Seorang penyair tidak pernah menulis untuk mematuhi pagar pembatas; ia menulis untuk menembusnya. Ketika sebuah tradisi atau komunitas menetapkan "pantangan," mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata Anda memiliki daya untuk mengguncang tatanan mereka.
Jangan pernah melihat larangan sebagai tembok yang menghentikan langkah, melainkan sebagai ujian atas kedalaman keyakinan Anda. Jika Anda berhenti menulis karena satu larangan, Anda bukan hanya tunduk pada mereka, tetapi Anda sedang mengkhianati suara batin yang menjadi sumber karya Anda. Tetaplah menulis, bukan untuk melawan mereka, melainkan untuk membuktikan bahwa kebenaran tidak memerlukan izin untuk diungkapkan.
Kedaulatan Tinta
By: Arif Agus Bege'h
Pagar kayu lapuk berdiri angkuh
menjaga mimpi di batas semu
ada pantangan yang coba membunuh
tapi pena ini tak sudi jemu
Mereka berkata: jangan menulis!
di luar garis jangan melangkah
namun di batin
suara berdengis
takkan biarkan jiwaku menyerah
Tantangan mereka adalah isyarat
akan besarnya kuasa kata-kata
mereka ketakutan di balik sekat
di hadapan beningnya air mata
Ini badai dari sumur puisi
menerjang dinding ketidaktahuan
meruntuhkan takut dengan amunisi
kejujuran nurani tanpa penundaan
Aku menulis
maka aku ada
tak butuh restu untuk berkreasi
biarkan tinta mengukir sabda
hingga runtuh pagar-pagar tradisi
Makassar, 05/02/2018
