AAB - Alasan Bertahan


Di balik setiap lelah dan ketidakpastian yang kita hadapi dalam hidup, selalu ada alasan kuat yang membuat kita menolak untuk menyerah. Alasan itu sering kali mewujud pada senyuman orang-orang tercinta yang kita perjuangkan. Ketika arah dan masa depan tampak kabur seperti teka-teki, dan langkah kaki harus menembus derasnya hujan air mata, ingatlah bahwa ketulusan seorang pejuang tidak diukur dari seberapa mulus jalannya, melainkan dari keteguhan hatinya untuk terus melangkah demi mereka yang menjadi denyut nadinya.

Alasan Bertahan
(Putra Putriku)
By: Arif Agus Bege'h


Dua pasang mata menjadi jangkar
saat badai membuat arahku bertukar
mereka adalah denyut di dalam dada
alasan mutlak aku harus tetap ada

Cinta kini menjelma teka-teki
tak kupahami ke mana membawa kaki
arah dan tujuannya kabur di dalam kabut
namun genggaman ini tak akan luput

Meski hujan air mata menderas di langkahku,
membasahi jalanan yang penuh ragu
aku akan terus berjalan menembus sunyi
menepati sejuta harapan yang telah berjanji

Tak akan aku berhenti atau berbalik arah
meski letih merayap membujuk pasrah
sebab melangkah demi mereka adalah takdir
sebuah poros lurus yang tak akan berakhir

Hingga suatu saat di ujung masa nanti
ketika wujud cinta tak lagi kukenali
jejak hari-hariku akan menjadi saksi
mereka telah kuperjuangkan sepenuh hati


Bahodopi Sul-Teng, 09/09/2025

AAB - Runtuhnya Tirani


"Jangan pernah berharap pada perubahan jika kita masih memelihara pelaku yang sama. Sebab untuk membangun keadilan yang sejati, kita harus berani meruntuhkan tirani hingga ke akar-akarnya.

Runtuhnya Tirani
By: Arif Agus Bege'h


Sejarah tak pernah ditulis tenang
ia basah oleh peluh dan darah
sistem yang kokoh membatu
menjadi tirani yang menindas waktu

Wajah-wajah itu masih sama
menjaga takhta dalam sandiwara
mereka karang
kita arusnya
harus runtuh sampai ke akarnya

Tak ada guna menambal bejana
jika retak sudah di jiwa
perlawanan bukan lagi pilihan
melainkan jalan menuju pembebasan

Tuntas adalah harga mati
agar fajar tak lagi tersembunyi
runtuhkan yang lama dan busuk
bangun keadilan
meski harus menusuk.


Morowali Sul-Teng, 30/08/2025

AAB - Sang Pengemudi Waktu



"Jangan menyesali rute yang salah, karena setiap tikungan adalah guru bagi sang pengemudi. Kedewasaan bukanlah tentang ke mana kendaraan itu melaju, melainkan tentang seberapa tenang hati kita saat memegang kendali di tengah badai."

Sang Pengemudi Waktu
By: Arif Agus Bege'h


Tubuh ini hanyalah raga yang diam
namun kepribadian adalah ruh yang bergerak
ia sang pengemudi yang menempuh jalan
melewati terjalnya usia dan curamnya pengalaman

Kita tak pernah benar-benar sampai
karena setiap kilometer mengubah cara pandang
pengemudi hari ini bukan lagi diri yang dulu
ia telah ditempa oleh badai dan teduhnya senja

Tak perlu mencari kemiripan di jalanan
sebab setiap jiwa memiliki peta yang unik
biarkan dirimu melaju dengan caramu sendiri
karena keindahan perjalanan terletak pada kendali yang berani


Morowali Sul-Teng, 17/08/2025 

AAB - Fatamorgana Sebuah Batas

 


"Saat kita berkata 'kesabaran ada batasnya', sebenarnya kita sedang menutup pintu-pintu rezeki. Sebab rezeki mencari jiwa yang sanggup meluaskan cakrawala hati."

Fatamorgana Sebuah Batas
By: Arif Agus Bege'h


Sabar bukan bejana terbatas
bukan pula titik yang lekas tumpah
batas itu hanyalah fatamorgana
garis ego yang kita lukis sendiri

Saat kau sebut sabar berbatas
kau sedang mengunci pintu rezeki
sebab berkah enggan memeluk jiwa
yang berhenti di tepian lelah

Rezeki mencari hati yang luas
menunggu sabar yang tak bertepi
bukan untuk mereka yang menyerah
saat ujian datang menyapa diri

Kesabaran adalah perjalanan panjang
bukan pemberhentian yang semu
meluaslah melampaui logika sempit
agar semesta memberi jalan pulang

Jangan batasi sabarmu hari ini
karena setiap inci yang kau luaskan
adalah pintu berkah yang terbuka
membuka jalan bagi rezeki tak terduga


Batas Sulsel - Sulteng, 11/07/2025

AAB - Penyair Di Kolong Jembatan

Penyair Di Kolong Jembatan
By: Arif Agus Bege'h


Di sudut kedai yang riuh oleh mesin dan gawai
seorang lelaki menatap kalimat di kertas buram
dunia bergerak cepat memuja angka dan hitungan
mengejar segala yang lekas mendatangkan uang
ia tahu kata-katanya tak lagi punya harga

Dulu
sajak adalah api barisan perlawanan
peluru tak kasat mata di tengah ketidakadilan
kini, bait-bait itu menjelma pajangan bisu
dilewati orang yang bergegas mengejar setoran
"Woy, apa gunanya puisi jika tak mampu membeli beras, ha ha ha penyair goblog?"
begitulah anggapan mereka

Penyair kini terpojok di sudut zaman
diadili keadaan yang menuntut hasil nyata
mereka ditagih pertanggungjawaban yang jelas
berapa harga satu diksi untuk sesuap nasi?
pertanyaan itu menyumbat tenggorokan yang lapar

Jalanan tak butuh kertas berisi duka jelata
sebab kaum miskin sibuk mencari rupiah
buruh pabrik pulang dengan pundak yang remuk
tak ada waktu membaca kalimat
tentang nasib yang salah
sajak-sajak itu mengambang tanpa guna

Di ruang rapat
orang berdebat arti keindahan
di luar
penggusuran berjalan tanpa kasihan
puisi tak mampu menahan besi buldozer
pun tak bisa memberi makan kami di kolong jembatan
tinta mengalir kalah oleh kenyataan pahit

Mereka dituduh pemalas yang memelihara mimpi
hidup dalam kesedihan tanpa menghasilkan apapun
sumbangan mereka dinilai nol dalam hitungan uang
di mana setiap tenaga harus menjadi keuntungan
penyair itu asing di tanah kata-katanya sendiri

Namun di kolong jembatan yang kumuh dan pengap
penyair itu tetap menulis tanpa mengharap upah
ia bukan lagi pemimpin yang membawa perubahan
melainkan orang yang mencatat luka agar tak kehilangan jiwa
salah satu cara terbaik menjaga hati tetap hidup


Masamba Sul-Sel, 07/06/2025