• Menanggalkan Arus
    By: Arif Agus Bege'h


    Bukan perihal kalah
    bukan pula tentang menyerah
    aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
    ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa

    Sebab mencintai
    pada akhirnya
    adalah seni melepaskan
    membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
    bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku

    Kubiarkan ia mengalir
    tak lagi kukunci dalam dekapan
    karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
    ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
    tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.


    Masamba Sul-Sel, 01/01/2022

    AAB - Menanggalkan Arus

    0
  •  

    "Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."

    Retak Yang Bijak
    Oleh: Arif Agus Bege'h


    Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
    ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
    jangan memahat diri menjadi karang yang beku
    sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku

    Kita sering lupa
    bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
    bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
    mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
    jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak

    Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
    menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
    ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
    ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram

    Terkadang
    kita perlu patah agar bisa melentur
    melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
    sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
    tapi tentang siapa yang berani ikhlas
    kembali tegak
    sebelum benar-benar terkubur


    Masamba Sul-Sel, 22/11/2021

    AAB - Retak Yang Bijak

    0
  •  
    "Cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita tertawa, melainkan dari seberapa tabah kita menanggung duka bersama. Sebab, tempat paling indah untuk berlabuh bukanlah tempat yang tanpa luka, melainkan tempat di mana kita belajar untuk tetap setia meski harus berkali-kali patah."


    Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
    By: Arif Agus Bege'h


    Di Sukamaju Selatan langkahku terhenti
    menyapa bayang-bayang yang enggan pergi
    tanah ini bukan sekadar hamparan bumi
    ia adalah saksi
    tempat benih cinta bersemi

    Dulu, di bawah langit yang sama
    kita melukis tawa di atas kanvas luka
    Namun, cinta di sini tak selalu berbunga
    ada banyak duka yang menyamar jadi air mata

    Sukamaju Selatan
    kaulah dermaga yang kupilih
    tempatku menyandarkan lelah yang perih
    meski perih seringkali datang tanpa permisi
    di sini pula
    janji-janji kupahat dalam sunyi

    Banyak kisah telah karam menjadi debu
    tentang rindu yang tumbuh meski harus meragu
    Namun, di antara duka dan air mata yang membeku
    cintamu adalah satu-satunya pelabuhan yang kutuju

    Sukamaju Selatan
    biarlah ia menjadi prasasti yang abadi
    tempat cinta belajar untuk tidak mati
    meski harus berkali-kali patah dan kembali


    Masamba Sul-Sel, 08/07/2020

    Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati

    0
  • "Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."


    Sajak Hujan Yang Menepi
    By: Arif Agus Bege'h


    Pagi menyapa di tanah Masamba
    membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam
    aku meracik detik-detik menjadi kata
    seperti dosis yang tepat untuk luka yang diam

    Cinta bukan sekadar kata yang kuguratkan
    ia adalah hujan yang jatuh di lembah ini
    menyerap ke akar
    meski tak terlihat oleh mata
    menumbuhkan sabar di sela-sela rindu yang sunyi

    Airmata—ah
    biarlah ia menjadi saksi
    bahwa menjadi manusia adalah perjalanan di perantauan
    kita mendaki puncak kehidupan bukan untuk menaklukkan ego
    tapi untuk mengerti arti pulang dan kasih yang tertitipkan

    Masamba masih tenang dalam dekap cahaya
    dan aku, dengan pena dan doa
    menuliskan hidup yang terus bersahaja
    antara syukur yang tumpah dan kasih yang terjaga


    Masamba Sul-Sel, 28/07/2019

    AAB - Sajak Hujan Yang Menepi

    0

  • Belati Fakta, Topeng Kebajikan
    By: Arif Agus Bege'h


    ​Atas nama fakta dan kebenaran
    aib sesama ditiup ke udara
    berdalih meluruskan perjalanan
    padahal ego menari gembira
    ​Fitnah adalah dusta yang kelam
    ghibah merobek senyap dan ngilu
    bukan menghapus air mata dalam diam
    tapi menguliti di panggung yang semu
    ​Maksiat takkan surut oleh gunjing
    ketika lisan berubah jadi taring
    membasuh lantai dengan air keruh
    jiwa yang pongah takkan pernah basuh

    ​Takkan bersih jiwa yang pongah
    saat daging saudara sendiri yang dikunyah...


    Makassar Sul-Sel, 25/07/2018

    AAB - Belati Fakta, Topeng Kebajikan

    0


  • Seorang penyair tidak pernah menulis untuk mematuhi pagar pembatas; ia menulis untuk menembusnya. Ketika sebuah tradisi atau komunitas menetapkan "pantangan," mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata Anda memiliki daya untuk mengguncang tatanan mereka.
    Jangan pernah melihat larangan sebagai tembok yang menghentikan langkah, melainkan sebagai ujian atas kedalaman keyakinan Anda. Jika Anda berhenti menulis karena satu larangan, Anda bukan hanya tunduk pada mereka, tetapi Anda sedang mengkhianati suara batin yang menjadi sumber karya Anda. Tetaplah menulis, bukan untuk melawan mereka, melainkan untuk membuktikan bahwa kebenaran tidak memerlukan izin untuk diungkapkan.

