• BIODATA PENULIS

    Data Pribadi
    ​Nama Asli: Agus Supriadi, S.Farm
    ​Nama Pena: Arif Agus Bege'h
    ​Tempat, Tanggal Lahir: Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, 22 November 1980
    ​Silsilah: Putra pertama dari pasangan (Alm.) Muhammad Take dan (Alm.) Marni

    ​Profil Singkat
    ​Agus Supriadi, S.Farm, yang lebih dikenal di dunia literasi dengan nama pena Arif Agus Bege'h, merupakan seorang apoteker sekaligus pegiat sastra kelahiran Masamba, Luwu Utara. Lahir pada 22 November 1980 sebagai putra sulung, ia berhasil memadukan latar belakang keilmuan farmasi yang sistematis dengan kepekaan rasa yang dituangkan melalui untaian kata.

    ​Langkah kepenulisannya di dunia sastra, khususnya puisi, dimulai sejak tahun 2009. Selama belasan tahun mendedikasikan diri dalam dunia kata, ia secara konsisten merajut karya yang berpusat pada rekam jejak perjalanan kisah hidup yang dihadapi, serta filosofi tentang hujan dan air mata. Bagi Arif Agus Bege'h, hujan, air mata, dan dinamika hidup adalah elemen-elemen yang saling mengalir—menjadi sumber inspirasi terdalam untuk menangkap kesedihan, ketabahan, dan harapan manusia.

    ​Selain aktif menggoreskan pena, ia juga dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Dedikasinya tidak hanya terbatas pada lembar-lembar kertas, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan aktifnya dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, gerakan sastra, serta organisasi kemasyarakatan. Ia percaya bahwa sastra dan aksi nyata di masyarakat adalah dua hal yang saling menghidupkan.

    BIODATA PENULIS

    0
  • "Puisi ini adalah renungan bagi mereka yang memegang amanah sebagai penjaga kualitas sastra, namun memilih untuk berpaling dari tanggung jawabnya."

    Matinya Sang Penjaga
    By: Arif Agus Bege'h


    Ia memoles kata
    namun jiwanya beku
    hanya menjual sanjungan di atas debu
    tak ada bedah makna
    tak ada api yang menyala
    sastra baginya hanyalah panggung penuh tipu daya

    Mata tertutup pada luka dan duka
    pena tumpul
    digerogoti kepentingan celaka
    ia pengkhianat yang memilih bungkam
    membiarkan karya berharga mati terendam

    Seharusnya kompas bagi pembaca yang sesat
    Kini malah menyesatkan dengan pujian sesaat
    ia biarkan mediokritas tumbuh subur dan meraja
    menjadikan sastra sekadar komoditas belaka

    Tak ada kritik
    hanya gema yang basi
    kehilangan nurani
    tenggelam dalam distorsi
    martabatnya gugur di meja yang sunyi
    membunuh ruh kata dengan nalar yang mati

    Wahai penista aksara yang terlelap dalam semu
    sejarah mencatat khianatmu dengan abu
    saat kau abaikan esensi dan kedalaman
    sastra hanyalah bangkai dalam kehampaan


    Mamuju Sul-Bar, 09/09/2022

    Matinya Sang Penjaga

    0


  • Bidadari Hatiku
    (Untuk Istriku Nurhasanah)
    By: Arif Agus Bege'h


    Di bawah langit Pantai Manakarra
    kita merajut kisah
    melangkah bersama
    dalam perjalanan panjang yang tak selalu mudah
    engkau tetap tegar
    meski badai mencoba menggoyah

    Setiap hujan yang jatuh membasahi bumi
    seolah menjadi saksi betapa sabarnya hatimu
    engkau merangkul segala kurangku dengan ikhlas
    menjadi rumah tempatku berpulang saat napas terasa lepas

    Dan saat airmata harus jatuh membasuh pipi
    engkau tetap berdiri menyungging senyum yang berarti

    Terima kasih, Nurhasanah belahan jiwa yang sejati
    karena bersamamu
    segala luka mampu kuobati

