AAB - Kepingan Nyata

Kepingan Nyata
By: Arif Agus Bege'h


Bisik jiwaku sering kau acuhkan
tiap celah kaujadikan cela
meskipun cinta yang kutawarkan
adalah kebenaran paling nyata

Percayalah sayang
kita harus mencari
kepingan rindu yang sempat layu
meski cinta itu bersembunyi
di hatiku yang kauanggap kelabu


Makassar, 03/011/2013

AAB - Renjana Di Pelupuk Mata


Renjana Di Pelupuk Mata
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit yang senyap
waktu membeku dalam dekap
setiap detik adalah kenangan
hujan abadi di pelupuk mata

Angin berbisik pada dahan yang luruh
membawa pesan yang tak sempat tersampaikan
tentang jejak kaki yang terkikis debu
dan suara-suara yang kini menjadi bisu

Kita adalah dua baris sajak yang tak selesai
tergantung di antara fajar dan senja yang usai
mencoba mengeja arti dari sebuah kehilangan
di tengah keramaian yang terasa sunyi

Biarlah rindu ini tetap tinggal
menjadi prasasti di dinding hati yang kekal
sebab meski raga tak lagi searah
mamamu tetap menjadi doa yang paling indah

Waktu membeku dalam dekap
di bawah langit yang tetap senyap



Makassar,  22/09/2013

Temukan puisi ini di Youtube Judul Renjana Di Pelupuk Mata


AAB - Elegi Sang Pelindung Sunyi



"Cinta yang paling tinggi sering kali menyamar dalam bentuk kerendahan hati. Terkadang, seseorang rela dianggap kalah atau bodoh, hanya agar orang yang dicintainya tidak perlu menanggung beban perasaan yang lebih berat."

Elegi Sang Pelindung Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Telah kukirimkan air mata melalui celah sempit di dadaku
saat hati yang kaku ini hanya mampu mengeja tanda-tanda kesedihan
sementara bahagia telah lebih dulu menjemput perih di palung jiwaku

Lihatlah langit itu, sayang
ia tetap benderang, secerah ketulusan yang kupunya
hanya saja
engkau belum mampu mengusir kabut di jiwamu sendiri
hingga badai keraguan datang silih berganti menghantammu

Akulah lelaki hujan
yang turun untuk mengguyur jiwa yang lelah melewati ujian
akulah air matamu
yang jatuh untuk membasuh derita di atas sisa bahagia
agar engkau paham cara menyambut tragedi cinta dengan tabah
meski di matamu
aku hanyalah lelaki tercela
seorang pecundang yang berdiri di atas apa yang kau sebut kebodohanmu

Mungkin kelak
saat kesadaran itu menyapa
aku tak ingin engkau terjebak dalam penyesalan yang sia-sia.
sebab bunga yang pernah kau tanam akan tetap abadi di sini
di dalam hatiku
ia takkan pernah berubah warna
pun takkan hilang aromanya

Maafkan lelaki pecundang ini
yang dengan egonya
selalu membiarkanmu merasa bodoh karena cinta


Masamba Sul-Sel, 04/08/2013

AAB - Kebenaran Yang Menetap

Kebenaran Yang Menetap
By Arif Agus Bege'h


Andai rindu ini
dan cinta yang tumbuh di dada kita
adalah sebuah kebenaran
maka biarkan ia berdiri sendiri

Tak perlu lagi kita menoleh
atau membuka telinga
pada desah angin yang mampir
membawa keraguan yang tak pasti

Suara-suara itu sering kali datang
berkicau tanpa henti di telinga waktu
mencoba meretakkan dinding rasa
dan mengganggu ketenangan jiwa kita

Namun percayalah, Sayang...
langit di atas kita tak akan runtuh
hanya karena bisikan-bisikan asing
yang lewat sekilas

Sebab hati yang goyah
mudah retak oleh praduga
sebenarnya masih berjalan di pinggiran
dan belum menyentuh inti cinta sejati

Cinta sesungguhnya
memiliki akar yang menghujam dalam
tidak bergetar oleh badai kecil
tidak ciut oleh kicauan tak berarah

Dan ketahuilah dengan pasti
jiwa rapuh dan mudah bimbang itu
bukanlah milikku
bukan pula cerminan dari langkahku

Hatiku adalah rumah yang kau tuju
tempat yang sejak awal mula
telah engkau pilih dengan keyakinan
untuk meletakkan seluruh percayamu

Di sinilah kita berdiri
melampaui riuh yang sia-sia
menjaga kebenaran yang telah teruji
oleh waktu yang terus melaju


Masamba Sul-Sel, 02/07/2013

AAB - Liku Menuju Muara



Liku Menuju Muara
By: Arif Agus Bege'h


Langkahku tak pernah ragu
saat kelokan tajam membentang di depan
karena di ujung sana ada wajahmu yang menanti
menawarkan teduh yang paling dicari

Perjalanan ini terasa begitu singkat
meski jarak kerap bermain dengan sabar
aku melesat secepat kedipan mata
menembus sangsi meruntuhkan segala batas

Sebab senyummu adalah peta utama
yang selalu mengusik malam-malam sepi
menjelma mimpi yang enggan usai
dan rindu yang tak tahu cara untuk reda

Biar hujan membasuh lelah di pundak
atau airmata sesekali jatuh mengeja rindu
semua itu hanya riak kecil yang rapuh
di hadapan tekadku untuk bersamamu

Hingga tiba masanya kelak
dua nama kita akan terpahat abadi
menyatu dalam satu bingkai takdir
menua bersama senyum yang takkan pudar


Masamba Sul-Sel, 30/06/2013