?
setiap angka yang bertambah di kepalamu,
adalah lonceng kematian yang berdering lebih keras!

Kau bicara tentang pertambahan nilai?
nilai apa?!
harta yang membusuk di gudang?
atau pangkat yang akan terkubur bersama cacing?
jangan membual dengan teori-teori di hadapan maut!

Jika umur bertambah tapi jiwamu makin kerdil,
maka kau tak lebih dari seonggok daging yang berjalan!
dunia ini panggung sandiwara yang usang,
dan kita penonton yang lupa jalan pulang!

Hentikan tangisan tak berguna itu!
genggam sisa nafasmu, jadikan ia api!
sebelum tanah membungkam mulutmu selamanya,
tinggalkan jejak, atau hancur tanpa arti!


Mamuju Sul-Bar, 05/05/2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar