AAB - Sumur Purba

Sumur Purba
By Arif Agus Bege'h


Apakah detakmu menetap di dadaku?
sementara air mataku masih sunyi
menanti sepasang air matamu luruh

Rindumu belum lagi mendaki puncak
tempat di mana sepasang jiwa
mampu melipat jarak

Jika saatnya tiba
kita adalah sepasang sauh
tenggelam dan abadi bersama
di dasar sumur yang takkan pernah keruh


Makassar, 16/06/2010

AAB - Kunci Sunyi

Kunci Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Kau temukan kuncinya
bukan untuk menutup pintu
tapi mengeja rindu di sela debu

Air mata telah membatu
menjadi prasasti sunyi
yang menanti sentuhan jemari

Bangunkan aku tanpa gaduh
sebab hati yang lama tertidur
mudah pecah jika terbentur


Makassar, 14/06/2010

AAB - Secuil Rindu



Secuil Rindu
By: Arif Agus Bege'h


Ternyata rindumu hanya secuil itu?
puluhan bukit ku tempuh empat anak gunung aku penuhi
menerobos lima fase hujan yang menikam sunyi
hanya demi melihat wajahmu yang kutunggu-tunggu

Namun kau
hanya diam sebab gerimis menyapa
membiarkan janji luruh bersama rintik yang sia-sia
tak ada rasa yang cukup besar untuk melintasi jeda
hanya ada jarak yang semakin lebar karena kecewa

Betapa lengkap tragedi airmata yang kau kirimkan
sebuah luka yang lahir dari pengorbanan yang kau abaikan
rindu yang ku gendong berat kini hambar dalam genangan,
tinggallah aku sendiri
di antara sisa hujan dan kenangan


Makassar, 13/06/2010

AAB - Belati Lidah

Belati Lidah
By: Arif Agus Bege'h


Jangan teriakkan rindu
jika di balik lidahmu
masih kau sembunyikan belati berkarat

Suara kerasmu hanya karat
menyisakan ujung ragu
yang membuat kata-katamu gagu

Simpan bising itu
sebab telinga ini tahu
mana cinta
mana luka masa lalu


Tarailu Sul-Bar, 02/06/2010

AAB - Sama Saja

Sama Saja
By Arif Agus Bege'h


Kalian takkan mampu mengeringkan pilu
sebab aku telah bersumpah setia pada kalbu
kesedihan adalah nafas yang menyatu
jalan sejarah yang tak mungkin terkikis waktu

Coba halangi sejarah yang kusemai
kau hanya akan melihatku tegak meski terkulai
bahagia tanpa tunjuk-Nya hanyalah sunyi yang lalai
tangis tanpa airmata
sesal yang tak usai

Biarkan ia mengalir sebagai takdir nyata
dalam luka
kutemukan jalan menuju-Nya
tak ada yang mampu memisahkan setia
meski dunia menolak
aku tetap tegak dalam doa

Kalian hanya melihat hambar di mata
tak mengerti bahagia bagi yang mendusta
hidup tanpa restu Sang Pencipta
adalah tangis tanpa airmata saksi derita

Sejarahku menuntaskan rahasia
tentang luka dan takdir yang tak sia-sia
bagi mereka yang lupa akan kehendak-Nya
pada akhirnya, sama saja


Sallugatta Sul-Bar, 28/05/2010