• "Berkurban bukan hanya tentang apa yang kita sembelih hari ini, melainkan tentang apa yang berani kita lepaskan dari hati. Ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang paling kita cintai karena Allah, ketahuilah bahwa Dia tidak sedang membuat kita kehilangan, melainkan sedang mengosongkan ruang di hati kita untuk diisi dengan sesuatu yang jauh lebih mulia."
    Kurbanku 
    By: Arif Agus Bege'h


    Tuhan
    sampaikan pada Kekasih-Mu
    ada seorang hamba yang sedang belajar arti menyembelih ego
    aku telah berkurban karena-Mu
    di batas paling ujung dari mampuku

    ​Kuyakin Engkau tidak pernah tebang pilih
    sebab ujian-Mu adalah cara-Mu memeluk hamba
    seperti Engkau menguji Ibrahim, Ismail, dan ketabahan ibundanya
    kini, biarkan aku mengecap cawan ujian yang sama
    yang perihnya masih mengalir di urat nadi

    ​Telah kukorbankan cinta, air mata, dan masa lalu
    maka tumbuhkanlah di tanah yang gersang ini
    cinta yang lebih suci
    telah kuikhlaskan mereka yang pernah singgah dan menetap
    maka gantilah dengan jiwa-jiwa yang menuntunku pulang pada-Mu

    ​Harta mana lagi yang paling berharga di dunia
    selain rindu
    cinta
    dan manusia-manusia yang kita sayangi
    hari ini
    semuanya telah kuletakkan di atas altar keikhlasan

    Terimalah kurbanku, Tuhan
    biarkan seluruh kehilangan ini
    menjelma saksi di hadapan-Mu kelak


    Masamba Luwu Utara, 06/11/2011 atau 10 Dzul Hijjah 1432H

    AAB - Puisi Kurbanku

    0
  • "Manusia bagaikan bunglon yang kerap berubah warna demi menyesuaikan diri dengan gemerlap dan pekatnya dunia. Namun sejauh apa pun kita merayap dalam kelamnya maksiat, hati kecil tidak akan pernah bisa berbohong. Selalu ada titik balik di mana sebuah doa mampu menghentakkan kesadaran, membawa kita pulang ke beningnya mata air pertobatan untuk bersujud di hadapan Sang Kekasih Abadi."

    Kekasih Bunglon Di Ujung Tasbih
    By: Arif Agus Bege'h


    ​Selir bertamasya di sebintang malam
    melacak jejak tasbih yang bermunajat

    ​Ada bunglon menyusup ke lubuk hati
    merayap di reranting sunyi
    di antara redup malam dan cemooh jalang
    melingkarkan raga pada kelam maksiat

    ​Pada rindang pohon di pinggiran kota
    ia berpesta dalam remang
    sengaja lupa pada hening air yang tenang

    ​Lalu, selembar doa tiba-tiba menghentak
    kelap-kelip lampu luruh dalam kesunyian
    sebab sang bunglon telah pulang ke pohon munajat
    di sebening mata air yang berdetak

    ​Gemericik air kini berkidungkan tasbih
    di selembar daun sajadah ia bertafakur
    menyerahkan diri pada Sang Kekasih
    di ujung malam, bibir mesra mengecap hidayah


    Masamba Sul-Sel, 09/08/2011

    AAB - Kekasih Bunglon Di Ujung Tasbih

    0
  • "Cinta yang tulus tidak selalu tentang memiliki raga, melainkan tentang bagaimana kita memindahkan seluruh rasa, doa, dan kepedulian kita ke dalam jiwa orang yang kita sayangi. Ketika cinta telah berhijrah dan menetap di hatinya, ego kita runtuh, dan yang tersisa hanyalah keinginan untuk melihatnya bahagia."

    Sebingkai Hati Pada Jiwamu
    By: Arif Agus Bege'h


    ​Pada larik-larik rindu di ujung jemari

    reranting kata berpagut di dinding hati

    bilakah ia ’kan kekal di kalbu

    ataukah sekadar kenangan yang lalu?


    ​Pada jejal kisah di sepenggal raga

    ku menemuimu dalam batas jiwa

    terperangkap kasih di selayar kata

    hingga yang nyata tak lepas dari maya


    ​Ada sayang menghangat di kalbu

    saat hatiku bermukim di bahasamu

    ketika malam melampaui cakrawala

    jemariku berwirid menyebut namamu

    menuju cinta-Nya yang abadi


    ​Sayang...

    kini tak ada lagi cinta di sepanjang hati

    pun tak ada kasih yang tersisa di kalbu

    sebab semua telah berhijrah ke dalam jiwamu

    mengakar indah di dalam rasamu



    Masamba Sul-Sel, 09/08/2011

    AAB - Sebingkai Hati Pada Jiwamu

    0

  • "Jangan biarkan riuh rendahnya dunia mendikte lirik kehidupanmu. Rawatlah keyakinanmu dengan takzim, meski dalam sunyi yang paling senyap. Sebab, kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa keras kita mampu berteriak menantang badai, melainkan dari seberapa tenang batin kita saat meredam gejolak di dalam diri."

