• "Di tengah arus zaman yang menderu, tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan kompas bagi perjalanan kita. Puisi-puisi ini adalah napas yang menjaga agar akar bangsa tidak hanyut ditelan waktu."


    Menjaga Akar Di Tanah Zaman
    By: Arif Agus Bege'h


    Perjalanan panjang telah menempuh usia
    menyusuri zaman yang terus berubah rupa
    kita tidak menolak laju mesin dan baja
    namun bukan berarti melupakan jati diri yang terjaga

    Hujan turun membasuh debu-debu modernitas
    mengingatkan kita pada tanah yang punya identitas
    tradisi adalah tepian agar sungai tak meluap liar
    tempat akar berpijak agar jiwa tak pernah gusar

    Seringkali airmata jatuh melihat tatanan luntur
    tergerus ego yang angkuh dan kemajuan yang tak terukur
    namun kita masih di sini menenun benang yang tersisa
    menyimpan narasi leluhur di dalam dada yang setia

    Perubahan itu niscaya
    namun jangan sampai hanyut
    jika identitas hilang
    kita hanya akan menjadi pengembara kalut
    mencari rumah di tengah megahnya beton yang dingin
    kehilangan arah meski telah sampai ke puncak ingin

    Maka biarlah perjalanan ini menjadi bukti nyata
    bahwa inovasi dan warisan bisa berjalan seirama
    hujan dan waktu akan menguji seberapa kuat kita bertahan
    menjaga api tradisi tetap menyala di tengah kegelisahan

    Jangan biarkan airmata penyesalan menjadi penutup kisah
    karena membiarkan tradisi musnah adalah kekalahan yang parah
    jadilah perisai bagi bangsa yang tetap memegang teguh martabat
    agar anak cucu masih mengenali wajah negerinya yang keramat

    Kita adalah penjaga yang menolak untuk lupa
    menjadikan tradisi sebagai kompas di sepanjang masa


    Masamba Sul-Sel, 22/11/2023

    AAB - Menjaga Akar Di Tanah Zaman

    0

  • "Puisi ini adalah pengingat bagi siapa saja yang lupa akan posisinya. Tentang keberanian untuk tahu diri, menjaga batas, dan berhenti menjadi penghalang bagi jalan hidup orang lain. Selamat meresapi."


    Duri Di Jalan Orang

    By: Arif Agus Bege'h



    Keputusan terkunci

    pintu telah tertutup rapat

    tanpa suara kita

    tanpa perlu lagi mufakat

    tahu dirilah, saat diri tak lagi dibutuhkan

    jangan jadi duri yang sengaja menghambat jalan


    Perjalanan punya poros dan tupoksi sendiri

    tak perlu menyisip ego merusak alur yang rapi

    jika akal masih ada

    mestinya kau memahami

    bahwa menghalangi orang adalah nista yang hakiki


    Langit kelabu

    mengundang hujan jatuh ke bumi

    menyapu angkuh yang angkuh dan sisa-sisa benci

    biarkan mereka melaju tanpa hambatan tanganmu

    sebab menjadi manusia adalah tentang tahu malu


    Di ujung sesal

    akhirnya jatuhlah airmata

    tentang etika yang hilang di balik pintu nyata

    menyingkirlah dari jalur yang bukan hakmu

    sebab duri hanyalah sampah di tengah jalan ilmu


    Cukupkan langkah

    kembali pada porsi dirimu

    biarkan mereka tenang mengejar hari yang baru

    karena hidup adalah tentang menjaga tata

    bukan berkuasa dengan cara yang hina semata



    Masamba Sul-Sel, 13/11/2023

    AAB - Duri Di Jalan Orang

    0
  • Tanpa Penundaan
    By: Arif Agus Bege'h


    ​Seberapa keras pun napas dihela dalam perjuangan

    ketika garis takdir telah menjemput

    segala daya manusia akan menjadi sunyi


    Tidak ada pintu yang bisa menunda ajal

    tidak ada ruang untuk negosiasi dengan waktu


    ​Di ambang kepasrahan itu

    jangan biarkan imanmu retak hanya karena merasa terabaikan


    Jangan mencari kesalahan pada mereka yang tidak mengulurkan tangan

    sebab pada akhirnya

    semua akan kembali sendiri-sendiri

    ke hadapan-Nya.