    Dari suamimu yang selalu mencintaimu


    Mamuju Sul-Bar, 31/08/2022

    AAB - Bidadari Hatiku

    0


  • Menanggalkan Arus
    By: Arif Agus Bege'h


    Bukan perihal kalah
    bukan pula tentang menyerah
    aku hanya sedang memulangkan detak yang sempat kau titip
    ke ruang sunyi tempat segala asa berlabuh tanpa paksa

    Sebab mencintai
    pada akhirnya
    adalah seni melepaskan
    membiarkan setiap kenangan menemukan rumahnya sendiri
    bukan lagi di saku bajuku bukan lagi di sela napasku

    Kubiarkan ia mengalir
    tak lagi kukunci dalam dekapan
    karena yang benar-benar abadi tidak akan pernah menuntut
    ia hanya perlu dibiarkan menetap sebagai sejarah
    tanpa harus kukorbankan langkahku untuk terus menjamah.


    Masamba Sul-Sel, 01/01/2022

    AAB - Menanggalkan Arus

    0
  •  

    "Kita tidak perlu menjadi batu yang hancur karena benturan. Belajarlah menjadi air; yang tetap utuh meski harus mengalah pada arah arus yang ia lalui."

    Retak Yang Bijak
    Oleh: Arif Agus Bege'h


    Badai tak memilah seberapa dalam akar tertanam
    ia hanya datang memangkas yang angkuh dan kelam
    jangan memahat diri menjadi karang yang beku
    sebab keras yang berlebih hanya mengundang retak di saku

    Kita sering lupa
    bahwa luka adalah ruang bagi cahaya
    bahwa setiap retakan adalah jalan bagi doa untuk menyapa
    mengapa harus menantang gelombang dengan dada yang sesak?
    jika pada akhirnya keangkuhan hanyalah cara tercepat untuk terkoyak

    Belajarlah menakar nasib serupa air yang mengalir
    menanggalkan ego sebelum hancur di akhir
    ia tak pernah melawan arus meski tajam menghujam
    ia justru memeluk batu hingga waktu membuatnya tenteram

    Terkadang
    kita perlu patah agar bisa melentur
    melepaskan genggaman yang membuat jiwa terkapar luntur
    sebab menjadi manusia bukanlah tentang siapa yang paling tegar
    tapi tentang siapa yang berani ikhlas
    kembali tegak
    sebelum benar-benar terkubur


    Masamba Sul-Sel, 22/11/2021

    AAB - Retak Yang Bijak

    0
  •  
    "Cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita tertawa, melainkan dari seberapa tabah kita menanggung duka bersama. Sebab, tempat paling indah untuk berlabuh bukanlah tempat yang tanpa luka, melainkan tempat di mana kita belajar untuk tetap setia meski harus berkali-kali patah."


    Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati
    By: Arif Agus Bege'h


    Di Sukamaju Selatan langkahku terhenti
    menyapa bayang-bayang yang enggan pergi
    tanah ini bukan sekadar hamparan bumi
    ia adalah saksi
    tempat benih cinta bersemi

    Dulu, di bawah langit yang sama
    kita melukis tawa di atas kanvas luka
    Namun, cinta di sini tak selalu berbunga
    ada banyak duka yang menyamar jadi air mata

    Sukamaju Selatan
    kaulah dermaga yang kupilih
    tempatku menyandarkan lelah yang perih
    meski perih seringkali datang tanpa permisi
    di sini pula
    janji-janji kupahat dalam sunyi

    Banyak kisah telah karam menjadi debu
    tentang rindu yang tumbuh meski harus meragu
    Namun, di antara duka dan air mata yang membeku
    cintamu adalah satu-satunya pelabuhan yang kutuju

    Sukamaju Selatan
    biarlah ia menjadi prasasti yang abadi
    tempat cinta belajar untuk tidak mati
    meski harus berkali-kali patah dan kembali


    Masamba Sul-Sel, 08/07/2020

    Sukamaju Selatan: Sebuah Catatan Dari Dermaga Hati

    0
  • "Sebagaimana takaran obat yang harus presisi untuk menyembuhkan, begitu pula hidup; kita butuh takaran sabar yang tepat agar rasa sakit tidak menjadi luka yang abadi, melainkan menjadi hikmah yang menuntun kita pulang pada kedamaian."


    Sajak Hujan Yang Menepi
    By: Arif Agus Bege'h


    Pagi menyapa di tanah Masamba
    membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam
    aku meracik detik-detik menjadi kata
    seperti dosis yang tepat untuk luka yang diam

    Cinta bukan sekadar kata yang kuguratkan
    ia adalah hujan yang jatuh di lembah ini
    menyerap ke akar
    meski tak terlihat oleh mata
    menumbuhkan sabar di sela-sela rindu yang sunyi

    Airmata—ah
    biarlah ia menjadi saksi
    bahwa menjadi manusia adalah perjalanan di perantauan
    kita mendaki puncak kehidupan bukan untuk menaklukkan ego
    tapi untuk mengerti arti pulang dan kasih yang tertitipkan

    Masamba masih tenang dalam dekap cahaya
    dan aku, dengan pena dan doa
    menuliskan hidup yang terus bersahaja
    antara syukur yang tumpah dan kasih yang terjaga


    Masamba Sul-Sel, 28/07/2019

    AAB - Sajak Hujan Yang Menepi

    0

  • Belati Fakta, Topeng Kebajikan
    By: Arif Agus Bege'h


    ​Atas nama fakta dan kebenaran
    aib sesama ditiup ke udara
    berdalih meluruskan perjalanan
    padahal ego menari gembira
    ​Fitnah adalah dusta yang kelam
    ghibah merobek senyap dan ngilu
    bukan menghapus air mata dalam diam
    tapi menguliti di panggung yang semu
    ​Maksiat takkan surut oleh gunjing
    ketika lisan berubah jadi taring
    membasuh lantai dengan air keruh
    jiwa yang pongah takkan pernah basuh

    ​Takkan bersih jiwa yang pongah
    saat daging saudara sendiri yang dikunyah...


    Makassar Sul-Sel, 25/07/2018

    AAB - Belati Fakta, Topeng Kebajikan

    0


  • Seorang penyair tidak pernah menulis untuk mematuhi pagar pembatas; ia menulis untuk menembusnya. Ketika sebuah tradisi atau komunitas menetapkan "pantangan," mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata Anda memiliki daya untuk mengguncang tatanan mereka.
    Jangan pernah melihat larangan sebagai tembok yang menghentikan langkah, melainkan sebagai ujian atas kedalaman keyakinan Anda. Jika Anda berhenti menulis karena satu larangan, Anda bukan hanya tunduk pada mereka, tetapi Anda sedang mengkhianati suara batin yang menjadi sumber karya Anda. Tetaplah menulis, bukan untuk melawan mereka, melainkan untuk membuktikan bahwa kebenaran tidak memerlukan izin untuk diungkapkan.

    Kedaulatan Tinta
    By: Arif Agus Bege'h


    Pagar kayu lapuk berdiri angkuh
    menjaga mimpi di batas semu
    ada pantangan yang coba membunuh
    tapi pena ini tak sudi jemu

    Mereka berkata: jangan menulis!
    di luar garis jangan melangkah
    namun di batin
    suara berdengis
    takkan biarkan jiwaku menyerah

    Tantangan mereka adalah isyarat
    akan besarnya kuasa kata-kata
    mereka ketakutan di balik sekat
    di hadapan beningnya air mata

    Ini badai dari sumur puisi
    menerjang dinding ketidaktahuan
    meruntuhkan takut dengan amunisi
    kejujuran nurani tanpa penundaan

    Aku menulis
    maka aku ada
    tak butuh restu untuk berkreasi
    biarkan tinta mengukir sabda
    hingga runtuh pagar-pagar tradisi


    Makassar, 05/02/2018

    AAB - Kedaulatan Tinta

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -