AAB - Puncak Anjani Dan Janji Yang Abadi

 


Puncak Anjani Dan Janji Yang Abadi
By: Arif Agus Bege'h


Di ufuk timur
ia berdiri tegak menantang awan
Rinjani
sang penjaga langit dengan mahkota kabut
sepertinya ia tahu
betapa berat rindu yang kusimpan
setiap kali namamu dalam doa-doaku lembut kusebut

Segara Anak adalah cermin matamu yang tenang
hijau toska meneduhkan segala resah yang menderu
di tepiannya
aku belajar bagaimana cara mengenang
bahwa mencintaimu adalah pulang menuju biru yang haru

Cintaku padamu bukanlah bunga di kaki gunung
yang layu ketika musim berganti rupa
ia adalah jalur terjal yang rela kusanjung
meski nafas tersengal
langkahku takkan pernah lupa

Jika dingin Sembalun menusuk hingga ke tulang
hangat senyummu adalah api unggun yang paling setia
tak peduli seberapa jauh aku harus bertualang
puncak asmaraku tetaplah kau
satu-satunya dunia

Biarkan Rinjani menjadi saksi bisu
bahwa setinggi apa pun aku mendaki
tujuanku selalu kembali pada pelukmu yang sunyi


Makassar, 05/05/2011


AAB - Penyair Tragedi

Penyair Tragedi
By: Arif Agus Bege'h


Apa yang kita pertaruhkan hari ini dan esok,
apakah sebuah kebenaran yang utuh?
atau sekadar suaka pembenaran
di tengah realitas yang enggan realistis

Ketika kautuding sebuah keyakinan,
apakah itu sungguh-sungguh iman?
atau hanya jangkar rapuh yang kaulabuhkan
karena tak lagi punya alasan lain

Sebaliknya, atas kelamnya masa lalu
kita dikepung ketakberdayaan
berkelit dari rasa bersalah
yang terus menuntut dihakimi

Kita begitu fasih menjauh dari ragu
membolak-balikkan telapak tangan dengan mudah
bahkan dalil pun kerap menjelma martir
bagi ambisi yang memaksa mimpi menjadi jalan hidup

Setiap tragedi merawat tanyanya sendiri
sebab pertanyaan adalah rahim bagi kemungkinan
ia serupa rindu pada kedatangan hujan
yang tiba-tiba tumpah sebagai rangkaian sapaan

Laksana cinta dan arwah yang bersenandung
mengalunkan syair dari hati, untuk hati
yang pada akhirnya nanti
kepada-Nya jua semua dikembalikan

Pernahkah kau lihat bayangan itu?
bayangan dari sebuah tragedi cinta
yang diam-diam mengintai
di balik sunyi yang paling dalam

Lahu mengapa kita masih saja nekat
menjawab keputusasaan dengan harapan berpeluk janji?
bahwa esok aku akan pulang membawa kebahagiaan
yang tak pernah kaugenapkan dari siapa pun

Bahkan tidak juga dari diriku sendiri
itulah jawaban paling sunyi
dari seorang penyair tragedi


Makassar, 04/02/2011

AAB - Bisa Saja Aku Melukaimu



Bisa Saja Aku Melukaimu
By: Arif Agus Bege'h


Dulu, namamu adalah angan
kuukir di setiap mimpi
dan di setiap bait puisi
namun hari ini
mengapa tangkai bunga itu masih saja basah
diguyur air mata semalam?

Cintaku mendadak pekat di ujung lidah
meski kucoba mengeja makna paling manis
hanya tersisa rindu bertabur lara
serupa hujan tak diharapkan
lalu menghanyutkan kepastian

Jika harus bersuara, biarkan aku berkata lewat puisi
akulah bait terindah untukmu
di sana, aksaraku bisa saja berbalik melukaimu
meski kenyataannya
kau telah lebih dulu meremukkanku lewat cinta

Untuk cinta
aku pasrah menerima luka
namun untuk puisi
bisa saja aku melukaimu


Makassar, 17/12/2010

AAB - Janji Kenangan

Janji Kenangan
By: Arif Agus Bege'h


​Telah kutelusuri ikrar di dalam hati
ada noda, dusta, dan luka yang tertinggal
kepalsuan beranjak menjadi silam
saat ego kukuh membela diri

​Sejatikah kita tanpa kepingan hati yang lain?
pantaskah melupakan lembaran yang runtuh?
maka akulah penjaga sumpah yang tercipta
untuk dirawat setelah rindu berlalu

​Jika semua itu kuucapkan kembali padamu
bukanlah ia sekadar pengisi masa lalu

​Ingatlah, kenanglah
suka duka bersama
air mata menjadi saksi keabadian janji kita


​Tarailu Sul-Bar, 05/10/2010

AAB - Catatan Airmata

Catatan Airmata
By: Arif Agus Bege'h


Tabir retak berkeping
mencari bentuk mimpi dalam ingatan purba
di sana, kita menyaksikan kekasih hilang dan nyawa luruh ke bumi
cara tragedi mengubur aroma cinta

Namun dalam lembar sunyi kisah itu menolak mati
kita tak bisa mengelak saat tatap matamu merangsek masuk
memahat ruang abadi di dada untuk sekadar dikenang

Aku memandangmu dari sudut paling palung
menolak percaya kita telah jatuh miskin
jarak hanyalah jurang yang dipahat untuk menguji arti kepemilikan

Sebab kebahagiaan baru utuh saat menggenang bersama air mata
maka, biarkan aku memeluk gerimis di matamu
atau sepenuhnya menjadi hujan yang luruh dari langit jiwamu

Percayalah
Tuhan tidak sedang menghukum kita dengan luka
ia hanya menakar ruang sabar sebelum menjatuhkan bahagia
catatan air mata ini adalah bekal
untuk menguji setiamu kelak


Mamuju Sul-Bar, 19/09/2010