    Kedaulatan Tinta
    By: Arif Agus Bege'h


    Pagar kayu lapuk berdiri angkuh
    menjaga mimpi di batas semu
    ada pantangan yang coba membunuh
    tapi pena ini tak sudi jemu

    Mereka berkata: jangan menulis!
    di luar garis jangan melangkah
    namun di batin
    suara berdengis
    takkan biarkan jiwaku menyerah

    Tantangan mereka adalah isyarat
    akan besarnya kuasa kata-kata
    mereka ketakutan di balik sekat
    di hadapan beningnya air mata

    Ini badai dari sumur puisi
    menerjang dinding ketidaktahuan
    meruntuhkan takut dengan amunisi
    kejujuran nurani tanpa penundaan

    Aku menulis
    maka aku ada
    tak butuh restu untuk berkreasi
    biarkan tinta mengukir sabda
    hingga runtuh pagar-pagar tradisi


    Makassar, 05/02/2018

    AAB - Kedaulatan Tinta

    0

  • Sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan nilai persaudaraan

    Jejak Langkah Pilar Tarantula
    By: Arif Agus Bege'h


    Di bawah tajuk rimbun yang meraksasa
    kami berdiri, menyatukan detak dan doa
    bukan sekadar raga yang melangkah maju
    namun jiwa yang terpanggil oleh sunyi yang menderu

    Pilar Tarantula, begitulah kami menamakan diri
    seperti kaki-kaki kokoh yang merayap di sela duri
    tak gentar pada tebing yang menjulang angkuh
    tak surut pada jalur yang membuat lutut mengeluh

    Carrier di pundak adalah beban yang nikmat
    menyimpan cerita tentang peluh dan tekad yang bulat
    menembus kabut pagi yang membelai rona wajah
    mencari makna di antara akar dan tanah yang basah

    Saat senja mulai melukis jingga di ufuk barat
    kami berbagi tawa di balik kepul asap kopi yang hangat
    di sana, di ketinggian yang memisahkan kita dari bising kota
    dunia terasa jujur, tanpa topeng maupun kasta

    Pilar ini takkan goyah oleh badai yang menerjang
    tarantula ini akan terus mendaki, terus berjuang.
    karena bagi kami, puncak hanyalah sebuah bonus
    namun perjalanan dan persaudaraan adalah yang abadi dan tulus

    Menyusuri belantara, menjaga alam dengan cinta
    kami pulang membawa rindu, untuk kembali menyapa semesta


    Makassar, 29/01/2017

    Pesan
    :
    "Alam tidak butuh penakluk; ia butuh penjaga yang berjalan dengan hati."

    AAB : Jejak Langkah Pilar Tarantula

    0

  • "Sumpah Pemuda bukanlah rantai yang mengikat leher, melainkan api yang harus terus dijaga agar tidak padam oleh apatisme zaman."

    Sumpah Kita
    By: Arif Agus Bege'h


    Apakah kau tau apa itu sumpah?
    bukan, bukan sekadar kata yang jatuh di atas tanah
    bukan pula deretan huruf yang disusun rapi
    lalu dibiarkan mati di ruang-ruang sunyi

    Apakah kau tau apa itu pemuda?
    bukan, bukan hanya tentang usia yang masih muda
    bukan tentang tenaga yang meluap di dada
    tapi tentang nyala api yang menjaga bangsa

    Apakah kau pernah bersumpah?
    dengan darah
    dengan keringat
    dengan langkah
    di atas janji yang kau ikat sendiri
    sebelum waktu mengikisnya hari demi hari

    Apakah kau seorang pemuda?
    jika jiwa hanyalah cermin yang retak
    mengikuti arus tanpa pernah berteriak
    dan membiarkan makna hanyut di telan masa

    Apakah kau tau apa itu Sumpah Pemuda?
    bukan sekadar sejarah yang kau hafal di sekolah
    bukan pula seremoni yang megah namun lemah

    Sumpah Pemuda itu adalah salah satu pemaksaan ikrar
    yang memaksa kita untuk sadar
    bahwa di atas perbedaan yang menjauhkan
    ada satu janji yang harus kita tumpahkan
    satu tanah air
    satu bangsa
    satu bahasa

    Namun kini
    apakah ikrar itu masih hidup
    atau hanya menjadi fosil yang masih terus kita peluk?


    Makassar, 28/10/2016

    AAB - Sumpah Kita

    0

  • Memilih Sepi Bersamamu
    By: Arif Agus Bege'h


    Aku memilihmu!
    Bukan karena aku bosan disebut sebagai sunyi yang mencari ketenangan!
    Bukan pula karena aku sepi yang meratap tanpa teman!
    Tidak!

    Aku berdiri di sini,
    Bukan untuk berlari dari bayang-bayang,
    Bukan untuk mengemis penawar sepi yang datang.
    Aku adalah sunyi itu sendiri!
    Dan aku tidak pernah takut pada hening yang abadi!

    Namun hari ini, dengarkan!
    Aku memilihmu,
    Karena aku ingin menjalani sunyi dan sepi ini—
    Bersamamu!
    Dua jiwa yang saling menggenapi dalam keheningan yang megah!

    Kita adalah orang-orang yang telah dipilih!
    Oleh garis takdir,
    Oleh jalan cerita yang telah lama menanti,
    Yang telah lama mengalir,
    Untuk segera dikisahkan kepada dunia!

    Maka biarkan sepi ini menjadi gemuruh!
    Biarkan sunyi ini menjadi saksi yang kukuh!
    Aku dan kamu,
    Menantang takdir, menuliskan kisah kita sendiri


    Makassar Sul-Sel, 01/01/2016.

    AAB - Memilih Sepi Bersamamu

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -