• "Seringkali kita diajarkan bahwa diam adalah ketabahan, dan mengeluh adalah kekalahan. Namun kali ini, mari kita belajar melepaskan sedikit tali yang mencekik napas itu. Mari jujur pada diri sendiri. Inilah puisi tentang jiwa-jiwa yang lelah namun tetap melangkah karya Arif Agus Bege'h: 'Di Balik Pundak Yang Teguh'."

    Di Balik Pundak Yang Teguh
    By: Arif Agus Bege'h


    Kau berdiri seperti karang di tengah deburan
    menahan badai
    menelan riak-riak kesakitan
    matamu bicara tentang peta perjalanan yang berat
    tentang malam-malam di mana kau menolak untuk beristirahat

    Ada seuntai beban yang kau ikat kuat di punggungmu
    seolah dunia akan runtuh jika kau lepaskan satu
    namun dengarlah
    wahai jiwa yang sering terengah
    langit pun butuh awan untuk membagi beban resah

    Bumi tak pernah berputar sendirian dalam sunyi
    ada gravitasi yang saling memeluk
    menjaga harmon

    Tidak semua beban perlu kamu pikul sendiri
    sebab pundakmu manusia bukan pilar besi yang abadi
    kita sering diajarkan bahwa diam adalah ketabahan
    bahwa mengadu adalah kekalahan yang memalukan

    Lalu kita mengunci pintu mematikan lampu di dalam dada
    berpura-pura tegar meski batinmu basah oleh hujan yang melanda
    padahal di dalam
    retakan mulai merayap pelan
    meminta ruang
    meminta sedikit saja perhatian

    Belajarlah meminta bantuan
    sebab di sana bukan letak kehancuran
    mengulurkan tangan bukan berarti kau telah patah
    tapi tanda bahwa kau cukup berani untuk bersikap rendah

    Biar saja airmata jatuh membasahi pipi yang lelah
    sebab mengakui kerapuhan bukanlah sebuah fakta yang salah
    meminta bantuan bukan tanda kelemahan
    melainkan bukti bahwa kau menghargai kehidupan

    Satu tangan yang kau raih satu bahu yang kau pinjam
    bisa jadi lentera di tengah lorong yang sedang menghitam
    kau tak harus menjadi pahlawan yang selalu menang
    terkadang, menjadi manusia yang jujur jauh lebih tenang

    Lepaskan sedikit tali yang mencekik napasmu itu
    bicaralah pada angin
    atau pada sahabat yang menunggu
    dunia takkan menghakimi langkahmu yang melambat
    sebab yang paling mencintaimu
    ingin melihatmu selamat

    Berhentilah memikul segalanya sendirian
    sebab di sela-sela kebersamaan
    ada damai yang Tuhan titipkan


    Masamba Sul-Sel, 11/06/2026

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -