Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
0"Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."
AAB - Sajak Hujan Yang Menepi
0AAB - Belati Fakta, Topeng Kebajikan
0AAB - Kedaulatan Tinta
0By: Arif Agus Bege'h
Di bawah tajuk rimbun yang meraksasa
kami berdiri, menyatukan detak dan doa
bukan sekadar raga yang melangkah maju
namun jiwa yang terpanggil oleh sunyi yang menderu
Pilar Tarantula, begitulah kami menamakan diri
seperti kaki-kaki kokoh yang merayap di sela duri
tak gentar pada tebing yang menjulang angkuh
tak surut pada jalur yang membuat lutut mengeluh
Carrier di pundak adalah beban yang nikmat
menyimpan cerita tentang peluh dan tekad yang bulat
menembus kabut pagi yang membelai rona wajah
mencari makna di antara akar dan tanah yang basah
Saat senja mulai melukis jingga di ufuk barat
kami berbagi tawa di balik kepul asap kopi yang hangat
di sana, di ketinggian yang memisahkan kita dari bising kota
dunia terasa jujur, tanpa topeng maupun kasta
Pilar ini takkan goyah oleh badai yang menerjang
tarantula ini akan terus mendaki, terus berjuang.
karena bagi kami, puncak hanyalah sebuah bonus
namun perjalanan dan persaudaraan adalah yang abadi dan tulus
Menyusuri belantara, menjaga alam dengan cinta
kami pulang membawa rindu, untuk kembali menyapa semesta
Makassar, 29/01/2017
Pesan:
"Alam tidak butuh penakluk; ia butuh penjaga yang berjalan dengan hati."
AAB : Jejak Langkah Pilar Tarantula
0AAB - Sumpah Kita
0AAB - Memilih Sepi Bersamamu
0"Jadikanlah kekurangan pasanganmu sebagai cermin untuk mengenali gelap dan terang. Sebab, dengan saling memaafkan noda di dunia, kita sebenarnya sedang berjalan bersama menuju cinta yang murni kepada Sang Pemilik Cinta."
Jangan pernah berharap aku menganggapmu bidadari
apalagi malaikat yang suci tanpa noda dan dosa
sebab aku pun tak ingin kau mencintaiku hanya karena
belum kau temukan cela dan nista dalam jiwa ragaku
Jika kau bertanya hal yang sama seperti tanyaku padamu
aku mencintaimu justru karena engkau adalah tempat bermuaranya noda
ruang di mana dosa dan cela mampu menuntun kita mengenali gelap dan terang
hingga kita sampai pada kecintaan kepada Pemilik Cinta yang sebenarnya
Mencintaimu adalah mencintai cinta di tengah kesedihan
perindukanmu adalah merangkul rindu dalam linangan air mata
mendambakanmu bagai mengejar bahagia di sela penderitaan
dan menginginkanmu adalah merayakan kebersamaan dalam panjangnya penantian
Maka, maafkan aku jika mencintaimu
maafkan jika aku terus merindu dan mendamba
sebab hari ini
aku harus mengakhiri segala penandaan rasa ini
menghentikan hitungan rindu yang bising
menyudahi hitungan cinta yang seringkali pedih
serta menutup buku hitungan kesedihan dan penantian yang tak kunjung usai
Sebab pada akhirnya
segala yang berbilang harus menemukan ujungnya
dan seluruh hitungan rasa ini harus berhenti pada angka yang telah kita tentukan bersama
Masamba Sul-Sel, 18/03/2015








