AAB - Meja Kayu dan Gelas Dingin

Cinta sejati bukanlah tentang dua orang yang saling memiliki, melainkan tentang runtuhnya ego masing-masing, agar ruang di antara mereka hanya dipenuhi oleh ketulusan yang tak berjarak.

Sebuah puisi tentang penghancuran ego

Meja Kayu dan Gelas Dingin
By: Arif Agus Bege'h


Kita berhadapan
sibuk membela diri
"Aku benar" katamu "Aku terluka" sahutku
di antara kopi yang hampir dingin
dua kepala batu menolak mengalah

Hening mengambil alih
kuturunkan nada bicara
kau melepas kepalan tangan
kita berhenti saling menuduh
menanggalkan gengsi yang melelahkan

Di lantai kedai
kata-kata tajam melunak jadi maaf
kesombongan runtuh perlahan
tanpa teriakan
hanya ada air mata

Tiada lagi menang atau kalah
meja terasa lapang tanpa drama dan pembelaan
justru dalam ruang hampa ini
kita akhirnya saling mendengarkan

Tersisa dua orang lelah berpura-pura kuat
bukan penguasa
bukan tawanan
hanya ada aku
kamu
dan kejujuran yang telanjang


Masamba Sul-Sel, 01/01/2014

AAB - Tatanan Rasa dan Semesta

Tatanan Rasa dan Semesta
By: Arif Agus Bege'h


Cinta yang sekadar lahir dari ketidaksengajaan
tidak akan pernah mampu menopang semesta
ia terlalu rapuh jika hanya bersandar pada peluang
tanpa akar yang menghujam tajam ke dalam kesadaran

Semestinya ia menjadi fondasi yang paling tegak
undang-undang pertama yang merawat peradaban manusia
bukan sebatas debar yang singgah lalu raib
melainkan hukum utama yang menjaga keseimbangan hidup

Sebab jauh sebelum langit merumuskan dogma
cintalah yang pertama kali memijak bumi ini
ia diutus sebagai kompas purba yang paling murni
menjadi terang bagi manusia yang baru meraba dunia

Namun seiring waktu kesucian itu perlahan buram
ketika rasa mulai dihunus sebagai senjata
manusia menyalahgunakan cinta demi menaklukkan
menghukum sesamanya atas nama kasih yang telah melenceng

Maka agama pun diturunkan ke dunia sebagai neraca pasti
membawa ketegasan dan deretan pagar pembatas
ia hadir mengemban tugas sebagai dasar hukum
untuk memperbaiki peradaban yang mempermainkan makna cinta

Lalu di antara segala rantai yang mengatur nasib
selemah-lemahnya peradilan tak lain adalah karma
sebuah hukum usang yang bekerja tanpa ruh dan kebijaksanaan
terjadi begitu saja hanya karena kebetulan sebuah keadaan

Pada akhirnya
putaran sebab-akibat tak lebih dari bayangan fana
di atas segala aturan dan pusaran nasib yang kebetulan
cinta yang utuh tetap berdiri teguh di puncak hierarki
bukan sebagai takdir yang kebetulan
melainkan kebenaran yang mutlak


Makassar, 15/12/2013

AAB - Kepingan Nyata

Kepingan Nyata
By: Arif Agus Bege'h


Bisik jiwaku sering kau acuhkan
tiap celah kaujadikan cela
meskipun cinta yang kutawarkan
adalah kebenaran paling nyata

Percayalah sayang
kita harus mencari
kepingan rindu yang sempat layu
meski cinta itu bersembunyi
di hatiku yang kauanggap kelabu


Makassar, 03/011/2013

AAB - Renjana Di Pelupuk Mata


Renjana Di Pelupuk Mata
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah langit yang senyap
waktu membeku dalam dekap
setiap detik adalah kenangan
hujan abadi di pelupuk mata

Angin berbisik pada dahan yang luruh
membawa pesan yang tak sempat tersampaikan
tentang jejak kaki yang terkikis debu
dan suara-suara yang kini menjadi bisu

Kita adalah dua baris sajak yang tak selesai
tergantung di antara fajar dan senja yang usai
mencoba mengeja arti dari sebuah kehilangan
di tengah keramaian yang terasa sunyi

Biarlah rindu ini tetap tinggal
menjadi prasasti di dinding hati yang kekal
sebab meski raga tak lagi searah
mamamu tetap menjadi doa yang paling indah

Waktu membeku dalam dekap
di bawah langit yang tetap senyap



Makassar,  22/09/2013

Temukan puisi ini di Youtube Judul Renjana Di Pelupuk Mata


AAB - Elegi Sang Pelindung Sunyi



"Cinta yang paling tinggi sering kali menyamar dalam bentuk kerendahan hati. Terkadang, seseorang rela dianggap kalah atau bodoh, hanya agar orang yang dicintainya tidak perlu menanggung beban perasaan yang lebih berat."

Elegi Sang Pelindung Sunyi
By: Arif Agus Bege'h


Telah kukirimkan air mata melalui celah sempit di dadaku
saat hati yang kaku ini hanya mampu mengeja tanda-tanda kesedihan
sementara bahagia telah lebih dulu menjemput perih di palung jiwaku

Lihatlah langit itu, sayang
ia tetap benderang, secerah ketulusan yang kupunya
hanya saja
engkau belum mampu mengusir kabut di jiwamu sendiri
hingga badai keraguan datang silih berganti menghantammu

Akulah lelaki hujan
yang turun untuk mengguyur jiwa yang lelah melewati ujian
akulah air matamu
yang jatuh untuk membasuh derita di atas sisa bahagia
agar engkau paham cara menyambut tragedi cinta dengan tabah
meski di matamu
aku hanyalah lelaki tercela
seorang pecundang yang berdiri di atas apa yang kau sebut kebodohanmu

Mungkin kelak
saat kesadaran itu menyapa
aku tak ingin engkau terjebak dalam penyesalan yang sia-sia.
sebab bunga yang pernah kau tanam akan tetap abadi di sini
di dalam hatiku
ia takkan pernah berubah warna
pun takkan hilang aromanya

Maafkan lelaki pecundang ini
yang dengan egonya
selalu membiarkanmu merasa bodoh karena cinta


Masamba Sul-Sel, 04/08/2013