Sajak Pengelana Yang Pulang


Sajak Pengelana Yang Pulang
By: Arif Agus Bege'h


Andai bisa ku atur ke mana rasa ini berlabuh,
takkan kusimpan ia di bilik yang tenang dan teduh.
Kubiarkan cintaku menjelma pengembara yang jauh,
menyusup ke dada para preman dan bandit yang angkuh.

Kepada penjahat yang kerap dikutuk malam,
kepada perampok yang memeluk sunyi dan kelam,
bahkan pada koruptor dengan nafsu yang dalam,
di sana cintaku mengawali perjalanan yang silam.
Bukan demi menista kesucian rasa yang kupunya,
namun di kubang hitam itu ada rahasia dunianya.

Biarlah cintaku belajar dari runtuhnya karsa,
menyaksikan bagaimana ego manusia menemui batasnya.
Hingga tiba masanya langit jiwa mereka berdarah,
menumpahkan hujan penyesalan yang tak lagi terarah.

Di saat airmata taubat membasuh wajah yang lelah,
aku 'kan datang menjemput cintaku yang telah berbenah.
Cinta itu tak lagi sama saat kuambil kembali,
ia telah disepuh nestapa, menjadi teramat sejati.

Sebuah rasa yang paham bagaimana cara mengabdi,
setelah menyaksikan hamba yang merangkak menuju Ilahi.
Maka saat ini, biarlah dadaku tetap sekokoh batu,
menutup rapat pintu dari cinta yang sekadar bertamu.

Aku belum butuh rayuan dari jiwa yang masih semu,
yang hanya mencari pelarian di setiap musim penatmu.
Aku hanya menunggu ia yang paham rahasia bertahan,
tahu kapan harus berdarah-darah maju memperjuangkan,
kapan harus berdiri teguh di tengah badai ujian,
dan kapan harus melepas jemari dengan keikhlasan.



Masamba Sul-Sel, 15/04/2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar