By: Arif Agus Bege'h
Keyakinan adalah pasak bumi,
menancap kokoh di kedalaman hati.
Tak goyah dihantam badai,
tak runtuh digoda ragu yang mengintai.
Tujuan di depan adalah kepastian,
bukan sekadar mimpi yang melayang.
Satu langkah, satu keyakinan,
perjuangan ini takkan pernah pulang.
Masamba Sul-Sel, 04/06/2026
AAB - Takkan Pernah Pulang
0Pelita Di Tengah Belantara
By: Arif Agus Bege'h
Di rimba ilmu yang tak bertepi
langkah terhenti
tersesat sepi
akal mengembara mencari jawab
namun buntu menemui gelap
By: Arif Agus Bege'h
Di rimba ilmu yang tak bertepi
langkah terhenti
tersesat sepi
akal mengembara mencari jawab
namun buntu menemui gelap
Mursyid datang membawa pelita
menuntun jiwa yang hampir buta
mengurai kusut
menepis ragu
membimbing pulang ke jalan yang tuju
Masamba Sul-Sel, 03/06/2026
AAB - Pelita Di Tengah Belantara
0
Sejuk Di Antara Gersang
By: Arif Agus Bege'h
Di batas langit yang berarak kelabu
Ia turun tanpa sepatah ragu
tak ada protes pada putaran waktu
saat takdir membawa rintik menyentuh debu
Ia hadir di kala bumi tak menduga
menghapus duka
membasuh lara yang lama
sebuah berkah yang mengalir bersahaja
menjadi saksi tentang arti sebuah setia
O... Hujan di bulan Juni yang sunyi
mengajarkan tabah dalam sepi yang mulia
membawa sejuk di antara gersang dunia
meski hadirmu tak pernah diduga
Dalam sunyi yang mulia
hujan pun mereda
Masamba Sul-Sel, 02/06/2026
AAB - Sejuk Di Antara Gersang
0
Mata Angin Persatuan
By: Arif Agus Bege'h
By: Arif Agus Bege'h
PANCASILA ADALAH CERMIN EGO YANG MELUNAK!
Sebuah ruang tempat kepala-kepala batu menunduk takzim
tempat amarah dan keserakahan diredam oleh rasa yang rukun
Ia mengingatkan kita bahwa di Indonesia
'AKU' baru akan bermakna jika ia meluhur menjadi 'KITA'!
Sebuah ruang tempat kepala-kepala batu menunduk takzim
tempat amarah dan keserakahan diredam oleh rasa yang rukun
Ia mengingatkan kita bahwa di Indonesia
'AKU' baru akan bermakna jika ia meluhur menjadi 'KITA'!
Sebab apalah arti sebatang lidi tanpa ikatan?
apalah arti sekerat batu tanpa fondasi bangunan?
di tanah ini
kemegahan diri adalah kesia-siaan
jika saudaramu masih merangkak dalam ketertinggalan
apalah arti sekerat batu tanpa fondasi bangunan?
di tanah ini
kemegahan diri adalah kesia-siaan
jika saudaramu masih merangkak dalam ketertinggalan
PANCASILA ADALAH KOMPAS!
Penunjuk arah ketika peta dunia mulai buram dan bias
pemberi sauh ketika ombak modernitas menghantam cadas
agar bangsa ini TIDAK kehilangan arah di tengah badai zaman!
menolak karam
menolak tunduk pada perpecahan
Penunjuk arah ketika peta dunia mulai buram dan bias
pemberi sauh ketika ombak modernitas menghantam cadas
agar bangsa ini TIDAK kehilangan arah di tengah badai zaman!
menolak karam
menolak tunduk pada perpecahan
Mari rapatkan barisan luruskan pandangan
memastikan kita TETAP BERJALAN BERIRINGAN
bukan sebagai asing yang saling mengancam
melainkan dengan hati yang damai
dan harmoni yang TERJAGA!
Masamba Sul-Sel, 01/06/2026
memastikan kita TETAP BERJALAN BERIRINGAN
bukan sebagai asing yang saling mengancam
melainkan dengan hati yang damai
dan harmoni yang TERJAGA!
Masamba Sul-Sel, 01/06/2026
AAB - Mata Angin Persatuan
0"Kemegahan sebuah kota tidak diukur dari tingginya gedung-gedung pencakar langit atau gemerlap lampunya, melainkan dari bagaimana kota itu memperlakukan jiwa-jiwa yang paling rapuh di sudut-sudutnya."
Elegi Bocah di Jantung Kota
By: Arif Agus Bege'h
Rintihan anak yang terbuang di alon-alon kota
Ia menjerit
seakan hidup tak lagi bermakna
malam dingin menghujam sekujur tubuh yang dipaksa renta
dalam renungan ia berbisik:
sengsara hanyalah baka, membawa luka
Lampu-lampu kota berpijar begitu megah
namun tak satu pun sinarnya mampu
menyeka air mata yang tumpah
Ia meringkuk di antara tumpukan sepi dan bising jalanan
menatap dunia yang berlari
meninggalkan dirinya dalam lupakan
Di bawah langit malam yang tak lagi punya rasa iba
tangan kecilnya gemetar
meraba dada yang sarat kecewa
besok pagi kota ini akan kembali
terjaga dan tertawa tanpa pernah peduli
pada jiwa yang perlahan mati di sudutnya
Masamba Sul-Sel, 23/05/2026
AAB - Elegi Bocah di Jantung Kota
0BIODATA PENULIS
Data Pribadi
Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
Nama Pena: Arif Agus Bege'h
Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni
Profil Singkat
Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.
Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.
Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.





