AAB - Tanpa Batas Finis

Tanpa Batas Finis
By: Arif Agus Bege'h


Lampu finis tak ada
ijazah bukan akhir
Ilmu itu napas
udara yang kautelan setiap hari

Gelar?
cuma halte singgah
pencarian tak usai
maka berjalannyalah dengan ikhlas
sampai batas usia


Makassar, 27/11/2018

AAB - Belati Fakta, Topeng Kebajikan


Belati Fakta, Topeng Kebajikan
By: Arif Agus Bege'h


​Atas nama fakta dan kebenaran
aib sesama ditiup ke udara
berdalih meluruskan perjalanan
padahal ego menari gembira
​Fitnah adalah dusta yang kelam
ghibah merobek senyap dan ngilu
bukan menghapus air mata dalam diam
tapi menguliti di panggung yang semu
​Maksiat takkan surut oleh gunjing
ketika lisan berubah jadi taring
membasuh lantai dengan air keruh
jiwa yang pongah takkan pernah basuh

​Takkan bersih jiwa yang pongah
saat daging saudara sendiri yang dikunyah...


Makassar Sul-Sel, 25/07/2018

AAB - Kedaulatan Tinta



Seorang penyair tidak pernah menulis untuk mematuhi pagar pembatas; ia menulis untuk menembusnya. Ketika sebuah tradisi atau komunitas menetapkan "pantangan," mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata Anda memiliki daya untuk mengguncang tatanan mereka.
Jangan pernah melihat larangan sebagai tembok yang menghentikan langkah, melainkan sebagai ujian atas kedalaman keyakinan Anda. Jika Anda berhenti menulis karena satu larangan, Anda bukan hanya tunduk pada mereka, tetapi Anda sedang mengkhianati suara batin yang menjadi sumber karya Anda. Tetaplah menulis, bukan untuk melawan mereka, melainkan untuk membuktikan bahwa kebenaran tidak memerlukan izin untuk diungkapkan.

Kedaulatan Tinta
By: Arif Agus Bege'h


Pagar kayu lapuk berdiri angkuh
menjaga mimpi di batas semu
ada pantangan yang coba membunuh
tapi pena ini tak sudi jemu

Mereka berkata: jangan menulis!
di luar garis jangan melangkah
namun di batin
suara berdengis
takkan biarkan jiwaku menyerah

Tantangan mereka adalah isyarat
akan besarnya kuasa kata-kata
mereka ketakutan di balik sekat
di hadapan beningnya air mata

Ini badai dari sumur puisi
menerjang dinding ketidaktahuan
meruntuhkan takut dengan amunisi
kejujuran nurani tanpa penundaan

Aku menulis
maka aku ada
tak butuh restu untuk berkreasi
biarkan tinta mengukir sabda
hingga runtuh pagar-pagar tradisi


Makassar, 05/02/2018

AAB - Rimba Di Atas Awan

Rimba Di Atas Awan
By: Arif Agus Bege'h


Membaca peta pada kerut di telapak tangan
saat komat-kamit doa kehilangan gemertak
tak lagi berhenti karena menyerah
kini jejakmu telah larut di jantung belantara
kabut tebal menertawakan raguku
akar-akar tua mencengkeram bumi
dan badai malam meruncingkan durinya

Seakan tersesat dalam pusaran vegetasi
namun nyata menyelimuti keheningan
menembus semak, menanti fajar datang
salahkan angin yang menerbangkan rindu
rindu langkah, rindu arah

Siapakah yang mampu menghentikanmu?
siapa pula yang memisahkanmu dari tebing curam?
apakah petualangan hanyalah pelarian
atau sejarah keteguhan sebuah ikatan?
dan aku takkan menyerah melukis jiwamu
di setiap jalur pendakian yang tak terlihat oleh mereka
sebab kau telah ditempa sebagai Pilar Tarantula

Langkah, beranjaklah
tapaki setiap nan terjal
dalam dinginnya sunyi yang harus kau taklukkan
hilangkan gentar pada pekatnya malam
malam yang tunduk oleh ketegaran puncaknya
sungguh dirimu menuntun arah
dan kau pun kuberi nama: Ksatria Rimba Belantara

Kompas
kau adalah penunjuk di kala buntu
meski kabut menghalangi pandangan mata
namun kalian adalah degup dada
tak terpisahkan oleh jurang 
bahkan oleh badai gunung sekalipun
dan kau pun kuberi nama: Cahaya Penjaga Setia

Sungguh perkasa dalam senyap dan nyata
meski pekat pada rimba
tajam pada tebing
namun kilau di puncak tak pernah berdusta
tak sanggupmu menembus dinding batu
meski asa membara
namun medan liar takluk di bawah sepatumu
semoga mereka bercermin padamu
sebagai lambang penjelajah terdahulu

Sampai kapan rute berakhir di ujung cakrawala?
hingga saat langkah dan kompas temukan puncaknya
pengembaraan berakhir dalam kehausan makna sejati
alam memberi tantangan
alam memberi jawaban
pulangmu pada pelukan rimba di atas awan


Makassar, 29/01/2018

AAB : Jejak Langkah Pilar Tarantula


Sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan nilai persaudaraan

Jejak Langkah Pilar Tarantula
By: Arif Agus Bege'h


Di bawah tajuk rimbun yang meraksasa
kami berdiri, menyatukan detak dan doa
bukan sekadar raga yang melangkah maju
namun jiwa yang terpanggil oleh sunyi yang menderu

Pilar Tarantula, begitulah kami menamakan diri
seperti kaki-kaki kokoh yang merayap di sela duri
tak gentar pada tebing yang menjulang angkuh
tak surut pada jalur yang membuat lutut mengeluh

Carrier di pundak adalah beban yang nikmat
menyimpan cerita tentang peluh dan tekad yang bulat
menembus kabut pagi yang membelai rona wajah
mencari makna di antara akar dan tanah yang basah

Saat senja mulai melukis jingga di ufuk barat
kami berbagi tawa di balik kepul asap kopi yang hangat
di sana, di ketinggian yang memisahkan kita dari bising kota
dunia terasa jujur, tanpa topeng maupun kasta

Pilar ini takkan goyah oleh badai yang menerjang
tarantula ini akan terus mendaki, terus berjuang.
karena bagi kami, puncak hanyalah sebuah bonus
namun perjalanan dan persaudaraan adalah yang abadi dan tulus

Menyusuri belantara, menjaga alam dengan cinta
kami pulang membawa rindu, untuk kembali menyapa semesta


Makassar, 29/01/2017

Pesan
:
"Alam tidak butuh penakluk; ia butuh penjaga yang berjalan dengan hati."