    Hanya Satu Yang Kusayangkan
    By: Arif Agus Bege’h


    Sangat liris ia berbisik
    bahkan bayu dan musim tak diizinkan tahu
    "Jangan kau gubah balada kolaborasi," pesannya
    kurator rasa takkan sudi menaruh iba
    Kecuali ia memang bukan pengasuh sastra
    melainkan pemburu renjana dari peluh dan air mata

    Begitu takzim ia merawat rindu
    seolah semesta tak lagi boleh merayu, pun dirayu
    Maka redamlah tangismu atas nama cinta
    ia telah lekang
    menguap tanpa welas asih
    Kecuali jika kasihmu bukanlah cinta biasa
    melainkan penghujan yang lahir dari telaga lara

    Sangat bersahaja ia mengurai rasa
    hingga sembilu tak lagi sanggup mengoyak batin
    dan badai hasrat tak lagi berdeburan riuh
    Namun mengapa
    kau masih saja meminang gencatan?
    Bila kelak waktu kembali mengetuk rindu
    saat musim semi mulai melantunkan simfoni
    dan kau masih saja limbung mencari arah
    maka hanya ada satu hal yang paling kusayangkan
    kau belum juga menemukan hulu dan jalur airmu

    Sebab di sini
    aku masih menanti bidadari turun
    untuk bertamasya dan membasuh diri di mata airku
    Namun, jika engkau yang melangkah datang
    aku takkan lagi menunggu siapa-siapa


    Rawamangun Luwu Utara, 09/08/2011

    AAB - Hanya Satu Yang Kusayangkan

    0
  • "Bahagia dan derita bukanlah dua hal yang saling bermusuhan, melainkan dua sisi dari satu koin bernama kehidupan. Merayakan keduanya tanpa menyalahkan keadaan adalah cara terbaik untuk menyempurnakan tragedi indah manusia."

    Nur, Ini Tentang Tragedi Kita
    ​Oleh: Arif Agus Bege'h


    Nur, kau mendamba bahagia
    menitipkan pinta pada mentari dan rembulan
    Mereka mewarnaimu
    sekadar saksi atas lumpuhnya logikamu
    Padahal engkaulah sang cahaya
    pada tawa, air mata, dan tragedi kita

    ​Untuk bersaksi pada kebahagiaan
    menjadilah derita yang membahagiakan
    untuk bersaksi pada kesedihan
    menjadilah bahagia yang menyedihkan
    sebab memetik tragedi bahagia
    hanya milik jiwa yang tahu bahwa hidup adalah derita

    ​Jika aku menderita
    bukan karena salah memilih jalan
    aku hanya ingin menemanimu menyemai tragedi ini
    jikapun kebahagiaan menjemput kita
    bukan karena kita benar meniti nestapa
    melainkan karena kita selalu bersama
    menjadi pelaku di puncak kehidupan

    ​Ini untukmu, Nur
    sebuah ungkapan yang belum kaupahami
    mulailah dari air mata
    akhiri dengan tawa
    agar kelak kau sempurnakan tragedi ini dengan menemukanku

    ​Iayakanlah bahagia
    aminkanlah derita
    sebab keduanya tak pernah menjadi sebuah kesalahan


    ​Masamba Sul-Sel ,10/06/2011

    AAB - Nur, Ini Tentang Tragedi Kita

    0
  •  


    Puncak Anjani Dan Janji Yang Abadi
    By: Arif Agus Bege'h


    Di ufuk timur
    ia berdiri tegak menantang awan
    Rinjani
    sang penjaga langit dengan mahkota kabut
    sepertinya ia tahu
    betapa berat rindu yang kusimpan
    setiap kali namamu dalam doa-doaku lembut kusebut

    Segara Anak adalah cermin matamu yang tenang
    hijau toska meneduhkan segala resah yang menderu
    di tepiannya
    aku belajar bagaimana cara mengenang
    bahwa mencintaimu adalah pulang menuju biru yang haru

    Cintaku padamu bukanlah bunga di kaki gunung
    yang layu ketika musim berganti rupa
    ia adalah jalur terjal yang rela kusanjung
    meski nafas tersengal
    langkahku takkan pernah lupa

    Jika dingin Sembalun menusuk hingga ke tulang
    hangat senyummu adalah api unggun yang paling setia
    tak peduli seberapa jauh aku harus bertualang
    puncak asmaraku tetaplah kau
    satu-satunya dunia

    Biarkan Rinjani menjadi saksi bisu
    bahwa setinggi apa pun aku mendaki
    tujuanku selalu kembali pada pelukmu yang sunyi


    Makassar, 05/05/2011


    AAB - Puncak Anjani Dan Janji Yang Abadi

    0
  • "Ketika langkah kaki mulai kehilangan arah, carilah isyarat itu. Karena di mana pun kau melangkah, rindu akan selalu menemukan jalannya untuk pulang—meski harus lewat airmata."

