AAB - Hadiah Hati Untukmu

Hadiah Hati Untukmu
Oleh: Arif Agus Bege'h


Merah merona pipimu
saat kupandang, ada harapan yang berpendar di sana.
Akankah kau mengingatku saat terjaga,
menyambut mentari pagi?
Rambut hitammu terurai, laksana putri mayang.

Adakah kau simpan namaku di kalbumu,
lalu kau abadikan dalam sukma?
Dingin dan beku salju abadi di puncak Papua,
namun aku tak pernah berharap hatimu sedingin itu untukku.
Yang kumau, hanyalah ketulusan,
menerima aku apa adanya.

Andai tetesan embun mampu kutampung,
akan kubawa untukmu sebagai persembahan;
sejuknya cinta yang kutawarkan.
Aku mungkin tak bisa membawamu mendaki Himalaya,
namun aku jamin, rinduku jauh lebih tinggi dari puncaknya.

Akan kuberikan hatiku yang lapang,
untuk kau tebarkan segala rasa dan hasrat.
Meski tak seluas samudra,
akan kutangguk setiap asa,
demi mengayuh kehidupan,
dan menggapai kelenggangan surga di kalbumu.


Tarailu, Sulawesi Barat, 16/01/2010

Puisi AAB - Hujan Air Mata

Hujan Air Mata
By: Arif Agus Bege'h


Menghitung waktu pada jemari manis
saat aksara kehilangan daya
tak lagi menulis karena berharap
kini dirimu usai di pelukan sang raja
permaisuri menertawakan sunyiku
para menteri berpesta pora
dan panglima menghunus pedangnya

Seakan terjaga dari mimpi buruk
namun nyata menyelimuti duk
menantang nasib atau menanti keajaiban
salahkan hujan yang menanam benih
benih air, benih mata

Siapakah yang mampu membuangmu?
siapa pula yang memisahkanmu dari badai takdir?
apakah luka ini hanyalah kenangan
atau sejarah ketulusan cinta?
aku takkan dapat menggores namamu
di setiap sajak yang tak berarti di mata mereka
sebab kau telah lahir sebagai Fitra

Air, beranjaklah
daki tangga keempat dan kelima nan pasti
dalam bentangan jalan yang kau tempuh
redam benci pada jiwa sang raja
raja yang takluk oleh permaisurinya
sungguh dirimu memanggil adik pada mata
dan kau pun kuberi nama: Nur Arifah Saputri

Mata, kau adalah sekeping mahar kebahagiaan
meski air menghalangi pandangan
kalian tetap buah dan jantung hati
tak terpisah oleh benturan atau tiga ketukan
bahkan oleh pemilik istana sekalipun
dan kau pun kuberi nama: Nur Jumanah Dwiputri

Sungguh bercahaya dalam nyata
meski gelap pada hujan
berkilau pada netra
namun gemerlapnya tak pernah menggelegar
kau tak sanggup menerobos gerimis meski asa menggebu
namun takdir akhirnya tunduk di pangkuanmu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai titisan cahaya terdahulu

Sampai kapan cahaya tertahan di ujung harapan?
hingga saat air dan mata mencari asalnya
kemelut berakhir dalam kehausan hakiki
cinta memberi pilihan
cinta memberi pertanyaan
dan jawabanmu ada pada hujan
hujan air mata


Tarailu Sul-Bar, 30/12/2009

AAB - Belati Di Tanganmu

Belati Di Tanganmu
By: Arif Agus Bege'h


Belati sudah di tanganmu
dadaku telah terbuka
jarak kita setipis embun

​Hujamkan saja jika mau
tanpa ragu
tanpa jeda
aku takkan mundur

​Semua pelindung telah kubuang
kulit dan daging ini milikmu
silakan pilih caranya


Tarailu Sul-Bar, 10/12/2009

AAB - Pion

Pion
By: Arif Agus Bege'h 

Langkah kecil di garis depan
menatap badai tanpa perisai
tak ada jalan untuk pulang
sebab mundur adalah tabu

Rela tergerus di hening laga
membuka ruang bagi yang besar
menjadi benteng yang tak kasatmata
demi tegaknya sebuah martabat

Namun di ujung garis berdebu
setelah karamnya ribuan ragu
ia yang setia pada komitmen
lahir kembali memegang mahkota.

Tarailu Sul-Bar, 05/12/2009

AAB - Sisa Rindu Semalam

Sisa Rindu Semalam
By: Arif Agus Bege'h


Hangat kopi pagi ini
penawar rindu semalam suntuk
kuseduh doa penuh harap
menjaga api tetap menyala

Di mana engkau bersembunyi?
hadir bersama cahaya surya
terangi setiap langkah kakiku
hingga senja menjemput tenang

Rindu ini masih dingin
perlu dekap hangat nyata
biarlah waktu pun saksi
betapa dalam rasa tertanam

Jangan biarkan aku sendiri
menunggu kabar di ambang
jadilah terang di jalan
menuntun arah menuju pulang

Setiap helai napas ini
adalah sapa untuk dirimu
datanglah saat matahari naik
menyempurnakan hari yang sepi


Tarailu Sul-Bar, 01/12/2009