Puisi ini adalah sebuah pengakuan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa ditolak atau dikendalikan oleh ego manusia. Ia adalah takdir yang menyatukan tawa dan tangis, mentari dan rembulan, dalam satu kebahagiaan yang utuh. Inilah 'Satu Takdir'.
Satu Takdir
By: Arif Agus Bege'h
Baja, batu, dan beton pun menjadi abu
tatkala cinta bertahta di singgasana kalbu
tak mampu kutolak
tak mungkin membatu
sebab ia takdir yang memaksa untuk menyatu
Di depan saksi
tawa dan tangis melabuh
menjadi janji yang tak lagi bisa roboh
menolak cinta adalah dosa yang sungguh
seperti memisah mentari dari rembulan yang teduh
Segala keras luruh dalam dekapan doa
satu bahagia lahir dari dua jiwa yang setia
kita tercipta berpasangan menolak arusnya sia-sia
sebab cinta adalah satu-satunya rumah bagi segala rasa
Masamba Sul-Sel, 23/02/2014