    Isyarat Rindu
    Karya: Arif Agus Bege'h

    Isyarat rinduku padamu
    berkedip mengedip rasa di hati
    mengecup bibir yang kian mati
    terasalah ruh mengelayap
    menuju sebuah titik rintih
    saat semilir angin menyiasati sunyi
    di kala pejam matamu beralih

    Haruskah aku bertanya?
    dan mampukah kau menjawabnya?
    ketika titik rindu kini menutup mata kakimu yang lelah
    ke arah mana pun kelak kau melangkah
    di sanalah kepingan wajahku
    rindu yang kau cari tanpa jengah

    Mungkin esok kau menemukanku tanpa cinta
    maka isyaratkan padaku tentang sisa kenangan kita
    sebab kenangan itulah yang mengisyaratkan rinduku padamu;
    rindu yang bernyanyi sunyi
    tentang hujan yang membasahi kotamu

    Inikah isyarat rindu itu?
    menggelayut mengitari hati
    berkejaran bersama asa
    menempuh waktu yang panjang
    menuju belantara tragedi airmata
    sanggupkah kau menyapa kelak tanpa nestapa?
    saat aku berdoa dengan hantaran sabda
    yang siap menerpa semesta

    Dan kau pun akhirnya menangis
    dalam pasrah isyarat rinduku


    Sampodo Palopo Sul-Sel, 13/05/2010

    AAB - Isyarat Rindu

    0


  • "Meniti titik kehidupan sering kali memaksa kita berjalan di atas duri dan jeruji kegelisahan. Namun, ketika rindu dan tekad telah menjelma menjadi nyali, langkah yang tertatih pun akan tetap sampai pada tujuan. Jangan hiraukan pandangan mereka yang iri, sebab mereka hanya melihat hasil akhir tanpa pernah tahu seberapa berdarah-darah kita teruji."

    Meniti Titik
    By: Arif Agus Bege'h


    Satu jiwa merambahku dengan jalang
    suara rindu mendenting
    merayu insting
    kaukah yang bersiul bijak tanpa harap?
    atau akulah yang tergoda nasihat kalbu?
    atau mungkin gelisah yang basah

    Oh, rinduku...
    Segala sisi berjeruji dan berduri
    akan kulalui walau hati menari sebelum mati
    karena getaran itu telah menjelma nyali
    bernyanyilah
    menarilah
    membawa sekuntum sepi
    kulafal huruf merangkai kalimat sakti:
    Kau dan aku kini sembunyi

    Perlahan kaki melangkah
    tertatih namun pasti
    meniti malam hingga dini
    gumam tak lagi memaki
    sunyi mencambuk bagai cemeti

    Andai saja hatimu peduli
    tentu saja aku takkan menari sepi
    tapi kini aku berlari
    mencari
    menelusuri
    menjelajahi
    lalu meniti cinta yang siap mati

    Jika tak teruji
    kalian tak perlu iri


    Tarailu Sul-Bar,05/05/2010


    AAB - Meniti Titik

    0
  • Hujan Air Mata
    By: Arif Agus Bege'h


    Menghitung waktu dengan jari manis
    hingga membaca pun tanpa makna
    tak menulis karna berharap
    kini dirimu telah usai dipelukan sang raja
    permaisuri pun menertawakanku
    para mentri berpestapora
    dan panglima mehunus pedangnya

    seakan terbangun dalam mimpi buruk
    namun nyata menyelimuti kesedihan,
    tentukan nasib atau menanti kajabaiban,
    salahkan hujan yang menanam benih,
    benih air dan mata

    siapakah yang bisa membuangmu
    siapa pula yang mampu memisahkanmu dari tragedi atau hujan
    apakah tragedi hanyalah kenangan
    atau sejarah dalam ketulusan cinta
    dan aku takkan dapat menggores namamu
    di setiap sajak sajak yang tak bermakna di mata mereka
    karena kau telah diberi nama fitra

    air
    beranjaklah menggapai tangga keempat hingga lima nan pasti
    dalam hitungan makna yang akan kau tempuh
    hilangkan benci pada jiwa sang raja
    raja yang kalah oleh permaisurinya
    sungguh dirimu memanggil adik pada mata
    dan kau pun kuberi nama Nur Arifah Saputri

    mata
    kau hanyalah tragedi kebahagiaan
    meski air menghalangi pandangan mata
    namun kalian adalah buah dan jantung hati
    tak terpisah oleh apapun meski bentunturan atau tiga ketukan
    bahkan pemilik istana sekalipun
    dan kaupun kuberi nama Nur Jumanah Dwiputri

    sungguh bercahaya dalam makna dan nyata
    meski gelap pada hujan, atau berkilau pada mata
    namun gemerlap pada mata, hingga teriakannya tak pernah menggelegar
    tak sanggupmu menerobos hujan meski asa selalu
    namun tragedi takluk di pangkuanmu
    semoga mereka bercermin padamu
    sebagai makna cahaya terdahulu

    sampai kapan cahaya tak sampai pada ujung harapan
    hingga saat air dan mata mencari hujan
    tragedi berakir dalam kehausan makna sejati
    cinta memberi pilihan
    cinta memberi pertanyaan
    jawabanmu pada hujan
    hujan air mata


    Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009

    AAB - Puisi Hujan Air Mata

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -