Panggilan Badai
By: Arif Agus Bege'h
Gelap mulai mengepung cakrawala
awan hitam bergulung membawa kabar buruk dari utara
semua orang berlari mencari tempat bersembunyi
menutup pintu dan mengunci jendela rapat-rapat
Tapi lihatlah
siapa yang masih berdiri di sini!
di tengah lapangan terbuka
menantang arah angin
dada ini tidak dirancang untuk bersembunyi dari ketakutan
melainkan untuk menyambut
setiap hantaman dengan kepala tegak
Mereka bilang
jalan ini terlalu sunyi dan berbahaya
bahwa kaki yang telanjang
akan hancur oleh tajamnya batu
namun mereka lupa
bahwa tapak kaki ini telah mengeras
ditempa oleh perjalanan panjang yang penuh air mata
Biarkan petir menyambar membelah langit!
suaranya menggelegar tidak akan membuat jantung ini ciut
sebab gemuruh di dalam jiwa
jauh lebih besar
dari sebuah pemberontakan terhadap nasib
Kita bukan daun kering yang pasrah diterbangkan angin malam
kita adalah pohon tua dengan akar yang tertanam sangat dalam
makin keras angin mencoba merubuhkan batangnya
makin kuat cengkeraman kita pada tanah kehidupan
Dengarkanlah wahai malam yang pekat!
sunyi yang kau tebarkan
tidak akan membungkam suara kami
sebab kebenaran tidak butuh ruang yang megah untuk terdengar
ia hanya butuh satu tenggorokan yang berani berteriak bebas
Waktu mungkin telah mengikis banyak hal dari diri kita
masa muda, tawa, dan kenyamanan yang pernah singgah
namun waktu tidak pernah bisa menyentuh satu hal:
harga diri yang tetap menyala di balik sisa-sisa luka
Maka majulah!
jangan tunggu sampai badai ini mereda
kita akan menembus hujan lebat ini bersama-sama
menghancurkan dinding keraguan yang menghalangi jalan!
Sebab di ujung badai nanti
sebuah fajar sedang menunggu
bukan untuk mereka yang bersembunyi di dalam rumah
melainkan untuk kita
para petarung yang bertahan
hingga tetes hujan terakhir jatuh ke bumi
Masamba Sul-Sel, 12/12/2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar