• Salah Menilai Langit
    By: Arif Agus Bege'h


    Salah dalam menilai makna langit
    kau kira ia hanyalah bentangan biru yang manja
    tempat sunyi bersembunyi di balik megahnya
    tempat pasrah bagi jiwa-jiwa yang menyerah
    tidak, kau keliru, kau sama sekali buta

    Langit adalah altar paling jujur
    ia tak pernah tunduk pada takdir yang memudar
    jika mendung datang
    ia tak sudi mundur
    jika amarah memuncak
    ia runtuhkan petir mendampar
    ia tidak meminta izin pada bumi untuk bergemuruh
    ia tidak mengemis pada waktu untuk meruntuhkan angkuh

    Lihatlah ke atas
    ia tak pernah menahan jatuhnya hujan
    ia tak pernah menyembunyikan badai di balik awan
    sebab langit tahu kapan harus menggelegar
    dan merobek kesunyian yang berpura-pura sabar

    Di sana, di balik jubah hitam mega-mega
    ada perang yang berkecamuk tanpa suara
    ada tangis yang menjelma menjadi air mata badai
    dan luka yang dipaksa sembuh sebelum tercerai
    maka jangan kau dikte cakrawala dengan kelemahanmu
    jangan kau ukur luasnya dengan ketakutanmu

    Sebab pada akhirnya...
    langit akan tetap berdiri
    kokoh dan menyala
    merajut mendung
    memeluk petir
    membasuh lara

    Dan kita hanyalah debu...
    yang terkesiap melihatnya berkuasa


    Masamba Sul-Sel, 04/06/2026


    AAB - Salah Menilai Langit

    0


  • Takkan Pernah Pulang
    By: Arif Agus Bege'h


    Keyakinan adalah pasak bumi,
    menancap kokoh di kedalaman hati.
    Tak goyah dihantam badai,
    tak runtuh digoda ragu yang mengintai.

    Tujuan di depan adalah kepastian,
    bukan sekadar mimpi yang melayang.

    Satu langkah, satu keyakinan,
    perjuangan ini takkan pernah pulang.


    Masamba Sul-Sel, 04/06/2026

    AAB - Takkan Pernah Pulang

    0


  • Pelita Di Tengah Belantara
    By: Arif Agus Bege'h


    Di rimba ilmu yang tak bertepi
    langkah terhenti
    tersesat sepi
    akal mengembara mencari jawab
    namun buntu menemui gelap

    Mursyid datang membawa pelita
    menuntun jiwa yang hampir buta
    mengurai kusut
    menepis ragu
    membimbing pulang ke jalan yang tuju


    Masamba Sul-Sel, 03/06/2026

    AAB - Pelita Di Tengah Belantara

    0
  •  


    Sejuk Di Antara Gersang
    By: Arif Agus Bege'h


    Di batas langit yang berarak kelabu
    Ia turun tanpa sepatah ragu
    tak ada protes pada putaran waktu
    saat takdir membawa rintik menyentuh debu

    Ia hadir di kala bumi tak menduga
    menghapus duka
    membasuh lara yang lama
    sebuah berkah yang mengalir bersahaja
    menjadi saksi tentang arti sebuah setia

    O... Hujan di bulan Juni yang sunyi
    mengajarkan tabah dalam sepi yang mulia
    membawa sejuk di antara gersang dunia
    meski hadirmu tak pernah diduga

    Dalam sunyi yang mulia
    hujan pun mereda


    Masamba Sul-Sel, 02/06/2026

    AAB - Sejuk Di Antara Gersang

    0
  •  


    Mata Angin Persatuan
    By: Arif Agus Bege'h


    PANCASILA ADALAH CERMIN EGO YANG MELUNAK!
    Sebuah ruang tempat kepala-kepala batu menunduk takzim
    tempat amarah dan keserakahan diredam oleh rasa yang rukun
    Ia mengingatkan kita bahwa di Indonesia
    'AKU' baru akan bermakna jika ia meluhur menjadi 'KITA'!

    Sebab apalah arti sebatang lidi tanpa ikatan?
    apalah arti sekerat batu tanpa fondasi bangunan?
    di tanah ini
    kemegahan diri adalah kesia-siaan
    jika saudaramu masih merangkak dalam ketertinggalan

    PANCASILA ADALAH KOMPAS!
    Penunjuk arah ketika peta dunia mulai buram dan bias
    pemberi sauh ketika ombak modernitas menghantam cadas
    agar bangsa ini TIDAK kehilangan arah di tengah badai zaman!
    menolak karam
    menolak tunduk pada perpecahan

    Mari rapatkan barisan luruskan pandangan
    memastikan kita TETAP BERJALAN BERIRINGAN
    bukan sebagai asing yang saling mengancam
    melainkan dengan hati yang damai
    dan harmoni yang TERJAGA!


    Masamba Sul-Sel, 01/06/2026

    AAB - Mata Angin Persatuan

    0
  •  

    "Kemegahan sebuah kota tidak diukur dari tingginya gedung-gedung pencakar langit atau gemerlap lampunya, melainkan dari bagaimana kota itu memperlakukan jiwa-jiwa yang paling rapuh di sudut-sudutnya."

    Elegi Bocah di Jantung Kota

    By: Arif Agus Bege'h



    Rintihan anak yang terbuang di alon-alon kota

    Ia menjerit

    seakan hidup tak lagi bermakna

    malam dingin menghujam sekujur tubuh yang dipaksa renta

    dalam renungan ia berbisik:

    sengsara hanyalah baka, membawa luka


    Lampu-lampu kota berpijar begitu megah

    namun tak satu pun sinarnya mampu

    menyeka air mata yang tumpah

    Ia meringkuk di antara tumpukan sepi dan bising jalanan

    menatap dunia yang berlari

    meninggalkan dirinya dalam lupakan


    Di bawah langit malam yang tak lagi punya rasa iba

    tangan kecilnya gemetar

    meraba dada yang sarat kecewa

    besok pagi kota ini akan kembali

    terjaga dan tertawa tanpa pernah peduli

    pada jiwa yang perlahan mati di sudutnya



    Masamba Sul-Sel,  23/05/2026


    AAB - Elegi Bocah di Jantung Kota

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -