Penyair Kok Jadi Penggosip
By: Arif Agus Bege'h
Dulu jemarimu meraba langit
memetik bintang menjadi bait
bicara tentang luka alam dan cinta yang suci
dalam diksi yang membakar nurani
Tapi lihat dirimu hari ini
duduk di kedai kopi hingga larut pagi
bukan lagi mengejar rima atau metafora
tapi sibuk menguliti gosip sana, gosip sini
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
Celaka bagi mereka yang menjadikan lidah sebagai hulu ledak
merobek kehormatan manusia dalam rahasia
langkah mereka goyah tertatih menuju jurang sunyi yang penuh nestapa
Penyair kok beralih jadi penggosip?
gelar mulia kini melorot jatuh tersungkur
saat pena yang harusnya menuntun jalur jujur
malah sibuk mengorek aib yang terkubur
Alih-alih diskusi tholabul 'ilmi
mengejar berkah dan rida Ilahi
kau malah asyik nongkrong di sudut sepi
merangkai kata demi memuaskan dengki
Padahal kau tahu itu menebar fitnah
membuat ukhuwah sesama menjadi pecah
kalimatmu memicu badai kebencian yang bising
membakar kedamaian hingga hangus meruncing
Kalau pun yang kau ucap itu nyata dan fakta
tetap saja ia menjelma Ghibah yang mengerikan
bagaikan memakan bangkai saudara sendiri
menimbun dosa di dalam hati yang mati
Lembar putih yang dulu suci
kini penuh coretan dengki
kau tukar keagungan sebaris puisi
hanya demi riuhnya gunjingan sehari
Mana perbincangan tentang filsafat kehidupan?
mana gugatanmu atas ketidakadilan?
kini suaramu larut dalam remah obrolan
menghakimi hidup orang tanpa ampunan
Kau susun kata demi kata dengan begitu rapi
bukan lagi membangkitkan kesadaran jiwa manusia
melainkan menyisipkan narasi-narasi tersembunyi
hanya agar keburukan saudaramu terpampang nyata
Wahai pujangga
kembalilah ke meja kayumu
biarkan angin malam menjaga rahasia dunia
sebab tugasmu adalah menyembuhkan luka
bukan mengorek borok sesama manusia
sebab kata-katamu kelak akan dihisab
jangan sampai puisimu berbuah azab
Mamuju Sul-Bar, 03/07/2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar