Penyair Tragedi
By: Arif Agus Bege'h
Apa yang kita pertaruhkan hari ini dan esok,
apakah sebuah kebenaran yang utuh?
atau sekadar suaka pembenaran
di tengah realitas yang enggan realistis
Ketika kautuding sebuah keyakinan,
apakah itu sungguh-sungguh iman?
atau hanya jangkar rapuh yang kaulabuhkan
karena tak lagi punya alasan lain
Sebaliknya, atas kelamnya masa lalu
kita dikepung ketakberdayaan
berkelit dari rasa bersalah
yang terus menuntut dihakimi
Kita begitu fasih menjauh dari ragu
membolak-balikkan telapak tangan dengan mudah
bahkan dalil pun kerap menjelma martir
bagi ambisi yang memaksa mimpi menjadi jalan hidup
Setiap tragedi merawat tanyanya sendiri
sebab pertanyaan adalah rahim bagi kemungkinan
ia serupa rindu pada kedatangan hujan
yang tiba-tiba tumpah sebagai rangkaian sapaan
Laksana cinta dan arwah yang bersenandung
mengalunkan syair dari hati, untuk hati
yang pada akhirnya nanti
kepada-Nya jua semua dikembalikan
Pernahkah kau lihat bayangan itu?
bayangan dari sebuah tragedi cinta
yang diam-diam mengintai
di balik sunyi yang paling dalam
Lahu mengapa kita masih saja nekat
menjawab keputusasaan dengan harapan berpeluk janji?
bahwa esok aku akan pulang membawa kebahagiaan
yang tak pernah kaugenapkan dari siapa pun
Bahkan tidak juga dari diriku sendiri
itulah jawaban paling sunyi
dari seorang penyair tragedi
Makassar, 04/02/2011