AAB - Ruji-Ruji Suci



"Banyak burung yang meronta ingin lepas dari sangkar syariat, namun berakhir mati diterkam oleh hawa nafsunya sendiri di langit bebas."

Ruji-Ruji Suci
By: Arif Agus Bege'h


Aku adalah kepak yang menyerah pada ruang
yang oleh mata liar disebut budak belian
padahal aku hanya seekor unggas kecil
yang sedang belajar mengeja arti berterima kasih

Ruji-ruji besi ini bukanlah jeruji amarah
ia adalah batas suci yang sengaja ditempa
agar aku tahu betapa ngerinya belantara di luar sana
tempat kebebasan palsu mengasah taringnya.
Di balik bilah-bilah yang mengurung pandangan
paruhku tak pernah alpa mencecap rasa
setiap pagi wadahku penuh oleh air dan pakan
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
lalu nikmat mana lagi yang hendak kudustakan?

kalimat itu mengetuk dinding dadaku yang sempit
menyadarkan sayap yang telanjur manja
bahwa kenyamanan ini adalah seindah-indahnya penjagaan

Mereka yang mengagungkan kebebasan tanpa tepi
berteriak lantang dari bawah menatap sangkarku
menyebut pembatasan ini sebagai sebuah dosa
atas hak hidup makhluk yang lahir ke dunia

Sebuah gugatan yang lahir dari kedunguan ego
menakar keadilan langit dengan timbangan tanah
jika membatasi ciptaan dianggap sebuah cela
maka tunjukkan
woy, tunjukkan
tunjukkan, woy
Tuhan harus berdosa pada siapa?

Dia adalah Penguasa Tunggal atas seluruh jagat
Pemilik mutlak dari sehelai bulu hingga poros langit
tak ada hukum yang berdiri di atas kuasa-Nya
dan tak ada mahkamah yang mampu mengadili titah-Nya

Manusia sering kali menjelma burung yang tak tahu adat
meronta ingin lepas dari sangkar aturan-Nya
namun saat melesat bebas ke langit terbuka
mereka mati diterkam oleh hawa nafsu sendiri

Maka biarlah aku tetap mendekam di sini
bernyanyi sunyi di atas tangkringan syariat
menjadi budak-Mu jauh lebih menyelamatkan
daripada merdeka namun tersesat di jalan pulang


Masamba Sul-Sel, 15/05/2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar