AAB - Kulit Ari


Hidup ini bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling mampu mendengar dan belajar. Kedewasaan dimulai ketika kita berhenti menyalahkan badai dan mulai belajar bagaimana cara merawat akar agar tetap membumi.

Kulit Ari
By: Arif Agus Bege'h



Kau sebut aku selembar kulit ari

entah kau tahu

atau sengaja menutup mata

saat jemarimu gemar mencubit dan mencakar

merayakan perih yang kau tanam di tubuhku


​Benar

aku hanya kulit ari di matamu

namun ingatlah

wahai Penguasa Kuku

tanpa kerapuhanku

senjatamu takkan pernah tumbuh


​Kini

catatlah pada ingatanmu yang fana

di balik kulit ari ini

sebilah senjata dan pena bersiaga

senjata yang siap memenggal angkuhmu

dan pena yang meracuni darahmu dengan tinta

kau akan mati dalam ketidakrelaan

tercekik dosa sebelum sempat mengeja kata ampun



Sukamaju Luwu Utara, 10/03/2012


AAB - Memancing Cinta

Memancing Cinta
By: Arif Agus Bege'h


Jangan pasang sembarang umpan
hatiku bukan palung dangkal
cintaku bukan lele murahan
yang melahap sembarang umpan


Masamba Sul-Sel, 01/01/2012

Puisi Di Jejak Kelahiranku

Bagiku moment menulis puisi sangat terpengaruh dari sebuah kejadian yang kualami sendiri, termasuk kejadian tragis yang menimpaku di malam tanggal 20 Movember 2011, mengalami kecelakaan yang tidak pernah kubayangkan itu bukanlah sebuah keinginan namun begitulah tragedi memberiku jalan sehingga inspirasi untuk menulis puisi tentang hari jadiku yang ke 31 harus aku posting tepat pada waktunya, panjang ceritanya jika aku paparkan kronologi kejadian yang menimpaku, lebih baik kita simak saja puisi tersebut dan langsung ke TKP

Puisi Di Jejak Kelahiranku
By: Arif Agus Bege'h

pada secarik malam yang gulita
lilin-lilinpun ditiup menyemarakkan hari yang dinanti
pada senja yang ranum kuukir harapan
adakah esok terang meraihku
ataukah hanya gulita pada lorong kehidupan
saat maut berada di tangan
sementara rindu berada di ujung hati

ini puisi di jejak kelahiranku
dimana aku berjuang menggapai tahun berikutnya
dengan menumpahkan darah, meneteskan airmata
jerit perih dan rintih mewakili rasa sakit
namun tak urung sebungkus rindu dan semangkuk cinta
akan menghapusnya dengan seketika

padaMu aku bersyukur
pada ujian sebagai bentuk cintaMu padaku
yang memberi kesempatan tuk merasakan airmata

inilah puisi di jejak kelahirnaku
saat kerinduan dan airmata
bertarung melawan sisa-sisa hitam kehidupanku
pada dosa yang belum tertebus
dan pada cinta yang menanti di sana


Masamba Luwu-Utara, 22/11/2011

AAB - Puisi Kurbanku


"Berkurban bukan hanya tentang apa yang kita sembelih hari ini, melainkan tentang apa yang berani kita lepaskan dari hati. Ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang paling kita cintai karena Allah, ketahuilah bahwa Dia tidak sedang membuat kita kehilangan, melainkan sedang mengosongkan ruang di hati kita untuk diisi dengan sesuatu yang jauh lebih mulia."
Kurbanku 
By: Arif Agus Bege'h


Tuhan
sampaikan pada Kekasih-Mu
ada seorang hamba yang sedang belajar arti menyembelih ego
aku telah berkurban karena-Mu
di batas paling ujung dari mampuku

​Kuyakin Engkau tidak pernah tebang pilih
sebab ujian-Mu adalah cara-Mu memeluk hamba
seperti Engkau menguji Ibrahim, Ismail, dan ketabahan ibundanya
kini, biarkan aku mengecap cawan ujian yang sama
yang perihnya masih mengalir di urat nadi

​Telah kukorbankan cinta, air mata, dan masa lalu
maka tumbuhkanlah di tanah yang gersang ini
cinta yang lebih suci
telah kuikhlaskan mereka yang pernah singgah dan menetap
maka gantilah dengan jiwa-jiwa yang menuntunku pulang pada-Mu

​Harta mana lagi yang paling berharga di dunia
selain rindu
cinta
dan manusia-manusia yang kita sayangi
hari ini
semuanya telah kuletakkan di atas altar keikhlasan

Terimalah kurbanku, Tuhan
biarkan seluruh kehilangan ini
menjelma saksi di hadapan-Mu kelak


Masamba Luwu Utara, 06/11/2011 atau 10 Dzul Hijjah 1432H

AAB - Menuai Mimpi


Menuai Mimpi
By: Arif Agus Bege'h


biarlah rinduku padamu malam ini mengganggu tidurku
menerawang jauh mencari arah dan tujuannya
mengarungi samudera khayal tak berkusudahan
mungkin hanya lelah kan memberiku kepastian
menghabiskan sisa malam yang berarti
demi hari esok yang mungkin cerah juga melelahkan

jika kita merasakan ada getar rindu
mestinya bisa menyambungkan harapanku dengan harapanmu
rindu ketemu rindu
cinta berbalas cinta
airmata disambut airmata
keluh dan kesah
hingga terdengar satu jawaban
aku menginginkanmu di sisiku

saat kuhampir saja lupa mengajakmu bermimpi
hadirlah dalam tiap untaian rindu yang belum ku ungkapkan padamu
mungkin esok, atau lupakan sajalah
jika engkaupun ikut lupa pada harapan kita
harapan yang selalu ingin menuai mimpi
dan hanya karena ada harapanlah kita bisa menuai mimpi

Masamba Luwu Utara,03/11/2011