    Jakarta, 20/10/2023

    AAB - Tanpa Penundaan

    0


  • "Seringkali kita merasa bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah milik kita sendiri. Namun, dalam hening yang panjang, saya menyadari bahwa jejak-jejak di depan kita bukanlah sekadar milik orang lain, melainkan guru yang membimbing agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Berikut adalah puisi tentang perjalanan, kerendahan hati, dan cermin dari langkah-langkah yang telah lalu."


    Cermin Di Jalan Setapak
    By: Arif Agus Bege'h


    Kita musafir yang tergesa mengejar fajar
    lupa bahwa debu yang kita injak
    adalah sisa perjalanan hujan dan airmata
    milik mereka yang lelah sebelum sampai

    Sesekali, langkah haruslah terhenti
    membaca sunyi pada kaki yang pincang
    menjadikan retakan di jalan orang lain
    sebagai peta agar kita tak tersesat
    sebab kesalahan adalah guru yang bisu
    ia berdiri di tikungan yang paling tak terduga
    menunggu kita mengulang langkah yang sama
    di atas jalan yang tampak rata namun rapuh

    Kerendahan hati adalah cara kita menatap
    menjadikan jejak mereka cermin yang jujur
    bahwa setiap luka yang telah mereka kecap
    adalah kompas bagi jiwa yang masih gamang

    Kini, berkacalah tanpa merasa lebih tinggi
    karena pada akhirnya
    kita hanya sedang pulang
    belajar dari luka yang telah usai
    agar tak perlu kita rengkuh kembali


    Mamuju Sul-Bar, 22/09/2023

    AAB - Cermin Di Jalan Setapak

    0


  • "Banyak orang mengira lantang berarti menang. Padahal, sering kali suara yang dilepas tanpa saring, justru menjadi bumerang yang menghujam dada sendiri. Sebelum kita berani bersuara keras di depan semesta, kita harus berani menaklukan ego di dalam jiwa. Inilah sebuah pengingat, tentang perjalanan, tentang hujan, dan airmata yang mendewasakan."

    Gema Lidah
    By: Arif Agus Bege'h


    Kutempa nyali di sepanjang perjalanan yang tak menentu
    menjaga api dalam dada agar tak membakar diriku sendiri
    sebab kata yang lahir dari amarah
    hanyalah pisau bermata dua
    yang siap berbalik menghujam jantung saat ia lepas dari mulutnya

    Langit meredup
    hujan menderas membasuh angkuh yang sisa
    membersihkan saringan nurani sebelum suara ini kupancangkan
    aku belajar menahan diri bukan karena takut pada dunia
    namun karena sadar
    memaki semesta hanya akan mengotori muka

    Di balik airmata yang pernah jatuh membeku di pipi
    aku memungut hikmah
    bahwa diam adalah benteng yang suci
    setiap kata yang tersaring adalah kehormatan yang kujaga
    agar tak ada lagi luka yang harus kubayar dengan nestapa

    Suaraku kini lantang mengguncang sunyi dengan ketegasan
    bukan untuk memantik api tapi untuk menuntaskan ego diri
    biarkan gema ini merambat menjadi saksi atas kemenangan
    bahwa menguasai lidah adalah kedaulatan jiwa yang tertinggi

    Tak perlu riuh rendah
    cukup pesan yang menghujam ke sukma
    sebab yang lantang bukan sekadar suara
    tapi jejak yang nyata


    Mamuju Sul-Bar, 18/08/2023

    AAB - Gema Lidah

    0
  •  
    Sajak ini saya tulis sebagai pengingat, sekaligus kritik tajam bagi mereka yang gemar menebar kata, namun takut memikul konsekuensinya. Inilah: 'Di Balik Topeng Kata'."


    Di Balik Topeng Kata
    By: Arif Agus Bege'h


    Di balik bayang-bayang kau sembunyikan nama
    merangkai diksi indah namun penuh dusta
    kau biarkan jemari menari tanpa raga
    tak berani menatap terang di depan mata

    Apa guna sajak jika tak berani diakui?
    hanya kepengecutan yang kau bungkus rapi
    menyebar racun pikiran di sunyinya sepi
    lalu berlari saat badai kritik menghampiri

    Penyair sejati memikul beban di pundaknya
    menuliskan kebenaran dengan harga nyawanya
    namun kau, hanya pengecut yang haus pujian saja
    berlindung di balik nama samaran yang sirna

    Tak ada kehormatan bagi kata tanpa pemilik
    hanya gema kosong yang membuat dunia tergelitik
    kau takut dianggap salah, takut terlihat pelik
    padahal karyamu hanyalah omong kosong yang picik

    Jika tulisannmu adalah kebenaran yang hakiki
    Mengapa perlu takut wajahmu dikenal nanti?
    Apakah kau sadar betapa menyesatkan ini?
    Membawa pembaca ke jalan yang tak kau yakini

    Jadilah manusia yang berani menanggung kata
    bukan bayang-bayang yang takut pada cahaya nyata
    tampilkan namamu, tunjukkanlah siapa sang pencipta
    agar karyamu tak sekadar sampah di tengah semesta

    Sajak ini bukan untuk memuji keindahan bahasamu
    tapi sebuah cermin bagi nyali yang mati dalam ragu
    sebab menulis bukan tentang sekadar memburu waktu
    tapi tentang tanggung jawab pada tiap bait yang kau restu


    Mamuju Sul-Bar, 07/07/2023

    Sajak Di Balik Topeng Kata

    0
  • "Kendalikan isi pikiranmu sebelum pikiran itu mengendalikan nasibmu. Pikiran yang kosong adalah lahan subur bagi benih kegelisahan, namun pikiran yang sibuk dengan kebaikan adalah benteng yang kokoh bagi jiwa."

    "Jangan biarkan ruang pikiranmu menjadi tempat persinggahan khayalan yang sia-sia; penuhilah ia dengan kebajikan, agar dirimu tak sempat merusak diri sendiri dengan keraguan."

    Menjaga Menara Pikiran
    By: Arif Agus Bege'h


    Di sepanjang perjalanan yang tak pernah usai
    pikiran sering kali tersesat di persimpangan sunyi
    di sana, hujan sering datang tanpa diundang
    membawa embun keraguan yang perlahan menjelma airmata

    Namun, aku belajar menata ruang di kepala
    mengisi setiap celah dengan benih kebajikan
    sebab pikiran yang sibuk dengan kebaikan
    takkan lagi memberi ruang bagi retak yang sia-sia

    Takkan ada lagi waktu untuk merusak diri
    saat jiwa sibuk membasuh letih dengan doa
    biarlah hujan menghapus jejak khayalan
    biarlah airmata menjadi saksi kejernihan
    dalam perjalanan panjang menjemput kedamaian

    Sebab diri yang teguh dalam kebaikan
    telah menutup pintu bagi kesia-siaan
    menjaga istana pikiran tetap benderang
    di balik awan yang mencoba menghalangi pandang


    Mamuju Sul-Bar, 29/06/2023


    AAB - Menjaga Menara Pikiran

    0
  • Dari sudut sunyi Sulawesi, dari seorang yang kerap disebut penyair kampung... inilah sebuah kesaksian tentang kata yang murni, melawan riuhnya sandiwara.
    Sebuah sajak: Dari Sudut Sunyi."

    Sajak Dari Sudut Sunyi
    By: Arif Agus Bege'h


    Di sini, di tanah Sulawesi yang memeluk sunyi
    Aku merajut bait dari basah tanah dan wangi bumi
    Tak perlu sepasang kaki mengitari seluruh pulau
    Jika setiap aksara mampu membuat jiwa terpukau.

    Aku hanyalah penyair kampung tanpa nama besar
    Menulis bukan demi tepuk tangan yang hingar-bingar
    Bagiku, puisi adalah helaan napas yang jujur
    Bukan komoditas yang digadaikan hingga lebur.

    Kulihat mereka di seberang, di panggung-panggung megah
    Bersolek kata, menanti undangan dengan wajah sumringah
    Saling memuji dalam lingkaran kecil yang fana
    Mengaku nasional, padahal hanya topeng belaka.

    Itulah para penyair konspirasi, lahir dari akting bersama
    Menciptakan ekosistem palsu demi sebuah nama
    Mereka mengurasi rasa lewat kedekatan relasi
    Bukan dari kedalaman kalbu yang suci.

    Mereka butuh lampu sorot untuk terlihat bersinar
    Mereka butuh podium untuk terdengar pintar
    Padahal karyanya hampa, kering tanpa jiwa
    Hanya akal-akalan komite yang penuh sandiwara.

    Sementara di sini, di sudut terpencil yang senyap
    Puisi lahir dari keringat dan air mata yang menyerap
    Dari jeritan angin malam dan rintik hujan yang nyata
    Tanpa distorsi industri, tanpa kepalsuan kata.

    Biar mereka sibuk berebut tahta dan panggung ber AC
    Aku tetap di sini, menjaga ketulusan yang murni
    Sebab puisi sejati tak butuh restu para elit
    Ia akan terbang bebas, menembus langit yang sempit.


    Mamuju Sul-Bar, 05/05/2023

    Sajak Dari Sudut Sunyi

    0
  •  

    "Kesuksesan memiliki banyak wajah dan jalan. Sajak ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik pencapaian yang kita raih, ada tanggung jawab besar yang menanti di depan sana, tentang asal-muasal harta dan ke mana ia kita labuhkan."

    Sajak Di Gerbang Perhitungan
    By: Arif Agus Bege'h


    Setiap napas adalah perjalanan yang tak pernah berhenti
    Ada yang menapaki karang tajam dengan peluh yang menetes ke bumi
    Ada yang melangkah di atas permadani, dibantu jemari sahabat dan keluarga
    Membawa harta warisan yang dipupuk dengan harapan para pendahulu yang mulia.

    Namun di ujung jalan, semua kaki akan berhenti pada satu garis tanya
    Tentang bekal apa yang dibawa, tentang untuk apa semua ini dipergunakan saja
    Harta hanyalah titipan yang akan diminta kembali pertanggungjawabannya
    Apakah ia menjadi ladang pahala, atau justru api yang membakar jiwa?

    Seringkali kita lupa saat puncak kesuksesan telah di tangan
    Bahwa di bawah sana, hujan sering membasahi mereka yang kehilangan
    Jika harta halal menjadi bekal, maka ia akan menjadi pelita di kegelapan
    Menjadi penenang hati, membawa kebahagiaan di hari kemudian.

    Tetapi celakalah jika kesuksesan dibungkus dengan cara yang nista
    Diselimuti dosa, disombongkan dengan harta yang bukan haknya
    Sebab setiap keping uang yang haram akan menjadi bara
    Yang akan membakar raga di akhirat, di tempat yang paling sengsara.

    Airmata yang jatuh karena takwa adalah mutiara di hadapan-Nya
    Namun airmata yang mengalir karena sombong hanyalah debu yang sia-sia
    Mari bersihkan hati dari penyakit-penyakit yang membusuk kan jiwa
    Agar perjalanan ini tidak berujung pada penyesalan yang tak ada akhirnya.

    Jangan biarkan riya’ menutupi mata dan meracuni pikiran
    Sebab dunia ini hanya persinggahan bagi setiap insan
    Peganglah erat kejujuran, karena itu adalah sebaik-baik jalan
    Menuju keridhoan yang menjadi tujuan akhir dari setiap penciptaan.

    Ya Rabb, jauhkan kami dari sifat-sifat yang merugikan
    Jauhkan hati ini dari kebencian dan kesombongan yang menjerumuskan
    Jadikanlah kesuksesan kami sebagai pintu keberkahan
    Dan bimbinglah kami pulang dengan damai dalam lindungan-Mu, Aamiin.


    Mamuju Sul-Bar, 04/04/2023

    Sajak Di Gerbang Perhitungan

    0
  • - Copyright © Aspulut - Powered by Blogger -